POSPAPUA

Ikuti perkembangan terkini Indonesia di lapangan dengan berita berbasis fakta PosPapusa, cuplikan video eksklusif, foto, dan peta terbaru.

Mendag Zulhas optimistis dengan ratifikasi perjanjian perdagangan preferensial kedua antara Indonesia dan Iran

Mendag Zulhas optimistis dengan ratifikasi perjanjian perdagangan preferensial kedua antara Indonesia dan Iran

JAKARTA – Menteri Perdagangan (Mandag) Zulkifli Hasan mengaku optimistis ratifikasi Indonesia-Iran Preferential Trade Agreement (II-PTA) atau persetujuan preferensi perdagangan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Republik Islam Iran akan membawa hasil yang baik. meningkatkan perekonomian kedua negara.

“Kami optimis ratifikasi perjanjian perdagangan preferensial antara Indonesia dan Iran akan memberikan dampak positif terhadap perdagangan dan perekonomian kedua negara (Indonesia dan Iran),” kata Mendag saat rapat kerja dengan Komite Keenam Komite Keenam. Republik Indonesia di Jakarta, dikutip Kantor Berita Antara, Senin, 8 Juli.).

Mendag menjelaskan, Second Preferential Trade Agreement merupakan perjanjian perdagangan kedua antara Indonesia dengan negara-negara kawasan Timur Tengah, sekaligus perjanjian perdagangan pertama bagi Indonesia yang memuat pengaturan perdagangan timbal balik (counter trade) sebagai transaksi perdagangan alternatif.

Menurutnya, proyek PTA yang kedua ini akan mendukung pemulihan perekonomian pasca pandemi Covid-19 dan meningkatkan kinerja perekonomian Indonesia secara keseluruhan.

Selain itu, pengaturan pendapatan perdagangan akan mendorong peningkatan transaksi perdagangan kedua negara.

Dikatakannya, persetujuan perjanjian perdagangan preferensial kedua ini ditandatangani pada 23 Mei 2023 di Istana Bogor oleh Menteri Perdagangan kedua negara, dan disaksikan oleh Presiden Republik Indonesia dan Presiden Iran.

Pria yang akrab disapa Zulhas ini mengungkapkan, neraca perdagangan Indonesia selama lima tahun terakhir 2019-2023 tercatat surplus, karena total perdagangan Indonesia pada tahun 2023 berjumlah sekitar 206,9 juta dollar AS, dengan ekspor sebesar 195,1 juta dollar AS, dan impor sebesar 11,7 juta dollar AS. dolar AS, sehingga Indonesia surplus sebesar 183 juta dolar AS.

Zollhas menambahkan, Iran merupakan negara terbuka dan letaknya yang strategis sehingga memiliki kemampuan menjadi broker perdagangan di Timur Tengah, Asia Tengah, dan Asia Selatan.

READ  Indonesia berisiko kehilangan peluang ekonomi emas

“Iran juga merupakan pasar potensial bagi Indonesia yang berpenduduk 88 juta jiwa. Struktur tarif Iran yang relatif tinggi menjadi kendala utama peningkatan daya saing produk Indonesia,” tambah Zollhas.

Oleh karena itu, Zollhas mengatakan, preferensi tarif II-PTA pada sebagian besar ekspor Indonesia ke Iran dan kawasan sekitarnya akan menyebabkan peningkatan surplus perdagangan Indonesia.

Perjanjian PTA Kedua ini ditandatangani pada tanggal 23 Mei 2023 di Istana Bogor oleh Menteri Perdagangan kedua negara dan disaksikan oleh Presiden Republik Indonesia dan Presiden Iran.

Ini merupakan perjanjian perdagangan kedua yang dilakukan Indonesia dengan negara di kawasan timur-tengah tersebut, dan merupakan serikat pekerja pertama di Indonesia yang memiliki pendapatan perdagangan (counter-trade) yang kini mulai banyak diminati.

Mesir juga bermaksud membangun counter-trade sebagai alternatif transaksi komersial.

Zollhas menambahkan, ratifikasi Perjanjian Perdagangan Preferensial Kedua akan berdampak positif bagi Indonesia karena akan mendapatkan penghapusan dan pengurangan tarif bea cukai sebesar 239% termasuk produk mineral dan produk industri seperti makanan olahan, obat-obatan, karet, kertas, tekstil. dan lain-lain.

Oleh karena itu produk pertanian antara lain minyak sawit dan ekstrak minyak nabati lainnya, kakao, tembakau, kopi, teh, rempah-rempah, buah-buahan, sayuran, dan lain-lain, termasuk hasil perikanan, khususnya ikan.

“Perjanjian perdagangan preferensial antara Indonesia dan Iran akan meningkatkan ekspor Indonesia ke Iran hingga diperkirakan mencapai US$494 juta pada tahun 2030, sehingga Indonesia akan mengalami surplus lebih dari US$468 juta pada tahun 2030,” kata Zulhas.

Ia berharap perjanjian perdagangan preferensial antara Indonesia dan Iran segera disahkan melalui peraturan presiden sehingga bisa diterapkan pada tahun 2025 mengingat konten yang diatur tidak berdampak luas.

“Mitigasi dampak penerapan PTA ke-2 juga dilakukan melalui komunikasi dengan seluruh pemangku kepentingan, serta meningkatkan posisi Free Trade Agreement (FTA) dan perwakilan asing sebagai pendukung pelaksanaan persetujuan PTA ke-2,” Zollhaas ditambahkan.

READ  Kebijakan Santai COVID-19 China Berarti Peluang Bagi Indonesia - Ekonomi

Wakil Ketua Komite Keenam DPR RI Muhammad Haikal mengatakan, sebelum menggelar rapat kerja dengan Kementerian Perdagangan, pihaknya telah melakukan rapat internal.

Ia mengatakan, berdasarkan hasil rapat internal Komite Keenam DPR RI, ia memutuskan mendukung penyelesaian preferensi perdagangan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Republik Islam Iran melalui keputusan presiden.

Heikal mengatakan, “Sebelum pertemuan praktis ini dimulai, kami mengadakan pertemuan internal Komite (Keenam), yang dalam keputusannya memutuskan bahwa kami akan mendukung penyelesaian masalah ini sesuai dengan keputusan presiden.”

Tag: Ekonomi selamatkan nyawa, Zulkifli Hassan selamatkan Iran