POSPAPUA

Ikuti perkembangan terkini Indonesia di lapangan dengan berita berbasis fakta PosPapusa, cuplikan video eksklusif, foto, dan peta terbaru.

Gedung Merdeka berdiri sebagai bukti kebangkitan dan persatuan Asia-Afrika

Gedung Merdeka berdiri sebagai bukti kebangkitan dan persatuan Asia-Afrika

Bandung (Meraj) – Di jantung kota Bandung, ibu kota Jawa Barat, terdapat sebuah bangunan bersejarah bernama Gedung Merdeka atau Gedung Merdeka.

Bukan sekedar bangunan kuno, karena menjadi saksi momen menentukan yang mengobarkan keinginan menentukan nasib sendiri antara negara-negara Asia dan Afrika.

Gedung Merdeka tidak hanya memiliki nilai sejarah yang tak ternilai, tetapi juga merupakan simbol keinginan masyarakat Asia dan Afrika untuk bangkit dan bersatu melawan penjajah. Kata “merdeka” sendiri berarti kemerdekaan dalam bahasa Indonesia.

Pada tanggal 18 April 1955, Gedung Merdeka mendapat kehormatan menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika atau dikenal dengan Konferensi Bandung yang ternyata menjadi tonggak penentu perjuangan 29 negara peserta dekolonisasi dan kemerdekaan.

Di gedung yang sama, para pemimpin dari dua benua berbeda bertemu untuk bersatu dan menentang penindasan demi masa depan yang lebih cerah bagi rakyatnya.

Dari tanggal 18 hingga 25 April tahun itu, Gedung Merdeka berfungsi sebagai pusat kegiatan diplomatik, membantu para pemimpin internasional bertukar pikiran.

Di gedung tersebut juga para pemimpin mengeluarkan Deklarasi Bandung yang berisi 10 poin yang mereka sepakati selama Konferensi Asia-Afrika, yang memicu tekad Asia dan Afrika untuk merdeka.

Gedung Merdeka selama bertahun-tahun

Pada tahun 1895, Gedung Merdeka yang terletak di Jalan Asia Afrika merupakan sebuah bangunan sederhana dan sederhana di Bandung.

Gedung seluas 8.710 meter persegi ini berfungsi sebagai tempat pertemuan Concordia Society, sekelompok orang Eropa, kebanyakan orang Belanda, yang bermukim di Bandung dan sekitarnya. Oleh karena itu, gedung tersebut saat itu dikenal dengan nama Gedung Concordia.

Pada tahun 1921, gedung ini diubah menjadi tempat konferensi termewah, terlengkap, eksklusif dan modern di Indonesia oleh arsitek Belanda Wolf Schoemaker yang menggunakan gaya Art Deco.

READ  Vaksin Covid-19 menjadi wajib di beberapa bagian China

Maju ke tahun 1940, arsitek Belanda lainnya Albert Frederik Albers memoles bangunan tersebut dengan merenovasi sayap kirinya dengan gaya arsitektur internasional. Bangunan itu digunakan sebagai tempat hiburan pada saat itu.

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, bagian utama bangunan diubah namanya menjadi Dai Toa Kaikan dan berfungsi sebagai pusat kebudayaan. Sementara itu, sayap kiri berfungsi sebagai kedai bernama Yamato, yang terbakar pada tahun 1944.

Setahun setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, gedung ini berfungsi sebagai markas para pejuang muda negara sebelum menjadi tempat kegiatan administrasi pemerintahan kota Bandung.

Untuk mempersiapkan Konferensi Asia Afrika, Presiden pertama Indonesia, Sukarno, memutuskan untuk mempercantik kembali gedung tersebut. Gedung ini juga diberi nama saat ini pada tanggal 7 April 1955. Sebelas hari kemudian, gedung tersebut menerima delegasi dari 29 negara.

Menjadi bagian dari sejarah bangsa

Pada awal tahun 1954, Sir John Kotelawala, Perdana Menteri Ceylon (sekarang Sri Lanka), mengundang Perdana Menteri Burma (Myanmar), India, india, dan Pakistan untuk bertemu di negaranya.

Presiden Sukarno kemudian memanfaatkan pertemuan tersebut untuk menginstruksikan Perdana Menteri Indonesia Ali Sastroamidjojo untuk mengusulkan diadakannya konferensi yang akan mempertemukan negara-negara Asia dan Afrika.

Setahun kemudian, founding father Indonesia berhasil menunjuk negara tuan rumah konferensi tersebut, dan Bandung ditunjuk sebagai kota tuan rumah.

