POSPAPUA

Ikuti perkembangan terkini Indonesia di lapangan dengan berita berbasis fakta PosPapusa, cuplikan video eksklusif, foto, dan peta terbaru.

Trajektori perekonomian Indonesia semakin menuju ke arah negara maju

Trajektori perekonomian Indonesia semakin menuju ke arah negara maju

Berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik pada Senin (5/2/2024), perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,05 persen setiap tahunnya pada tahun 2023. Capaian tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun 2022 yang mencapai 5,31 persen dan tercatat lebih tinggi. . Sebuah rekor tertinggi sejak tahun 2014. Artinya, pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat seiring mendekati jendela akselerasi.

Sepanjang tahun 2023, perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan kurang dari 5 persen pada kuartal ketiga. Saat itu, pertumbuhan ekonomi tidak melebihi 4,94 persen per tahun akibat tekanan kondisi perekonomian global dan perlambatan perdagangan global, serta fenomena El Niño di dalam negeri.

Baca juga: Perekonomian RI tumbuh 5,05 persen, lebih rendah dibandingkan tahun 2022

Setidaknya dalam 11 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mampu mencapai level 5 persen. Hal ini ditambah dengan “perlambatan” pertumbuhan selama Covid-19 pada tahun 2020 dan 2021. Titik tertinggi pertumbuhan ekonomi yang dicapai pada periode tersebut adalah sebesar 5,78 persen pada tahun 2013.

Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Indonesia mengalami tren pertumbuhan ekonomi di level 6 persen. Hal ini terjadi pada tahun 2007 (6,3 persen), 2008 (6 persen), 2010 (6,2 persen), 2011 (6,2 persen), dan 2012 (6 persen).

Booming komoditas

Namun pertumbuhan ekonomi pada jalur 6% lebih bergantung pada periode boom harga komoditas (Booming komoditas) yang mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagai salah satu eksportir barang utama dunia. Apalagi mulai tahun 2013, laju pertumbuhan ekonomi melambat menjadi 5%. Sampai tahun 2023!

Namun Indonesia mempunyai tujuan atau “ambisi” untuk menjadi negara maju pada usianya yang keseratus pada tahun 2045. Untuk mencapai titik tersebut, rentang waktunya semakin pendek. Sebab, setidaknya pada tahun 2025, Indonesia harus mampu mengangkat pertumbuhan ekonominya minimal 6-7 persen.

Namun pertumbuhan ekonomi pada jalur 6% lebih bergantung pada periode boom harga komoditas (Booming komoditas) yang mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagai salah satu eksportir komoditas utama dunia.

Perekonomian Indonesia akan melambat pada tahun 2023 dibandingkan tahun 2022 akibat perlambatan perekonomian global dan rendahnya harga barang-barang ekspor unggulan, jelas Amalia Adiningar Widyasanti, Pj Kepala BPS. Sementara itu, di tingkat daerah, fenomena El Niño yang muncul pada pertengahan tahun 2023 semakin memperburuk kinerja perekonomian.

READ  Crowdfunding Capital: Retorika yang tidak biasa di Indonesia menimbulkan alis | Bisnis dan Ekonomi

Namun, dia tidak melihat perlambatan tersebut sebagai hal yang perlu dikhawatirkan. Sebab, situasi perekonomian global saat ini juga sedang kurang baik. “Di tengah perlambatan perekonomian global, masih mampu tumbuhnya perekonomian Indonesia sebesar 5,05 persen merupakan sebuah prestasi karena perekonomian kita masih bisa tetap kokoh,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.

Deretan kawasan pemukiman di kawasan Balikpapan Tengah, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (1/1/2024).  Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Kalimantan Timur akan tumbuh sebesar 5,8 hingga 6,6 persen pada akhir tahun 2023 secara year-on-year (y-o-y).
Kompas/Fakhri Fazlur Rahman

Deretan kawasan pemukiman di kawasan Balikpapan Tengah, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (1/1/2024). Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Kalimantan Timur akan tumbuh sebesar 5,8 hingga 6,6 persen pada akhir tahun 2023 secara year-on-year (y-o-y).

