POSPAPUA

Ikuti perkembangan terkini Indonesia di lapangan dengan berita berbasis fakta PosPapusa, cuplikan video eksklusif, foto, dan peta terbaru.

Indonesia mempromosikan literasi digital untuk meningkatkan ekonomi digital - OpenGov Asia

Indonesia mempromosikan literasi digital untuk meningkatkan ekonomi digital – OpenGov Asia

Pemerataan literasi digital dapat mendorong produktivitas dan inovasi di berbagai industri, khususnya ekonomi digital. Menurut juru bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika, pengembangan sumber daya manusia yang mampu menggunakan Internet untuk meningkatkan produktivitas dan inovasi, terutama di sektor ekonomi digital, sangat penting. Selain itu, ia menyoroti sebuah studi yang menemukan bahwa ekonomi digital Indonesia tumbuh sebesar 11% antara 2019 dan 2020. Pada 2024, angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi 124 miliar dolar AS.

Juru bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika mengatakan: “Kementerian Komunikasi dan Informatika meyakini melalui literasi digital, jumlah UMKM yang berada di ekosistem digital akan terus meningkat, dari angka 12 juta UMKM saat ini.” Sejauh ini, pada kesempatan terpisah, ia telah berbicara secara rinci tentang tiga bidang utama fokus pemerintah Menanggapi pesatnya perkembangan ekonomi digital saat ini dan di tahun-tahun mendatang.

Literasi digital berperan penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang dapat memanfaatkan internet untuk mendorong produktivitas dan inovasi, khususnya di sektor ekonomi digital.

– Kementerian Komunikasi dan Informatika

Pada awalnya, sektor ekonomi digital memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi penggerak utama perekonomian Indonesia di masa pandemi. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor informasi dan komunikasi yang terkait langsung dengan ekonomi digital tumbuh sekitar 10,58% YoY.

Apalagi, ekonomi digital diperkirakan akan bernilai 1.700 triliun rupee pada 2025. Internet, kecerdasan buatan (AI) dan platform e-commerce adalah tiga komponen aktif ekonomi digital. Hampir 81% UMKM Indonesia belum mengenal ruang digital untuk meningkatkan kesempatan kerja.

OpenGov melaporkan dalam sebuah artikel bahwa selama empat tahun ke depan, Indonesia diharapkan untuk memimpin kawasan Asia Pasifik dalam pengeluaran TI, didukung oleh pergeseran kuat ke layanan terkait cloud karena pandemi Covid-19 mendorong perusahaan lokal untuk mendigitalkan operasi mereka. Menurut sebuah laporan oleh perusahaan konsultan bisnis dan teknologi, pengeluaran negara untuk teknologi informasi diperkirakan akan tumbuh pada tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 13% selama beberapa tahun ke depan, sehingga nilai sektor ini menjadi US$6 miliar pada tahun 2024.

READ  Ekonomi Asia Tenggara tampaknya kewalahan lebih dari yang terlihat

Pandemi Covid-19 telah meningkatkan permintaan layanan cloud di Indonesia, karena pembatasan mobilitas telah memaksa perusahaan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja jarak jauh dan melayani permintaan yang meningkat secara online. “Indonesia adalah pasar TI yang tumbuh paling cepat di kawasan Asia-Pasifik, Jepang dan China,” kata seorang kepala perusahaan teknologi.

Kemampuan UMKM untuk mendigitalkan dapat membantu mereka lebih tangguh dalam menghadapi pandemi apa pun. Hal ini didukung oleh peningkatan pengiriman merchandise sebesar 35% terkait penjualan online pada tahun 2021.

Tahun ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika menargetkan 12,5 juta peserta pengembangan keterampilan digital dasar melalui Gerakan Nasional Literasi Elektronik Digital (GNLD Siberkreasi), 100.000 peserta penanaman keterampilan digital tingkat menengah. Melalui Digital Talent Scholarship (DTS), dan 300 peserta mentransfer keterampilan digital lanjutan melalui Digital Talent Scholarship (DTS) (DLA).

Gerakan literasi digital nasional bertujuan untuk mempelajari dinamika era digital, yang diperlukan masyarakat untuk memahami penggunaan era digital yang benar dan optimal.

Kolaborasi antara Kementerian Komunikasi dan Informatika, Pemerintah Daerah, Gerakan Nasional Literasi Elektronik Kreatif dan 110 lembaga dan organisasi masyarakat telah menghasilkan hingga 20.000 kegiatan mempromosikan empat pilar kurikulum dan Unit Literasi Digital.

Pada 2024, GNLD Siberkreasi diharapkan dapat mencakup 50 juta peserta, 700.000 peserta DTS, dan 1.200 peserta DLA. Ia kemudian mencatat bahwa “program ini menjadi katalisator sejalan dengan arahan presiden mengenai persiapan kebutuhan sembilan juta sumber daya manusia digital selama 15 tahun ke depan untuk mendukung transformasi digital Indonesia.”