Tempo.co, Jakarta – Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dalam webinar pada hari Rabu Ivan Yusthyavananda sangat memuji dampak positif digitalisasi terhadap pertumbuhan ekonomi, tetapi pada saat yang sama percaya itu adalah pintu gerbang untuk mempercepat pencucian uang.
“Jika digitalisasi tidak disalahgunakan oleh para pelaku pencucian uang, regulasi tidak boleh abu-abu. Lembaga pemantau harus jelas dan penegak hukum harus memadai. Jika tidak, digitalisasi akan mengganggu perekonomian Indonesia,” kata Ivan dalam webinar pada 3 Agustus, “Menuju Cashless Society” di Jakarta. Internews dilaporkan.
Evan percaya para pencuci uang menggunakan produk keuangan digital yang sulit dilacak atau dilacak, seperti bitcoin cryptocurrency, untuk melancarkan kejahatan mereka. Karena mata uang kripto ini masih dianggap sebagai produk yang baru diatur, ini akan menjadi rintangan bagi pihak berwenang Indonesia.e Badan Pengawas Bursa Berjangka (POBPT) Kementerian Perdagangan.
“PPATK seharusnya digunakan untuk mendeteksi pencucian uang dengan menggunakan perkembangan digital. Bank juga dapat mengajukan laporan ke PPATK,” tambah Evan. PPATK saat ini menerima rata-rata 50.000 laporan transaksi setiap jamnya.
Di webinar, dia menambahkan PPATK Setelah menyerukan kontrol terhadap transaksi tunai, pada awalnya dimaksudkan untuk mendorong orang untuk melakukan transaksi dengan sistem perbankan, yang pada akhirnya akan membantu mendeteksi potensi kejahatan, terutama pencucian uang. “Kami pernah mendorong agar RUU itu disahkan,” kata Ivan.
Antara
Klik disini Dapatkan update berita terbaru dari Tempo di Google News

“Pembaca yang ramah. Penggemar bacon. Penulis. Twitter nerd pemenang penghargaan. Introvert. Ahli internet. Penggemar bir.”

More Stories
Indonesia Percepat Musim Tanam Padi untuk Hadapi Ancaman El Nino
Kerentanan Kritis Next.js Buka Celah Pencurian Kredensial Cloud dan Akses Panel Admin
Reformasi PBB dan Peran Indonesia: Dorongan untuk Dampak Nyata di Lapangan