POSPAPUA

Ikuti perkembangan terkini Indonesia di lapangan dengan berita berbasis fakta PosPapusa, cuplikan video eksklusif, foto, dan peta terbaru.

Apakah visi ekonomi koperasi Mohammed Hatta masih berlaku hingga saat ini?

Apakah visi ekonomi koperasi Mohammed Hatta masih berlaku hingga saat ini?

Wakil Presiden Pertama Indonesia, Mohamed Hatta, merupakan tokoh yang menganjurkan proyek-proyek kerjasama. Gambar dari Wikicommons.

Komunitas global sedang menghadapi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya yang memerlukan perubahan besar dalam pendekatannya terhadap perekonomian dan pembangunan. Semakin disadari bahwa pola konsumsi dan produksi yang tidak berkelanjutan, degradasi lingkungan, dan kesenjangan sosial merupakan konsekuensi dari sistem ekonomi berbasis pertumbuhan saat ini, yang mengasumsikan sumber daya tidak terbatas dan ekspansi terus-menerus.

Mohamed Hatta, Wakil Presiden Pertama Indonesia, adalah pendukung kuat koperasi, sangat mementingkan kepemilikan masyarakat, pengambilan keputusan partisipatif, dan tanggung jawab sosial. Pidatonya pada tahun 1965 di Lausanne, Swiss mengenai kebutuhan organisasi koperasi di kawasan berkembang mengartikulasikan visi globalnya untuk gerakan koperasi, yang mempengaruhi kebijakan ekonomi negara berkembang lainnya.

Ada banyak titik persimpangan antara ekonomi kooperatif Mohammed Hatta dan degrowth Gerakan yang muncul Mendukung perekonomian yang terdesentralisasi dan mengurangi fokus pada PDB sebagai ukuran kinerja perekonomian.

Jadi, apa yang dapat dikontribusikan dengan mempertimbangkan kembali gagasan Mohammed Hatta terhadap perdebatan kontemporer mengenai masa depan ekonomi dan pembangunan? Dapatkah gagasannya memberikan wawasan praktis bagi para pembuat kebijakan, akademisi, dan aktivis yang berupaya menciptakan dunia yang lebih adil dan hijau?

Visi Ekonomi Koperasi Mohammed Hatta

Muhammad Hatta adalah seorang patriot Indonesia yang terkemuka. Ia memainkan peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dari pemerintahan kolonial Belanda, namun juga sangat mendukung ekonomi koperasi sebagai sarana pemberdayaan masyarakat lokal, mendorong keadilan sosial dan mencapai kemandirian ekonomi.

Selain karir politiknya, Hatta juga seorang penulis dan pemikir yang sangat produktif, dan gagasannya mengenai ekonomi dan keadilan sosial masih mempunyai arti penting. Konsepnya tentang ekonomi koperasi didasarkan pada keyakinannya akan efektivitas upaya kolektif dan akuntabilitas masyarakat. Hatta menyerukan kemajuan ekonomi harus didasarkan pada prinsip kesetaraan, solidaritas dan kerja sama, bukan individualisme dan daya saing.

READ  Merangkul keberhasilan G-20 dalam pertemuan dan KTT ASEAN - Akademisi

Hatta memandang koperasi sebagai cara untuk mencapai tujuan tersebut dengan menciptakan forum bagi individu untuk menyatukan dan mengintegrasikan sumber daya, pengalaman dan pemahaman mereka untuk menghadapi tantangan bersama dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Ia percaya bahwa ekonomi kooperatif menawarkan alternatif yang lebih adil dan berkelanjutan dibandingkan struktur kapitalis, yang menurutnya bersifat eksploitatif dan berbahaya.

