POSPAPUA

Ikuti perkembangan terkini Indonesia di lapangan dengan berita berbasis fakta PosPapusa, cuplikan video eksklusif, foto, dan peta terbaru.

Penjabat Menteri Luar Negeri Iran berangkat ke Istanbul untuk menghadiri pertemuan G8 mengenai krisis Gaza

Penjabat Menteri Luar Negeri Iran berangkat ke Istanbul untuk menghadiri pertemuan G8 mengenai krisis Gaza

TEHERAN – Menteri Luar Negeri Iran sementara Ali Bagheri Kani meninggalkan Teheran menuju Istanbul untuk menghadiri pertemuan darurat Organisasi Kerjasama Ekonomi G-8.

Sesi darurat ini akan fokus pada penanganan meningkatnya aksi militer yang dilakukan Israel di Gaza.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri Iran, diumumkan bahwa Bagheri Kani tidak hanya akan berpartisipasi dalam pertemuan yang dijadwalkan pada hari Sabtu, tetapi juga akan menyampaikan pidato utama. Pertemuan ini dianggap sebagai momen penting bagi Iran untuk memperkuat diplomasi aktifnya dalam mendukung perjuangan Palestina dan perlawanan yang sedang berlangsung terhadap rezim Zionis.

Bagrcı Kani diperkirakan akan berpartisipasi selama pertemuan Istanbul dalam diskusi tingkat tinggi dengan menteri luar negeri lainnya. Agendanya termasuk merumuskan langkah-langkah terkoordinasi di antara negara-negara Islam untuk menghentikan serangan Israel dan memastikan pengiriman bantuan kemanusiaan yang mendesak kepada warga Palestina yang hidup dalam pengepungan. Hal ini sejalan dengan strategi Iran yang lebih luas untuk menyatukan negara-negara Muslim dalam menanggapi kekejaman Israel.

Daftar peserta terkemuka menggarisbawahi pentingnya pertemuan internasional. Selain Bagheri Kani, dewan tersebut akan beranggotakan Menteri Luar Negeri Pakistan Mohammad Ishaq Dar, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamed Hassan, dan Menteri Kesejahteraan Sosial Bangladesh Dipu Moni. Pejabat senior dari Mesir dan Nigeria juga diperkirakan akan menghadiri konferensi tersebut, menyoroti representasi geografis yang luas dalam G8 yang sedang berkembang.

Hasil utama dari pertemuan tersebut diperkirakan adalah diadopsinya deklarasi bersama yang mengutuk tindakan militer Israel di Gaza. Tanggapan ini muncul mengingat statistik mengkhawatirkan yang menunjukkan bahwa serangan Israel selama delapan bulan terakhir mengakibatkan terbunuhnya sedikitnya 36.654 warga Palestina, yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.

READ  Kanada: Warga negara yang divaksinasi penuh tidak lagi menghadapi karantina setelah 5 Juli | berita pandemi virus corona

Pertemuan luar biasa yang akan diadakan di Istanbul ini sangat penting bagi negara-negara anggota G8 ketika mereka berupaya membentuk front persatuan melawan tindakan Israel di Gaza. Sesi ini, yang dipimpin oleh Turki, bertujuan untuk menunjukkan solidaritas dan dukungan teguh terhadap perjuangan Palestina, terutama dalam menghadapi serangan Israel yang sedang berlangsung sejak 7 Oktober tahun lalu.

G8, yang mencakup Turki, Indonesia, Bangladesh, Mesir, Iran, Malaysia, Nigeria, dan Pakistan, didirikan pada tanggal 15 Juni 1997. Kelompok ini dibentuk atas usulan Perdana Menteri Turki saat itu Necmettin Erbakan, yang menginginkan aliansi baru. Sebuah kelompok ekonomi yang terdiri dari delapan negara berkembang dari dunia Islam. Sejak didirikan, negara-negara berkembang G8 telah berupaya memperkuat kerja sama ekonomi di antara para anggotanya sambil mengatasi masalah-masalah politik dan kemanusiaan yang mendesak yang mempengaruhi komunitas Muslim secara global.

Saat pertemuan di Istanbul berlangsung, komunitas internasional akan mengamati dengan cermat bagaimana negara berkembang G8 berhasil menangani krisis yang kompleks dan mendesak ini. Hasil dari pertemuan ini dapat berdampak signifikan terhadap lanskap geopolitik dan situasi kemanusiaan di Gaza, menjadikannya momen penting bagi diplomasi dan tindakan kolektif.