Di tengah ancaman musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang tahun ini, para petani di sejumlah daerah Indonesia mulai mempercepat jadwal tanam padi demi menjaga hasil panen dan ketahanan pangan nasional. Langkah ini dilakukan menyusul meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak fenomena El Nino yang diprediksi lebih kuat dibanding biasanya.
Di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, petani bernama Teguh Basuki memilih memulai musim tanam lebih awal dari jadwal normal. Di bawah langit pagi yang berkabut, pria berusia 51 tahun itu sibuk mengolah sawahnya yang membentang sekitar lima hektare untuk menopang kebutuhan keluarganya.
“Bertani itu soal beradaptasi dan mencari solusi. Mudah-mudahan berhasil,” ujar Teguh saat bekerja di sawahnya.
El Nino Mengancam Produksi Pangan Nasional
Fenomena El Nino dikenal membawa cuaca panas dan kering ke wilayah Asia, termasuk Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, dampaknya dinilai semakin parah akibat perubahan iklim global yang membuat pola cuaca menjadi lebih ekstrem dan sulit diprediksi.
Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi tantangan serius karena beras masih menjadi makanan pokok utama masyarakat. Stabilitas produksi padi sangat bergantung pada pola hujan dan ketersediaan air irigasi.
Di daerah seperti Cirebon, siklus musim selama ini menjadi acuan utama petani dalam menentukan waktu tanam dan panen. Namun menurut Teguh, pola tersebut kini semakin sulit ditebak.
“Kami hidup dari pertanian, jadi harus bisa menyesuaikan diri,” katanya.
Ia menambahkan bahwa ancaman El Nino tidak akan membuatnya berhenti menanam padi, meski fenomena cuaca tersebut diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat dalam beberapa tahun terakhir.
Pemerintah Dorong Percepatan Tanam dan Optimalisasi Irigasi
Pemerintah Indonesia mulai mengambil langkah antisipasi untuk mengurangi risiko penurunan produksi pangan. Menteri Pertanian Amran Sulaiman meminta pemerintah daerah mempercepat masa tanam padi di wilayah rawan kekeringan selama sumber air masih tersedia.
Selain itu, petani juga didorong memanfaatkan jaringan irigasi secara maksimal dan menggunakan benih padi tahan kekeringan.
Dalam paparan Kementerian Pertanian, petani diminta segera kembali menanam dua minggu setelah panen. Kebijakan ini memperpendek jeda tanam yang biasanya mencapai sekitar 25 hari untuk persiapan lahan.
“Kami meminta gubernur, wali kota, bupati, dan seluruh jajaran membantu optimalisasi jaringan irigasi dan percepatan tanam di sawah,” kata pejabat Kementerian Pertanian Muhammad Agung Sunusi dalam sebuah rapat.
Musim Kemarau Diprediksi Lebih Panjang
Badan meteorologi Indonesia memperkirakan musim kemarau tahun ini berlangsung lebih lama dibanding biasanya. Umumnya, musim kering di Indonesia terjadi dari Mei hingga Agustus, namun tahun ini kondisi diperkirakan meluas hingga beberapa bulan berikutnya.
Data cuaca menunjukkan banyak wilayah di Pulau Jawa dan sejumlah daerah lain tidak mengalami hujan selama lebih dari 10 hari. Curah hujan pada Juni juga diperkirakan berada pada tingkat rendah hingga menengah.
Kondisi tersebut mulai memengaruhi luas area tanam. Badan statistik Indonesia memperkirakan produksi beras pada periode Januari hingga Juli turun sekitar 0,35 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sebagian Petani Memilih Tidak Menanam Padi
Tidak semua petani memilih mempercepat tanam padi. Petani lain di Cirebon, Misti, justru mempertimbangkan untuk tidak menanam padi pada musim panen ketiga tahun ini.
Pria berusia 62 tahun itu mengatakan cuaca panas membuat banyak petani khawatir tanaman padi gagal bertahan hingga masa panen. Sebagai alternatif, ia mempertimbangkan menanam kacang hijau yang dinilai lebih tahan terhadap kondisi kering, meski keuntungan ekonominya lebih kecil dibanding padi.
“Cuacanya terlalu panas, dan petani khawatir tanaman padi tidak bisa sampai panen,” ujar Misti.
Adaptasi Jadi Kunci Menghadapi Perubahan Iklim
Perubahan pola cuaca kini memaksa petani Indonesia untuk terus beradaptasi. Percepatan musim tanam, penggunaan benih tahan kekeringan, hingga pergantian jenis tanaman menjadi strategi yang mulai diterapkan di berbagai daerah.
Di tengah ancaman El Nino dan perubahan iklim global, keberhasilan menjaga produksi pangan nasional akan sangat bergantung pada kesiapan petani dan dukungan pemerintah dalam memastikan pasokan air, irigasi, serta teknologi pertanian tetap tersedia.

“Incredibly charming gamer. Web guru. TV scholar. Food addict. Avid social media ninja. Pioneer of hardcore music.”

More Stories
Kerentanan Kritis Next.js Buka Celah Pencurian Kredensial Cloud dan Akses Panel Admin
Reformasi PBB dan Peran Indonesia: Dorongan untuk Dampak Nyata di Lapangan
Presiden Prabowo Tegaskan Program Makan Bergizi Gratis Tetap Berlanjut di Tengah Penyesuaian Fiskal