POSPAPUA

Ikuti perkembangan terkini Indonesia di lapangan dengan berita berbasis fakta PosPapusa, cuplikan video eksklusif, foto, dan peta terbaru.

Penghitungan karbon gambut dan bakau yang lebih baik untuk membantu kebijakan iklim Indonesia

Penghitungan karbon gambut dan bakau yang lebih baik untuk membantu kebijakan iklim Indonesia

  • Sebuah studi baru menunjukkan bagaimana Indonesia dapat meningkatkan penghitungan karbon di ekosistem lahan basah yang luas, yaitu lahan gambut dan hutan bakau.
  • Negara ini mempunyai 14% lahan gambut tropis dan 22% hutan bakau di dunia, namun penggundulan hutan, pembakaran dan modifikasi ekosistem ini merupakan kontributor utama terhadap keseluruhan emisi negara ini.
  • Para peneliti telah mengidentifikasi kesenjangan dalam sistem penghitungan gas rumah kaca saat ini yang, jika ditutup, dapat memberikan data yang lebih akurat dan transparan untuk menginformasikan kebijakan iklim dan target pengurangan emisi.
  • Indonesia telah menetapkan batas waktu pada tahun 2030 untuk mengurangi hutan sebagai penyerap karbon dan emisi sebesar 43% sebagai bagian dari komitmen terhadap Perjanjian Iklim Paris tahun 2015.

JAKARTA – Para peneliti yang meneliti cara Indonesia menghitung emisi gas rumah kaca dari lahan gambut dan lahan basah mengatakan bahwa mereka telah menemukan metode penghitungan yang lebih akurat yang dapat membantu Indonesia mencapai target pengurangan emisi dan menyempurnakan kebijakan iklimnya.

Indonesia mengeluarkan emisi GRK dalam jumlah besar, terutama akibat deforestasi dan pembakaran hutan hujan. Hal ini akan membantu membatasi pemanasan global hingga 1,5° Celcius (2,7° Fahrenheit) di bawah tingkat pra-industri, sebagaimana diuraikan dalam Perjanjian Paris tahun 2015. Berkomitmen untuk mengurangi emisi 31,89% pada tahun 2030 atau 43,2% dengan dukungan internasional.

Sekitar setengah dari emisi GRK Indonesia berasal dari deforestasi, kebakaran hutan dan lahan gambut, serta perubahan penggunaan lahan, sehingga sebagian besar pengurangan emisi negara ini diperkirakan berasal dari sektor ini, yang dikenal sebagai FOLU, atau “penggunaan hutan dan lahan lainnya”. Pemerintah bertujuan untuk melakukan hal ini dengan membatasi hilangnya hutan dan kebakaran serta mengintensifkan upaya reboisasi. Tujuannya adalah agar hutan Indonesia dapat menyerap lebih banyak karbon dibandingkan emisinya pada tahun 2030. Penurunan bersih FOLU Indonesia pada tahun 2030.

READ  Presiden China telah menyatakan belasungkawa atas tenggelamnya kapal selam tersebut

Pengukuran emisi dan serapan karbon yang akurat dan transparan sangat penting bagi ekosistem lahan basah Indonesia yang luas, yang terdiri dari 14% lahan gambut tropis dan 22% hutan bakau di dunia. Ekosistem ini menyimpan karbon dalam jumlah besar dan berperan penting dalam kebijakan iklim Indonesia.

Daniel Murdiarzo, ilmuwan utama Pusat Penelitian Kehutanan Internasional dan Agroforestri Dunia (CIFOR-ICRAF), menyebut lahan gambut dan bakau sebagai “ekosistem utama” karena menyimpan karbon dalam jumlah besar, menyerap total sekitar 31,2 miliar metrik ton karbon dioksida. paralel.

Daniel dan peneliti lain dari CIFOR-ICRAF meneliti apakah sistem penghitungan GRK di Indonesia saat ini dapat diukur secara akurat dari ekosistem tersebut. Pada tahun 2022, Indonesia memperbarui sistem tersebut, namun para peneliti masih menemukan kesenjangan, terutama dalam cara mengukur emisi dari lahan gambut dan hutan bakau. Mereka mendokumentasikan temuan ini dan menyarankan perbaikan dalam penelitian yang baru-baru ini diterbitkan Prosiding Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional.

