Pospapua.com
Ilustrasi. Foto: Infopena
Ekonomi

BI Ungkap 4 Virus Pendorong Depresiasi Rupiah

Oleh: Andryanto S |

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan 4 ‘virus’ pendorong depresiasi rupiah yang terus melemah menembus level Rp 14.215/US$. Mayoritas virus tersebut masih berasal dari faktor eksternal.

Pospapua.com, Jakarta — Dalam hitungan satu minggu terakhir, posisi nilai tukar rupiah terus melemah ke level Rp14.215/US$ pada perdagangan pasar spot Jumat (8/3) pagi. Posisi rupiah terhadap dolar AS itu tercatat melemah 0,5% dibandingkan penutupan pada Rabu (6/3) yakni Rp14.142/US$.

Merespons hal itu, Gubernur BI Perry Warjiyo menilai ada sedikitnya empat faktor sentimen negatif (virus) yang menyebabkan pelemahan rupiah. Dan keempat faktor itu berasal dari eksternal sehingga sulit dikendalikan.

Faktor pertama datang dari perbaikan kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS). Sebagai informasi, sepanjang 2018 kemarin ekonomi AS berhasil tumbuh 2,9% sepanjang 2018. Pertumbuhan tersebut merupakan yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Virus kedua datang dari pelambatan ekonomi Uni Eropa. Sebelumnya, Gubernur Bank Sentral Eropa Mario Draghi mengatakan pertumbuhan ekonomi zona Eropa tahun ini hanya akan tumbuh 1,1%, lebih rendah dari perkiraan Desember 2018 sebesar 1,7%.

Virus ketiga terkait harga minyak dunia yang kian merangkak naik setelah AS menjatuhkan sanksi kepada Venezuela. Sementara virus keempat terkait kondisi geopolitik yang masih belum jelas, terutama masalah negosiasi denuklirisasi antara AS dan Korea Utara hingga Inggris dan Uni Eropa yang mencari jalan keluar agar Inggris bisa dengan damai mundur dari Uni Eropa.

“Empat faktor ini menyebabkan tekanan mata uang di berbagai belahan dunia sebab faktor global, termasuk dalam beberapa hari ini, menekan rupiah,” kata Perry di Jakarta, Jumat (8/3).

Bos BI itu membantah pelemahan rupiah disebabkan karena sentimen domestik. Menurutnya data makroekonomi Indonesia justru cukup menjanjikan. Indeks Harga Konsumen (IHK) Februari, contohnya, mengalami deflasi 0,08 persen.

Kemudian, BI juga melansir kenaikan cadangan devisa dari US$120,1 miliar di Januari menjadi US$123,3 miliar bulan kemarin. “Bagaimana BI menyikapi ini, tentu saja kami akan terus berada di pasar. Kami lihat mekanisme pasar supply dan demand terus berjalan baik dan terus kami pantau pasar. Selain itu, kami komitmen akan jaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamental,” ungkapnya. (*/Dry/INI-Network)

Baca Juga:

Utang Luar Negeri RI Naik 7,2% Jadi Rp 5.404 Triliun

Fajar Subhan

Kepentingan Pasien BPJS Kesehatan Harus Diutamakan

Firman

Rizal Ramli: Paparan Jokowi Makin Jauh dari Kedaulatan Pangan

hamim

Leave a Comment