Pospapua.com
Fukuda berharap teknologi ini bisa membantu penderita kanker dan kondisi medis lainnya yang menyebabkan rambut rontok. Foto: Exquis.ro
Tekno

Ilmuwan Jepang Temukan Metode Tumbuhkan Rambut dalam Hitungan Hari

Oleh: Anisa Tri Kusuma

Teknologi ini dapat membantu pasien kanker atau penyakit kronis lainnya yang menyebabkan ram­but rontok.

Pospapua.com, Jakarta — Rambut, ibarat mahkota bagi manu­sia, maka dari itu, banyak orang yang mendambakan memiliki ram­but yang indah dan lebat. Namun, seiring berjalannya waktu dn gaya hidup, perlahan banyak yang mengalami keron­tokan, dan akhirnya men­jadi botak. Maka tidaklah mengherankan jika banyak orang yang membeli obat penyubur dan penumbuh rambut.

Sayangnya, biasanya obat-obat tersebut memerlukan waktu yang tidak instan. Bagi banyak jutaan orang di seluruh dunia, rambut rontok menjadi problem yang tidak dapat dihindari seiring dengan umur yang sudah mulai tua.

Namun ba­nyak juga orang-orang berun­tung, yang se­per­tinya tidak pernah kehilangan banyak rambut hingga usia 70 atau 80-an.

Kerontokan rambut, umumnya dialami oleh pria. Pada sebagian besar pria umumnya, ke­rontokan terjadi ketika mulai berumur 40 atau 50-an. Bahkan sebagian ada yang lebih awal bagi, dimana bahkan sudah di­mulai semenjak umur 20-30 an.

Percobaan ini dilakukan kepada tikus. Foto: japantimes.co

Mengatasi hal ini, kini para ilmuwan Jepang telah mengembangkan cara untuk menumbuhkan folikel (kantong) rambut dengan rekor tercepat. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Biomaterials ini menggunakan dua jenis sel yang ditempatkan pada wadah silikon untuk menumbuhkan “bibit folikel rambut”. Bibit folikel rambut sendiri adalah sumber organ mungil yang tumbuh dan menopang rambut.

Penelitian yang dipimpin oleh Junji Fukuda dari Yokohama National University tersebut berhasil menumbuhkan 5.000 bibit folikel rambut. Angka tersebut cukup untuk mengisi kembali rambut seseorang.
“Klinik kecantikan saat ini sering kali menggunakan rambut dari area oksipital (bagian bela­kang kepala), lalu menanam­nya di bagian yang kehilangan ram­but. Ma­salahnya, cara itu tidak menyuburkan ram­but,” ujar Profesor Junji Fukuda dari Yokohama National University, ketua tim penelitian ini.

Mereka meneliti dua sel yang ditem­patkan di kontainer silikon untuk menum­buhkan “bakteri kantung rambut”, sumber dari or­ga­nisme kecil yang menum­buhkan dan mempertahankan rambut.

Fukuda dan timnya berhasil mem­bu­didayakan 5.000 bakteri dalam hitungan hari, cukup untuk menambah kembali jum­lah rambut. Metode ini dinilai lebih cepat dari teknik la­bo­ra­torium yang saat ini ada, yaitu 50 bakteri dalam sekali percobaan. Saat ini, Fukuda belum me­ngu­ji coba pada manusia hingga lima tahun ke depan, namun, mereka yakin teknik ini dapat dicoba. Fukuda berharap teknologi ini bisa membantu penderita kanker dan kondisi medis lainnya yang menyebabkan rambut rontok.

“Klinik kecantikan saat ini sering menggunakan rambut dari daerah oksipital (belakang kepala) dan menanamnya ke daerah frontal (depan) yang mengalami kerontokan. Masalahnya adalah hal ini tidak meningkatkan total volume rambut,” ungkap Fukuda. Dia juga menjelaskan obat rambut yang ada saat ini memang dapat mencegah rambut rontok.

Foto: folliclethought.com

Tapi menurut Fukuda, obat tersebut tidak serta merta menyelesaikan masalah. Meski yakin dengan hasil penelitiannya, Fukuda menyebut teknik ini mungkin baru tersedia dalam 10 tahun. Tak hanya membuat teknik penumbuh rambut ini, Fukuda dan timnya juga membongkar laporan yang menunjukkan bahwa kentang goreng McDonald dapat membantu penyembuhan kebotakan. Awal mula viralnya laporan tersebut adalah karena silikon yang digunakan dalam penelitiannya, yaitu dimethylpolysiloxane, dilaporkan digunakan oleh restoran cepat saji tersebut dalam minyak gorengnya. Padahal, mengonsumsi bahan tersebut sendiri tidak memberi manfaat apapun.

“Saya telah melihat komentar online yang menanyakan, ‘berapa banyak kentang goreng yang harus saya makan untuk menumbuhkan rambut saya?'” ujarnya. “Saya akan merasa tidak enak jika berpikir makan sesuatu akan dapat menumbuhkan rambut!” tegasnya.

Silikon yang digunakan dalam studi tersebut, yakni dimethyply­silo­xane, terdapat dalam minyak yang digunakan di makanan cepat saji. Tapi, menurut sang profesor, meng­konsumsinya tidak mem­bawa keun­tungan apa pun. (Kbb/INI-Network)

Baca Juga:

Ilmuwan Inggris Ciptakan Teknologi Fingerprint Pendeteksi Pengguna Narkoba

Syaiful

OnePlus 7 Pro Pamer Hasil Jepretan Tiga Kamera

hamim

Google Rilis Fitur Laporan Kecelakaan di Google Maps

hamim

Leave a Comment