Pospapua.com
Aparat keamanan berjaga-jaga di salah satu ruas jalan saat kerusuhan pecah di Wamena, Senin (23/9). (foto : istimewa)
Nasional

Wamena Masih Mencekam, 1.500 Warga Tidur di Kodim

Oleh : Achmad Syaiful |

Pospapua.com, Wamena – Sebanyak 1.500 warga mengungsi ke Markas Komando Distrik Militer (Kodim) 1702 Jayawijaya, pascakerusuhan di Kota Wamena, pada Senin (23/9). Mereka merasa tidak aman berada di rumah sendiri.

Komandan Kodim 1702 Jayawijaya, Letkol Inf Candra Diyanto saat dihubungi dari Jayapura, Senin malam, ribuan pengungsi ini dalam kondisi sehat. Mereka memilih mengungsi ke Kodim karena merasa tidak aman berada di rumah sendiri.

“Mereka mengamankan diri, mereka sehat saja. Mereka mau pulang takut karena situasi masih mencekam,” kata Candra.

Ribuan pengungsi ini, sambung Candra, telah ditampung pada tenda-tenda darurat di tanah lapangan sekitar Markas Kodim 1702 Jayawijaya. “Mereka ditampung di tanah lapang dengan mendirikan tenda-tenda darurat. Sementara tidak ada tempat, jadi kita gunakan tenda – tenda serbaguna,” terangnya.

Menurut Candra, para pengungsi memanfaatkan barang seadanya untuk digunakan sebagai alas tidur. Bahkan, banyak pengungsi yang tidur dengan beralaskan lantai, meskipun kondisi cuaca di Wamena sangat dingin.

“Alas tidur masing-masing seadanya, ada yang tidur di lantai. Cuaca dingin sekali di Wamena, tetapi mau bagaimana, mereka mau pulang takut. Mendingan tahan dulu sehari, dua hari,” ujarnya.

Bangunan di Kota Wamena dibakar dalam kerusuhan, pada Senin (23/9). (foto : istimewa)

Sejauh ini, Candra mengaku kesulitan bahan makanan untuk para pengungsi. Dia pun menyebut belum ada komunikasi dengan pihak maupun pemerintah untuk menyuplai bahan makanan untuk pengungsi.

“Makanan kita kesulitan, yang ada di Kodim, kita bikin dapur di lapangan. Sementara masak nasi dan mie instant untuk ganjal-ganja perut. Kita bantu beban warga,” katanya.

Candra mengklaim situasi sudah berangsur kondusif, namun pihaknya tetap bersiaga selama 24 jam untuk mengantisipasi demonstrasi susulan maupun serangan fajar pada esok hari. “Kami masih berjaga-jaga standby 24 jam, semua objek vital kita amankan,”  cetusnya.

Diberitakan sebelumnya, 16 nyawa warga sipil melayang dalam kerusuhan dan bentrok yang terjadi pada Senin (23/9).  Kerusuhan juga menimbulkan 65 warga mengalami luka-luka.

Kerusuhan diawali demonstrasi tolak rasisme ratusan pelajar yang digelar di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Senin (23/9). Demonstrasi itu berjalan anarkis, sejumlah bangunan dibakar, termasuk Kantor Bupati Jayawijaya. (Asi)

Baca Juga:

Jawa Timur Memasuki Puncak Kemarau

Syaiful

DPR Minta Aparat Sigap Beri Ketenangan Warga Papua

Syaiful

AILA : Muatan RUU P-KS Tak Sesuai Kepribadian Bangsa

Syaiful

Leave a Comment