Christopher Catton, pejabat Museum Kongres Asia-Afrika, mengatakan penyelenggaraan konferensi di Gedung Merdeka menunjukkan persatuan bangsa-bangsa yang berjuang mencapai kemerdekaan dan kebebasan dari kekuatan kolonial.

Konferensi ini memungkinkan para pemimpin negara-negara Asia dan Afrika untuk duduk bersama dan mendiskusikan isu-isu penting terkait kemerdekaan, dekolonisasi dan pembangunan ekonomi.

“Banyak negara dari kedua benua yang masih berada di bawah kendali penjajah. Konferensi Asia Afrika melibatkan 29 negara, hanya enam negara yang berasal dari Afrika,” kata Caton di Istana Merdeka, 17 April 2024.

READ  Ekuador Menarik Ribuan Digital Nomads Dari Seluruh Dunia

Ia mengatakan konferensi tersebut mendorong para pemimpin Asia dan Afrika untuk melakukan upaya lebih besar untuk membebaskan negara mereka dari cengkeraman negara-negara yang menindas.

“Dampak luar biasa dari Konferensi Asia-Afrika mulai terlihat sekitar satu dekade setelah konferensi tersebut diselenggarakan. Konferensi tersebut menginspirasi negara-negara lain untuk melancarkan gerakan nasional kemerdekaan.

Catton kemudian mengenang saat dirinya membimbing Mokhtar Diop, warga negara Senegal yang menjabat sebagai direktur pelaksana International Finance Corporation (IFC), saat berkunjung ke Gedung Merdeka.

Dalam kunjungannya, Diop bercerita kepada Catton bahwa ia bermimpi datang ke Bandung sejak ayahnya, seorang pejuang kemerdekaan asal Senegal, sering bercerita tentang pentingnya peran Gedung Merdeka dalam kemerdekaan negara Afrika tersebut.

“Sebelum meninggal, ayah saya pernah mengajak saya datang ke Bandung, tempat gedung penyelenggara Konferensi Asia Afrika berada. “Kemerdekaan Senegal sudah tidak mungkin lagi,” Catton mengutip perkataan Diop.

Setelah konferensi bersejarah tersebut, Gedung Merdeka menjadi tuan rumah bagi banyak pertemuan internasional dan masih berdiri sebagai simbol utama perjuangan kemerdekaan dan pembangunan ekonomi negara-negara Asia dan Afrika.

Menjelajahi implikasi Konferensi Asia-Afrika

Di sisi timur Gedung Merdeka terdapat museum yang berfungsi sebagai gudang cerita Konferensi Bandung. Museum ini berupaya untuk memastikan bahwa kenangan akan persatuan Asia-Afrika tidak pernah terlupakan.

Ide pembangunan museum ini datang dari Job Avi, mantan Menteri Pariwisata Indonesia yang menjabat sebagai Ketua Panitia HUT ke-25 acara peringatan Kongres Asia Afrika. Museum ini dibuka oleh Presiden Indonesia kedua Soeharto pada tanggal 24 April 1980.

Saat memasuki museum, pengunjung serasa dibawa ke Indonesia 70 tahun lalu. Di ruang konferensi utama, meja dan kursi yang diperuntukkan bagi para pemimpin Asia dan Afrika berdiri tertata rapi, seolah konferensi baru saja selesai.

READ  Dari pohon muda menjadi pohon yang subur, visi masa depan bersama berkembang - Xinhua

Kepala Museum Noviasari Rustam mengatakan, museum tersebut berisi koleksi benda-benda bersejarah yang menjadi bukti keberhasilan diplomasi Indonesia dalam mendorong para pemimpin Asia dan Afrika meraih kemerdekaan.

Di museum, masyarakat dapat melihat foto-foto sejarah dan replika bendera nasional negara-negara masa kini yang menjelaskan masa penuh impian kemerdekaan.

Museum ini juga menampilkan panel-panel yang menelusuri penyelenggaraan konferensi secara kronologis, dampak konferensi terhadap negara-negara Asia dan Afrika, serta tokoh-tokohnya, selain Deklarasi Bandung.

Masyarakat dapat mengunjungi museum pada hari Selasa, Kamis, Sabtu, dan Minggu mulai pukul 09.00 waktu setempat hingga pukul 16.00, tanpa membeli tiket.

Meski Konferensi Asia Afrika sudah lama digelar, sisa-sisa janji persatuan para pemimpin Asia Afrika di Bandung masih tersimpan aman di museum.

Gedung Merdeka dan museumnya akan terus eksis untuk mewariskan kisahnya kepada generasi mendatang.

Berita Terkait: Presiden Jokowi memulai kunjungan pertamanya ke Afrika
Berita Terkait: Pemerintah Kota Bandung menggelar Festival Asia Afrika pada 29 Juli