POSPAPUA

Ikuti perkembangan terkini Indonesia di lapangan dengan berita berbasis fakta PosPapusa, cuplikan video eksklusif, foto, dan peta terbaru.

Kabut asap lintas batas di Asia Tenggara: Masalah yang mendesak

Kabut asap lintas batas di Asia Tenggara: Masalah yang mendesak

Polusi udara telah lama menjadi masalah kesehatan utama di Asia Tenggara, dengan isu kabut asap lintas batas yang menjadi pusat perhatian dalam beberapa tahun terakhir. Tantangan lingkungan ini tidak mengenal batas negara, karena asap dari kebakaran hutan dan aktivitas pembukaan lahan di satu negara dapat dengan mudah melintasi batas negara, sehingga menutupi seluruh wilayah dalam kabut asap yang tebal dan berbahaya.

  • 🌍 Masalah kabut asap lintas batas di Asia Tenggara Masalah kabut asap lintas batas yang berulang di Asia Tenggara, yang mempengaruhi negara-negara seperti Indonesia, Malaysia dan Singapura, mengalami fluktuasi intensitas selama bertahun-tahun karena faktor-faktor seperti fenomena cuaca dan politik regional.
  • 🔥 Akar penyebab kabut Kabut asap lintas batas tercipta terutama sebagai akibat dari aktivitas seperti kebakaran hutan, pembakaran perkebunan, dan pembukaan lahan untuk tujuan pertanian di negara-negara seperti Indonesia. Kerja sama dan kesepakatan regional sangat penting dalam mengatasi masalah ini.
  • 🌿 Upaya menuju Asia Tenggara bebas kabut Inisiatif seperti Peta Jalan Kedua bertujuan untuk menghilangkan polusi asap lintas batas pada tahun 2030, dengan menekankan pentingnya tindakan kolaboratif di antara negara-negara anggota ASEAN untuk mengatasi tantangan lingkungan ini.

Salah satu penyebab utama pencemaran asap lintas batas di kawasan ASEAN adalah kebakaran lahan gambut. Kawasan ASEAN merupakan rumah bagi 56% lahan gambut tropis dunia, namun kebakaran telah menghancurkan lebih dari 3 juta hektar lahan gambut di Asia Tenggara.

Dalam upaya untuk mengatasi masalah mendesak ini, para menteri dan pejabat lingkungan hidup dari enam negara ASEAN (Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura, Timor-Leste, dan Thailand) baru-baru ini berkumpul di Bangkok untuk menghadiri pertemuan ke-25 Komite Pengarah Tingkat Menteri Subregional tentang Polusi Asap . Pinggiran. Pertemuan yang dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri Thailand dan Menteri Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, Jenderal Prawit Wongsuwon, berfokus pada pengembangan strategi untuk memerangi kebakaran hutan dan melestarikan lahan gambut, yang merupakan salah satu penyebab utama krisis kabut asap.

READ  Forum Keamanan Dialog Shangri-La Dibatalkan Karena COVID-19 - Asia Tenggara

Seriusnya permasalahan kabut asap lintas batas negara

Masalah kabut asap lintas batas telah menjadi masalah lingkungan dan kesehatan yang besar di wilayah ini, dengan tingkat polusi udara di beberapa wilayah terkadang melebihi batas keselamatan. Pusat Meteorologi Khusus Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASMC) memperkirakan kemungkinan terjadinya fenomena kabut asap lintas batas antara bulan Juli hingga September tahun ini, meskipun tingkat curah hujan lebih tinggi dari biasanya.

Salah satu penyebab utama krisis kabut asap adalah meluasnya kebakaran hutan yang mengeluarkan asap yang melintasi batas negara. Kebakaran ini sering dikaitkan dengan aktivitas pembukaan lahan, seperti pembakaran hutan dan lahan gambut, sebuah praktik yang umum terjadi di beberapa wilayah Asia Tenggara.

ASEAN mengoordinasikan upaya untuk mengatasi kabut asap lintas batas

Pertemuan Komite Keselamatan Maritim baru-baru ini di Bangkok menyoroti komitmen negara-negara ASEAN untuk mengintensifkan upaya mereka dalam mengatasi masalah kabut asap lintas batas. Selama diskusi, masing-masing negara meninjau kebijakan pengurangan asap dan bertukar rencana untuk proyek-proyek masa depan.

