Ketidakpastian geopolitik global dan gejolak pasar energi mendorong negara-negara industri mencari mitra baru yang lebih stabil. Dalam konteks ini, Indonesia dinilai berpotensi menjadi penopang strategis bagi ketahanan energi dan pasokan mineral kritis Korea Selatan, seiring penguatan hubungan bilateral kedua negara.
Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menilai hubungan Indonesia–Korea Selatan perlu diarahkan ke kemitraan industri jangka panjang, bukan sekadar kesepakatan jangka pendek. Hal ini disampaikan usai mendampingi kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Seoul pekan lalu.
Fokus pada Kemitraan Strategis Jangka Panjang
Bakrie menekankan bahwa pertemuan tingkat tinggi kedua negara telah menghasilkan agenda yang lebih konkret dan aplikatif bagi sektor swasta.
Agenda Luas dari Perdagangan hingga AI
Menurutnya, kerja sama mencakup berbagai sektor penting seperti perdagangan, investasi, pertahanan, kecerdasan buatan (AI), infrastruktur, galangan kapal, energi nuklir, hingga transisi energi.
“Dari sudut pandang bisnis, nilai utama pertemuan ini adalah agendanya yang praktis dan memberikan arah yang jelas bagi sektor swasta,” ujarnya dalam wawancara tertulis.
Energi dan Gas Jadi Prioritas Utama
Di tengah ketegangan global, termasuk konflik di Timur Tengah yang berdampak pada rantai pasok energi, Indonesia dipandang dapat berperan dalam menjaga stabilitas pasokan energi Korea Selatan.
Potensi Blok Gas Lepas Pantai
Indonesia memiliki potensi besar pada sektor hulu energi, khususnya gas alam. Salah satu contohnya adalah blok lepas pantai Binaiya dan Serpang yang diperkirakan menyimpan hingga 15 triliun kaki kubik gas. Proyek ini melibatkan konsorsium SK Earthon yang telah memperoleh hak eksplorasi.
Namun, Bakrie menegaskan bahwa kerja sama tidak boleh berhenti pada sektor energi fosil semata.
Mineral Kritis dan Hilirisasi Jadi Kunci
Selain energi, Indonesia juga memiliki kekuatan pada mineral kritis seperti nikel yang menjadi bahan utama baterai kendaraan listrik.
Model Kemitraan Terintegrasi
Bakrie mendorong model kerja sama yang mencakup seluruh rantai nilai—mulai dari eksplorasi, pengolahan, logistik, hingga industri hilir yang lebih ramah lingkungan.
“Pendekatan terbaik bukan pembelian jangka pendek, melainkan kemitraan jangka panjang yang terintegrasi,” ujarnya.
Model ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu jalur pasokan atau risiko geopolitik tertentu.
Sinergi Ekonomi Indonesia–Korea Selatan
Hubungan kedua negara sebenarnya telah memiliki fondasi kuat, dengan nilai perdagangan bilateral melampaui 20 miliar dolar AS serta ribuan perusahaan Korea yang beroperasi di Indonesia.
Kombinasi Teknologi dan Sumber Daya
Bakrie menyebut adanya sinergi yang jelas: Korea Selatan unggul dalam teknologi, modal, dan disiplin industri, sementara Indonesia menawarkan sumber daya alam, pasar besar, dan agenda hilirisasi.
Jika hambatan implementasi dapat diatasi, kerja sama ini diproyeksikan berkembang di sektor kendaraan listrik (EV), baterai, baja, petrokimia, energi bersih, hingga industri digital.
Tantangan Implementasi dan IK-CEPA
Meski kerangka kerja sama telah tersedia melalui Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement, implementasi masih menjadi tantangan utama.
Hingga 2026, baru dua dari 25 proposal kerja sama yang disetujui dalam kerangka tersebut.
Dorongan untuk Produksi dan Transfer Teknologi
Bakrie menekankan pentingnya mempercepat realisasi proyek di sektor strategis seperti semikonduktor, kendaraan listrik, teknologi, infrastruktur, dan manufaktur.
Ia juga mendorong agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga basis produksi untuk kawasan ASEAN, termasuk pengembangan pemasok lokal dan peningkatan keterampilan tenaga kerja.
Peran AI dalam Transformasi Industri
Selain sektor tradisional, kecerdasan buatan dinilai akan menjadi penggerak utama transformasi industri kedua negara.
Korea Selatan memiliki keunggulan dalam semikonduktor, infrastruktur digital, dan otomasi pabrik, sementara Indonesia memiliki skala pasar dan kebutuhan aplikasi nyata di berbagai sektor ekonomi.
“Kolaborasi ini dapat menciptakan mesin pertumbuhan baru, dan Indonesia harus menjadi salah satu platform utamanya,” kata Bakrie.
Penutup
Penguatan kemitraan Indonesia dan Korea Selatan mencerminkan pergeseran menuju kerja sama ekonomi yang lebih strategis dan berkelanjutan. Dengan kombinasi sumber daya, teknologi, dan pasar, kedua negara berpeluang membangun ekosistem industri yang lebih tangguh di tengah dinamika global yang tidak menentu.

“Incredibly charming gamer. Web guru. TV scholar. Food addict. Avid social media ninja. Pioneer of hardcore music.”

More Stories
Indonesia Resmikan Pabrik Pengolahan Ikan di Bintan untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Kementerian: Kerja sama dan inovasi menjadi kunci pengembangan industri game
Indonesia mendorong kerja sama di bidang ekonomi dan iklim pada G20 di Brazil