Sumber pertumbuhan baru

Peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Teoko Rivki, memperkirakan pertumbuhan ekonomi yang stagnan, bahkan mencapai level terendah dalam delapan kuartal terakhir pada kuartal III 2023, menjadi red flag yang bisa menjauhkan Indonesia dari krisis ekonomi global. tujuannya menjadi negara maju.

Indonesia, lanjut Rivke, belum menemukan sumber pertumbuhan baru yang lebih stabil dan solid. Hal ini membuat perekonomian Indonesia rentan dan mudah berfluktuasi sesuai siklus bisnis dan peristiwa musiman.

Rivki melanjutkan, Indonesia belum menemukan sumber pertumbuhan baru yang lebih stabil dan solid.

“Dalam beberapa tahun terakhir, kinerja perekonomian kita cenderung bergantung pada siklus bisnis, dimana perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan yang tinggi hanya pada saat harga komoditas global tinggi atau pada saat peristiwa musiman tertentu. Ini merupakan peringatan bahwa kita belum memiliki sumber daya yang memadai pertumbuhan ekonomi,” kata Rivki. “Stabil.”

Tingginya ketergantungan Indonesia terhadap perubahan siklus ekonomi global terlihat pada tahun 2022 misalnya. Ketika terjadi kenaikan harga komoditas, perekonomian Indonesia bisa tumbuh hingga 5,31 persen. Namun, ketika siklus kenaikan harga komoditas berakhir, pertumbuhan ekonomi akan turun menjadi 5,05% pada tahun 2023.

READ  Ekonomi Biru dan Transformasi Pembangunan Berkelanjutan Indonesia

https://cdn-assetd.kompas.id/xb1hLGSRyjVAmA7LIs7GXWpBkeg=/1024x810/https%3A%2F%2F aset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2023%2F08%2F08%2Fc7e5fdba-ce8b-4bc7-8fdd-47c9 94ea9 e1e_png .png

Strategi manufaktur

Menurut Rivki, perekonomian Indonesia sangat bergantung pada faktor musiman, seperti masa libur dan libur panjang yang dapat mendongkrak konsumsi rumah tangga dan menopang perekonomian daerah. Hal ini terlihat pada triwulan III tahun 2023 yang pertumbuhan ekonominya melambat, antara lain disebabkan oleh tidak adanya faktor musiman yang dapat mendukung konsumsi seperti yang terjadi pada triwulan II.

Jalan ke depan menjadi semakin sulit. Kondisi perekonomian global pada tahun-tahun mendatang diperkirakan tidak akan mendukung. Banyak lembaga internasional memperkirakan perekonomian Indonesia akan melambat seiring dengan perlambatan ekonomi global. Bank Dunia memperkirakan perekonomian Indonesia hanya tumbuh sebesar 4,9% pada tahun 2025.

Baca juga: 2025-2035, Masa Krusial Penentuan Indonesia Maju atau Tidak

Rivke menekankan, untuk menjadi negara maju diperlukan strategi industrialisasi yang lebih efektif. Sangat disayangkan bahwa Indonesia secara konsisten menunjukkan tanda-tanda deindustrialisasi prematur dalam beberapa tahun terakhir, meskipun upaya industrialisasi atau pertambangan semakin intensif dilakukan oleh rezim Joko Widodo.

“Sepanjang era Presiden Megawati Soekarnobuti hingga Presiden Jokowi, sektor manufaktur terus menyusut dan tumbuh di bawah laju pertumbuhan PDB nasional,” ujarnya.

