Pospapua.com
Tumpukan popok bekas sangat menganggu lingkungan di Mojokerto
Kesehatan

Gunung Sampah Popok di Sungai Mojokerto Mengkhawatirkan

Oleh: Rizki Daniarto

Pospapua.com, Mojokerto – Gunung sampah popok di dasar Sungai Curah Cerung, Dusun Mojoranu, Desa Sawo, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, mulai mengkhawatirkan. Tumpakan popok telah menimbulkan aroma tak sedap hingga tercium radius 100 meter.

Disinyalir gunung sampah popok yang mengendap di dasar sungai adalah ulah warga yang memiliki bayi di desa setempat. Hampir setiap pagi tak pernah absen berhenti di tepi sungai. Mereka membuang puluhan popok bekas pakai yang dibungkus dengan kantong plastik.

Diduga tak adanya tempat pembuangan sampah atau kontainer khusus popok menjadi penyebab warga memilih jalan pintas dengan membuang sampah ke sungai. Hal ini pun diakui warga Dusun Sawo, Ernobudi, 45 tahun.

Dia mengungkapkan sampah yang menumpuk di sungai yang kedalamannya mencapai enam meter ini merupakan hasil pembuangan sampah warga setempat. Termasuk juga dari luar dusunnya.

“Dari dulu warga sini maupun luar buang sampahnya di sini (Sungai Curah Cerung). Biasanya buang pas jam kerja. Naik motor terus berhenti di jembatan, langsung buang gitu saja,” ungkap laki-laki yang sudah 13 tahun tinggal di Dusun Sawo ini.

Sebenarnya, kata dia, belakangan ini warga dusun setempat sudah menyadari adanya program bank sampah yang terbentuk. Namun, mereka masih kebingungan terkait pengelolaan sampah yang tidak diterima bank sampah, seperti sampah popok bekas dan sampah basah.

“Warga juga sudah menyadari adanya bank sampah dan pemilahan sampah anorganik seperti plastik, kaca, dan botol. Tapi yang tak diterima bank sampah ya dibuang ke sungai,” ungkapnya, Minggu (20/10).

Dia khawatir keberadaan gunung sampah popok berdampak pada musim hujan hingga menimbulkan banjir. Kemudian polusi udara ketika sampah-sampah tersebut dibakar. “Sudah tiga tahun terakhir dusun di bawah sini banjir. Kalau bisa jangan sampai ada banjir lagi biar tidak saling menyalahkan,” papar Erno.

Erno berharap  Dinas Lingkungan Hidup dan Pekerjaan Umum menangani persoalan sampah di desanya. Seperti pengadaan kontainer popok atau tempat sampah di rumah-rumah warga. “Butuh TPS agar warga tidak buang sampah ke sungai,” ujarnya.

Tumpukan sampah popok bekas di sungai tersebut mendapat perhatian Tim Brigade Evakuasi Popok (BEP). Sejumlah aktivis lingkungan ini pun mengevakuasi tumpukan popok bekas dari dasar sungai.

Direktur Eksekutif Ecoton sekaligus penggerak BEP Prigi Arisandi mengaku menemukan puluhan kuintal sampah popok dari berbagai merek maupun tanpa merek.

“Kami menemukan puluhan kuintal sampah popok dari berbagai merek maupun tanpa merek. Harusnya pemerintah bertanggung jawab menyediakan tempat pembuangan sampah, khususnya kontainer popok,” tegas Direktur Eksekutif Ecoton sekaligus penggerak BEP Prigi Arisandi.(Riz/Asi/INI Network)

Baca Juga:

Pria yang Bisa Pushup 40 Kali Memiliki Jantung Lebih Sehat

hamim

Manfaat Jamu yang Ampuhnya Mengalahkan Obat Kimia

hamim

Berapa Banyak Telur yang Boleh Kita Konsumsi dalam Sehari?

hamim

Leave a Comment