Misalnya, sistem ini tidak memperhitungkan perbedaan karbon di lahan gambut yang dikeringkan dan tidak dikeringkan, sehingga menyebabkan penghitungan emisi dan penyerapan yang tidak akurat, demikian temuan para peneliti. Selain itu, sistem penghitungan daerah aliran sungai di Indonesia tidak mengikuti pedoman yang dikembangkan oleh Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) PBB, kata kontributor dan ilmuwan senior CIFOR-ICRAF, Kristell Hergoualc'h.

Hal ini, katanya, “memiliki implikasi yang signifikan terhadap penghitungan GRK.”

Para peneliti menyerukan perbaikan dalam pengukuran emisi dari kebakaran hutan dan konsistensi data mangrove. Beberapa data menunjukkan penyimpanan karbon yang lebih rendah di hutan bakau primer dibandingkan hutan sekunder, namun hal ini mungkin tidak terjadi.

Para peneliti menemukan bahwa membedakan berbagai jenis hutan bakau juga penting. Mangrove yang tumbuh di tanah anorganik mungkin memiliki profil karbon yang sama dengan yang tumbuh di tanah organik. Penelitian lebih lanjut juga diperlukan mengenai mangrove yang tumbuh di lahan gambut, kata para peneliti. Sekitar 10% hutan bakau di Indonesia termasuk dalam kategori ini, meskipun belum diteliti, sehingga sulit untuk mendapatkan perhitungan akurat mengenai emisi GRK dari ekosistem, kata para peneliti.

READ  Prakiraan Cuaca BMKG 23 Juni: Badai singkat di Jakarta Selatan

“Kombinasi unik dari dua ekosistem lahan basah yang terletak di lanskap yang sama menghadirkan tantangan teknis dalam inventarisasi dan pelaporan GRK berkualitas tinggi, dan harus menjadi prioritas untuk penelitian di masa depan,” kata salah satu penulis studi, Sigit Sasmido. Universitas James Cook di Australia.

Dengan mengidentifikasi kesenjangan dalam sistem penghitungan emisi GRK di Indonesia saat ini, studi ini memberikan peta jalan untuk mengurangi ketidakpastian ketika menghitung emisi dan sekuestrasi dari lahan gambut dan bakau di negara ini, kata Erin Swailes, salah satu penulis studi dan peneliti CIFOR-ICRAF.

Hal ini pada akhirnya akan mendukung target penurunan emisi Indonesia dan memposisikan negara ini sebagai pemimpin global dalam pengurangan emisi di sektor FOLU.

“Kami menyarankan penyempurnaan ini perlu dilakukan untuk menjangkau Indonesia [FOLU] penurunan emisi bersih pada tahun 2030 dan target emisi nol bersih pada tahun 2060 atau lebih awal,” kata studi tersebut.

Peningkatan kualitas dan transparansi data akan meningkatkan kepercayaan terhadap investasi keuangan dalam inisiatif iklim dan mendukung pelaporan Indonesia mengenai komitmen pengurangan emisi Paris ketika penilaian berikutnya dilakukan pada tahun 2028, kata Daniel.

Mengutip:

Murdiarzo, T., Swailes, E., Hercualc, K., Pomia, R., & Susmitto, SD (2024). Penyempurnaan faktor emisi gas rumah kaca pada lahan gambut dan hutan bakau di Indonesia untuk memenuhi target iklim yang ambisius. Prosiding Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional, 121(17) doi:10.1073/pnas.2307219121

Gambar Spanduk: Perusakan Ekosistem di Lahan Gambut Kalimantan. Merah A. Gambar oleh Butler/Mangabay.

Masukan: Gunakan formulir ini Kirim pesan ke penulis postingan ini. Jika Anda ingin mengirimkan komentar publik, Anda dapat melakukannya di bagian bawah halaman.

READ  Peningkatan Kapasitas AI di Negara Berkembang: Kebijakan, Regulasi & Karir Masa Depan

Artikel diterbitkan oleh Hayat

Emisi Karbon, Iklim, Perubahan Iklim, Perubahan Iklim dan Hutan, Kebijakan Perubahan Iklim, Pengurangan Emisi, Lingkungan Hidup, Hutan, Emisi Gas Rumah Kaca, Gas Rumah Kaca, Hutan Bakau, Lahan Gambut, Lahan Basah

Asia, Indonesia, Asia Tenggara

Mencetak