Perkembangan penting adalah inisiatif Thailand untuk mendirikan Pusat Koordinasi ASEAN untuk Memerangi Polusi Asap Lintas Batas. Hal ini sejalan dengan perjanjian antar-ASEAN mengenai kabut asap lintas batas, yang sedang dipersiapkan oleh negara-negara anggota untuk diratifikasi setelah pertemuan pada Agustus 2023.

Strategi dan inisiatif utama dibahas

Pertemuan MSC berfokus pada beberapa strategi dan inisiatif utama untuk mengatasi masalah kabut asap lintas batas, termasuk:

  • Memperkuat upaya pemantauan dan inspeksi: Para Menteri memuji komitmen masing-masing negara untuk mengintensifkan upaya pemantauan dan inspeksi, yang sangat penting untuk deteksi dini dan pencegahan kebakaran hutan.
  • Mempromosikan konservasi lahan gambut: Pertemuan ini secara khusus berfokus pada perlunya melestarikan lahan gambut, yang berkontribusi signifikan terhadap krisis kabut asap ketika lahan tersebut dikeringkan dan dibakar.
  • Meningkatkan pencegahan dan pengelolaan kebakaran: Negara-negara membahas langkah-langkah untuk mencegah dan mengelola kebakaran hutan, yang merupakan sumber utama asap yang berkontribusi terhadap kabut asap lintas batas.
  • Memperkuat kerja sama regional: Pertemuan ini menyoroti pentingnya kelanjutan kerja sama dan koordinasi regional di antara negara-negara ASEAN untuk secara efektif mengatasi masalah kabut asap lintas batas.
  • Pengembangan Pusat Koordinasi ASEAN: Pembentukan Pusat Koordinasi ASEAN untuk Pengendalian Polusi Asap Lintas Batas di Thailand merupakan langkah penting menuju penguatan kerja sama regional dan upaya tanggap darurat.

Pentingnya mengatasi kabut asap lintas batas

Masalah kabut asap lintas batas bukan hanya masalah lingkungan hidup; Hal ini juga mempunyai implikasi besar terhadap kesehatan masyarakat dan perekonomian. Kabut asap dapat menyebabkan gangguan pernapasan, iritasi mata, dan masalah kesehatan lainnya, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.

Selain itu, kabut juga dapat mengganggu kegiatan perekonomian, seperti penerbangan, pariwisata, dan pertanian, sehingga mengakibatkan kerugian finansial yang signifikan bagi negara-negara yang terkena dampaknya. Dampak ekonomi dari krisis kabut asap bisa sangat luas, sehingga menggarisbawahi perlunya pendekatan yang terkoordinasi dan komprehensif untuk mengatasi masalah ini.

Jalan ke depan: memperkuat kerja sama dan komitmen regional

Negara-negara ASEAN dapat memperkuat perjanjian dan rencana aksi regional dengan memberlakukan undang-undang domestik yang kuat untuk memerangi kabut asap lintas batas. Hal ini akan meminta pertanggungjawaban aktor-aktor lokal dan mencegah saling tuding ketika terjadi kabut asap. Hal ini juga dapat mencegah kabut asap dan ketegangan politik di masa depan.

Pertemuan Komite Keselamatan Maritim baru-baru ini di Bangkok menyoroti komitmen negara-negara ASEAN untuk mengatasi masalah kabut asap lintas batas. Dengan meningkatkan kerja sama regional, meningkatkan upaya pemantauan dan inspeksi, serta menerapkan strategi pencegahan dan pengelolaan kebakaran yang efektif, negara-negara ASEAN mengambil langkah tegas untuk mengatasi tantangan lingkungan dan kesehatan masyarakat yang mendesak ini.

Namun jalan ke depan bukannya tanpa tantangan. Mengatasi akar penyebab krisis kabut asap, seperti praktik penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan dan pembakaran hutan dan lahan gambut, memerlukan kemauan politik yang berkelanjutan, investasi yang signifikan, dan partisipasi aktif dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat lokal.

Ketika negara-negara ASEAN terus berupaya meratifikasi Konvensi Asap Lintas Batas dan membentuk Pusat Koordinasi ASEAN, upaya kolektif kawasan untuk memerangi bencana lingkungan ini akan diawasi secara ketat. Keberhasilan inisiatif-inisiatif ini tidak hanya akan memberikan manfaat bagi masyarakat Asia Tenggara, namun juga akan menjadi model bagi wilayah lain yang menghadapi tantangan lingkungan lintas batas yang serupa.