Pospapua.com
Ilustrasi. Foto: EPA
Ekonomi

INDEF Sebut Persaingan Tak Sehat Picu Tiket Pesawat Naik

Oleh: Andryanto S |

Mahalnya harga tiket pesawat belakangan ini bukan hanya diakibatkan bahan bakar avtur semata, tapi lebih disebabkan kondisi persaingan yang tidak sehat.

Pospapua.com, Jakarta — Ekonom Senior INDEF, Didik J Rachbini, menilai penyebab melonjaknya harga tiket pesawat belakangan ini bukan hanya dipicu mahalnya bahan bakar avtur semata. Sebab, harga tiket naik serempak beberapa bulan terakhir lebih disebabkan adanya kondisi persaingan usaha yang terjadi di lapangan.

“Jawaban sementara adalah kondisi persaingan usaha yang tidak sehat akibat struktur pasar dan perilaku baru yang muncul belakangan ini,” katanya dalam diskusi di Jakarta, Minggu (3/3).

Dia menjelaskan industri penerbangan di masa lampau dikenal dengan sejarah pasar yang buruk karena praktek kartel. Setelah reformasi dan ditetapkan UU Persaingan Usaha dan anti monopoli tahun 1999, maka industri ini bersaing secara sehat, menjadi efisien, hingga harga tiket terjangkau dan jumlah penumpang meningkat pesat.

“Industri ini pada masa sebelum UU persaingan usaha adalah industri yang paling tidak efisien di dunia karena praktek kartel yang didukung oleh pemerintah dalam hal ini menteri perhubungan,” tambahnya.

Lantas bagaimana praktek persaingan itu terjadi? Realitanya pelaku melakukan kesepakatan kartel, kemudian menentukan harga batas bawah yang tinggi dan mahal. Semua pelaku dilarang untuk bersaing, tidak boleh menjual tiket di bawah harga patokan.

“Itu artinya pelaku industri dilarang efisien sehingga harus menjual tiket dengan harga tinggi,” katanya.

Lambat laun pun industri ini sempat terkendali dan menjadi lebih murah pada 10 tahun belakangan mulai tahun 2003 sampai akhir 2018. Sehingga industri penerbangan telah meningkat pesat sampai 3-4 kali pertumbuhan ekonomi.

“Sekarang sejak akhir tahun 2018 harga tiket meningkat pesat dan tidak turun kembali sebagai tanda ada indikasi praktek persaingan tidak sehat,” serunya.

Oleh karena itu, lanjut dia, perlu ada upaya duduk bersama difasilitasi pemerintah agar tidak berpotensi terhadap perilaku persiangan usaha tidak sehat yang akhirnya akan merugikan konsumen dan masyarakat Indonesia.(*/Dry/INI-Network)

Baca Juga:

Kadin Usulkan Zero Subsidi BBM Transportasi Massal

hamim

Indonesia Hapus Bea Masuk Kurma dan Zaitun dari Palestina

Anjar Asmoro Heryanto

Sektor Pariwisata Bali Terancam Gulung Tikar Akibat RKUHP Kontroversial

Syaiful

Leave a Comment