Pospapua.com
Ustadz Abdul Somad (UAS). (foto: Istimewa)
Khazanah

UAS Dipersekusi Gara-Gara Ceramah, Komisi Dakwah MUI Sebut Mirip Hamka

Oleh: Ahmad ZR |

Pospapua.com, Jakarta – Dai kondang Ustaz Abdul Somad (UAS) dipersekusi dan protes gara-gara ceramahnya tahunan lalu yang tersebar di media sosial.  Pada sebuah ceramah keagamaan di kalangan sendiri (khusus muslim), UAS menjawab pernyataan salah satu jamaah mengenai simbol salib.

Anehnya, meski telah dijelaskan ceramah itu disampaikan dalam forum internal dan hanya berlaku untuk kalangan Islam, sebagian kalangan non muslim tetap saja memprotes. Salah satunya politikus Partai Nasdem Brigaldo Sinaga yang menuduh UAS intoleran.

Wakil Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ustaz Fahmi Salim menuturkan, apa yang dialami UAS kali ini hampir mirip dengan pengalaman yang pernah diutarakan Buya Hamka.

Hamka menceritakan persekusi yang dialami oleh KH SS Djam’an, ulama masyhur pada dekade 1960-an, saat memberikan pengajian di rumah salah satu warga. Kiai Djam’an menjelaskan tafsir firman Allah ayat 4-5 Surah al-Kahfi tentang makna tauhid yang murni dan menyesatkan paham trinitas.

Rupanya, kalangan nonmuslim ada yang menguping pengajian Kiai Djam’an ketika itu. Selepas pengajian, saat hendak pulang, Kiai Djam’an dikepung sekumpulan pemuda Kristen berbadan kekar dam sangar, sambil meneriakkan kalimat “Anda anti-Pancasila!”.

“Dan, kita disuruh toleransi. Toleransi dengan tafsiran bahwa kita jangan atau dilarang menerangkan akidah kita. Siapa yang berani menerangkan akidah kita, maka rumahnya bisa dikepung atau bisa diproses,” sindir Hamka, mencontohkan kejadian yang menimpa Kiai Djam’an.

Ustaz Fahmi Salim mengatakan, pada1960 Hamka pernah berkhutbah di Masjid Agung al-Azhar Jakarta bahwa di Indonesia saat ini Islam dalam bahaya, akibat wabah intoleransi dan tudingan anti-Pancasila oleh organ-organ Nasakom kepada partai Islam, ormas Islam, dan tokoh-tokoh ulama Islam. Rupanya, khutbah Hamka itu sampai juga ke telinga Soekarno, presiden dan pemimpin besar revolusi yang ditabalkan oleh Nasakom.

Soekarno lalu bereaksi dan menyatakan dalam sambutan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Istana Negara, Jakarta, bahwa ada orang yang mengatakan Islam dalam bahaya di republik ini, sebenarnya orang yang berkata itu sendirilah yang sekarang dalam bahaya. Tak lama kemudian, pada 1964, Hamka ditangkap dan dijebloskan ke penjara oleh rezim Nasakom dengan tuduhan hendak menggulingkan pemerintah, berencana membunuh presiden dan menteri agama, dan kontrarevolusi.

“Rupanya, kata-kata bapak presiden itu adalah isyarat bahwa Hamka sudah diincar dan jadi target persekusi dan kriminalisasi ulama di era kejayaan komunis di bawah naungan rezim Nasakom,” ujar Ustaz Fahmi Salim kepada Indonesia Inside di Jakarta, Ahad (18/8).

Kini, kata dia, tampaknya sejarah kembali berulang. Tidak sedikit pihak yang mengkhawatirkan Islam dalam bahaya. “Sehingga tak berlebihan jika ada yang memanjatkan doa munajat seperti doa Rasulullah Muhammad SAW di Perang Badar,” ujarnya. (AIJ/Asi)

Baca Juga:

Masjid Dian Al Mahri, Satu dari 4 Masjid Kubah Emas di Asean

hamim

Menggapai Shalat Khusyu Lewat “Jalan Cinta Para Mualaf”

hamim

Belajar Dari Muslimah, Mendidik 3 Putranya Tuna Netra

Firman

Leave a Comment