Pospapua.com
Bersihkan kotoran dengan air bukan dengan tisu basah. (foto: istimewa)
Lifestyle

Lebih Baik Gunakan Air dan Sabun Daripada Tisu Basah

Oleh: Anisa Tri Kusuma |

Pospapua.com, Jakarta — Lebih baik menggunakan air dan sabun saat membersihkan sesuatu yang kotor seperti membersihkan debu atau kotoran yang menempel di bagian tubuh, daripada menggunakan tisu basah. Kalau air tidak menghasilkan  sampah, sebaliknya tisu basah yang sekali pakai itu meninggalkan sampah.

Apa saja dampak buruk yang ditimbulkan sampah tisu basah? berikut penjelasannya:

Sampah tisu basah bukanlah hal yang bisa kita pandang sepele. Pada 2014, Marine Conservation Society (MCS) memperkirakan terdapat 35 tisu basah di pantai inggris. Bahkan, menurut surat kabar The Guardian, pada tahun 2015 tisu basah menjadi musuh terbesar untuk lingkungan. Pada Februari 2016, banjir yang terjadi di Inggris disinyalir diakibatkan oleh fatberg atau tumpukan lemak yang berasal dari tumpukan tisu basah dan popok yang tertimbun di bawah jalan Oxford, Inggris.

Alasan di balik peristiwa itu karena beberapa tisu basah mengandung methylchloroisothiazolinone (MCI), yakni Senyawa kimia berupa pengawet dengan efek anti bakteri dan antijamur yang bisa keras pada kulit. Jika plastik membutuhkan waktu sekitar 30-40 tahun untuk terurai, (bahkan untuk beberapa jenis plastik bisa sampai 1.000 tahun). Maka dari itu, tisu basah dikategorikan sebagai sampah plastik sekali pakai karena sebagian besar tercipta dari serat sintetis.

Bahkan, beberapa merek tisu basah mengandung pengawet dan pewangi yang sebaiknya tidak bersentuhan dengan kulit manusia, terutama dari bayi dan anak kecil. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan kandungan yang ada di dalam tisu basah.

Reza Cordova dari Pusat Penelitian Oseanografi berpendapat, untuk mengurangi dampak buruk dari tisu basah, maka yang bisa diakukan adalah dengan mengurangi sumbernya. “Tisu basah memang menjadi pembersih yg baik, tapi sebenarnya yang lebih baik itu air dan sabun ya” ujar Reza.

Dalam hal ini, ia menyarankan untuk mulai mengurangi dulu penggunaan tisu basah, dan mengalakkan penggunaan handuk basah seperti zaman dahulu.

Mengingat dampak bahaya pada lingkungan, di beberapa tempat di Indonesia telah memberlakukan larangan penggunaan tisu basah. Salah satunya di pendakian Gunung Gede, Pangrango, Jawa Barat. Di sana, pemberlakuan larangan sudah dibrlakukan sejak tahun 2017. Alasan pemberlakuan tersebut karena setelah dikaji, sampah yang paling dominan di kawasan Gunung Gede adalah tisu basah dan botol plastik. Selain itu, di kawasan pendakian Gunung Semeru pemberlakuan larangan tersebut juga sudah diberlakukan.

Untuk mengatasi penggunaan tisu yang berlebihan, kita harus mulai menerapkan solusi praktis. Berikut adalah beberapa hal yang bisa dijadikan solusi dari penggunaan tisu basah.

Menggunakan Sapu Tangan

Penggunaan sapu tangan merupakan salah langkah praktis untuk mengurangi angka pemakaian tisu. Selain itu, sapu tangan bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama, tidak seperti tisu yang hanya bisa digunakan untuk sekali pakai.

Menggunakan Pengering Elektrik

Alat ini umumnya digunakan ditempat-tempat umum. Pengering Elektrik merupakan alat yang terdiri dari koil, fan dan switch elektrik, dan tidak memerlukan banyak perawatan. Anda cukup membayar pengeluarana untuk listrik yang digunakan. Rata-rata pengering elektrik memiliki daya tahan sampai 7 tahun.

Mari kita mulai menjaga lingkungan dengan mengurangi sampah plastik dan tisu yang memiliki dampak buruk bagi lingkungan. Semoga artikel ini bermanfaat. (*/Dry/nds)

Baca Juga:

Menanti Kembalinya Skuter Lambretta

hamim

Pendiri Band The Rollies Meninggal Dunia

hamim

Agnez Mo Raih Social Star Awards 2019

Fajar Subhan

Leave a Comment