Pedagang tenun bambu melintasi mural di Kampung Melayu, Jatingara, Jakarta Timur, Selasa (28/11/2023).  Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada triwulan III tahun 2023, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,06 persen secara tahunan, lebih lemah dibandingkan triwulan II tahun 2023 dan triwulan I tahun 2023 yang tumbuh sebesar 5,22 persen dan 5,39 persen. , masing-masing.  Hal ini mengakibatkan perekonomian Indonesia hanya tumbuh sebesar 4,94 persen setiap tahunnya pada kuartal III tahun 2023.
Kompas/Agus Susanto

Pedagang tenun bambu melintasi mural di Kampung Melayu, Jatingara, Jakarta Timur, Selasa (28/11/2023). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada triwulan III tahun 2023, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,06 persen secara tahunan, lebih lemah dibandingkan triwulan II tahun 2023 dan triwulan I tahun 2023 yang tumbuh sebesar 5,22 persen dan 5,39 persen. , masing-masing. Hal ini mengakibatkan perekonomian Indonesia hanya tumbuh sebesar 4,94 persen setiap tahunnya pada kuartal III tahun 2023.

Kontribusi terus menurun

Pada masa kepemimpinan Megawati, rata-rata rasio sektor manufaktur terhadap PDB nasional sebesar 27,93 persen, kemudian menurun menjadi 26,05 persen pada periode pertama kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono. Persentase tersebut pun menurun menjadi 22,42 persen pada periode kedua SBY. Tren penurunan berlanjut sebesar 22,02 persen pada periode pertama Jokowi dan 21,15 persen pada periode kedua Jokowi (sampai tahun 2023).

READ  Menyelaraskan Tawaran dan Visi Olimpiade Indonesia 2045 - Secara Akademik

Terkait hal tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, sisa pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5 persen merupakan hal yang wajar. Pasalnya, Indonesia masih dalam proses membangun infrastruktur untuk memperlancar logistik, yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi investasi di Indonesia.

Baca juga: Beban Ganda Manufaktur di RI

Saat ini, rasio inkremental capital output (ICOR) Indonesia per Maret 2023 masih berada di angka 7,6 persen. ICOR dapat menjadi salah satu standar untuk mengukur tingkat efisiensi investasi di suatu negara. Semakin tinggi nilai ICOR maka semakin tidak efisien negara tersebut dalam berinvestasi.

Banyak negara maju yang saat ini memiliki ICOR kurang dari 3 persen. “Dibandingkan negara lain, tingkat ICOR kita masih tinggi. Kalau kita bisa menurunkannya menjadi 4 persen, pertumbuhan ekonomi kita bisa naik menjadi 6-7 persen. Begitu kita mengembangkan layanan logistik, kita bisa mendongkrak pertumbuhan dengan meningkatkan tingkat ICOR. ,” kata Airlangga.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (kanan) dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monarfa saat memberikan keterangan pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (24/10/2023).
Kompas/Cyprian Anto Saptualiono

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (kanan) dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monarfa saat memberikan keterangan pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (24/10/2023).

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPENAS) Suharso Manuarfa saat berkunjung ke surat kabar tersebut Kompas Diberitakan kantornya di Jakarta, Jumat (12/1/2024), skenarionya adalah pemerintah Bisnis seperti biasa i>, pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan akan stagnan di angka 5 persen saja.

Babenas menghitung, Indonesia tidak akan keluar dari jebakan pendapatan menengah atau dikenal dengan tetap menjadi negara berpendapatan menengah, hingga tahun 2045 jika tingkat pertumbuhan hanya mencapai sekitar 5 persen.

Oleh karena itu, Suharso menegaskan Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi minimal 6 persen. Untuk itu, Indonesia perlu mendorong sumber pertumbuhan baru seperti manufaktur, dan melakukan upaya fiskal yang lebih optimal untuk menstimulasi perekonomian agar multiplier perekonomiannya lebih jelas. Ekonomi biru juga harus menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Berdasarkan simulasi Babenas, jika pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 6 persen maka Indonesia akan menjadi negara maju pada tahun 2041. Jika pertumbuhan ekonomi sekitar 7 persen maka Indonesia akan menjadi negara maju pada tahun 2038. Tahun 2024 merupakan masa transisi menuju percepatan pertumbuhan ekonomi.