Kajian Hatta pada tahun 1953 yang berjudul “Koperasi di Indonesia” dianggap sebagai salah satu kontribusi penting beliau dalam bidang ekonomi koperasi. Hal ini menekankan bahwa koperasi merupakan alat yang sangat diperlukan untuk mendorong kemajuan ekonomi, terutama di daerah pedesaan dimana petani kecil menghadapi banyak kendala, termasuk terbatasnya akses terhadap modal, pasar dan keahlian teknis. Hal ini menyajikan koperasi sebagai cara untuk mengatasi tantangan-tantangan ini dengan memungkinkan individu untuk bekerja sama dan mendistribusikan imbalan atas pekerjaan mereka.

Dalam artikelnya tahun 1954 “Koperasi dan Perekonomian Rakyat”, Hatta berpendapat bahwa koperasi merupakan wujud perekonomian kerakyatan, yang mana setiap individu mempunyai kekuasaan atas nasib perekonomiannya dan dapat bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Ia melihatnya sebagai cara untuk menantang supremasi metode kapitalis dalam memproduksi barang, yang menurutnya mendukung eksploitasi dan kesenjangan.

Teori ekonomi Hatta berpikiran maju dan sangat realistis. Ia tidak hanya menulis ide-idenya, namun ketika bertugas di pemerintahan—sebagai Wakil Presiden (1945-1956), Perdana Menteri (1948-1950), dan Menteri Luar Negeri (1949-1950)—ia menerapkan banyak idenya, mendirikan beberapa koperasi. Di Indonesia termasuk koperasi pertanian, koperasi bank dan credit unions. Layanan keuangan ini diberikan kepada petani kecil dan pengrajin yang terpinggirkan yang tidak dapat mengakses layanan perbankan tradisional.

Hatta juga salah satunya Ciptakan pendukung Dewan Koperasi Indonesia (Dewan Koperasi Indonesia) pada tahun 1947. Promosi pendidikan dan pelatihan koperasi oleh dewan ini memainkan peran penting dalam perluasan koperasi di Indonesia.

READ  'Nasib kami tidak jelas': Pria Indonesia membayar deposit £1.000 untuk pekerjaan pertanian di Inggris | Imigrasi dan Suaka

Muhammad Hatta dan gerakan mundur

Pemikiran Hatta tentang koperasi dilandasi oleh prinsip kepemilikan kolektif dan pengambilan keputusan partisipatif. Ia percaya bahwa dengan mengumpulkan sumber daya dan bekerja secara kooperatif, individu dapat menciptakan sistem ekonomi yang lebih kuat dan lebih adil yang dapat memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat, bukan hanya segelintir orang yang mempunyai hak istimewa.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, hal ini mempunyai arti penting bagi gerakan perlambatan pertumbuhan modern, yang bertujuan untuk menciptakan sistem ekonomi yang berkelanjutan dan egaliter, dengan memprioritaskan kesejahteraan individu dan planet bumi dibandingkan pertumbuhan dan konsumsi yang berkelanjutan. Aspek kunci dari agenda perlambatan pertumbuhan adalah dorongan menuju perekonomian yang lebih terdesentralisasi dan terlokalisasi. Hal ini memerlukan peralihan dari sistem produksi dan konsumsi yang mengglobal dan menuju model berbasis masyarakat yang memprioritaskan sumber daya dan kebutuhan lokal.

Ide-ide Hatta tentang ekonomi koperasi sangat cocok dengan strategi ini, karena mendorong kepemilikan kolektif dan pengambilan keputusan yang demokratis, serta mendorong pengembangan sistem ekonomi berbasis masyarakat berdasarkan sumber daya dan kebutuhan lokal.

Koperasi dapat mendorong distribusi kekuatan ekonomi yang lebih adil di antara individu-individu dalam suatu komunitas dengan mendukung kepemilikan bersama dan pengambilan keputusan yang partisipatif. Hal ini dapat mengarah pada pengembangan sistem ekonomi yang lebih tangguh, sehingga masyarakat dapat beradaptasi secara lebih efektif terhadap kondisi yang terus berkembang.

Selain itu, koperasi mempunyai potensi untuk memfasilitasi pengembangan metode produksi dan konsumsi yang lebih ramah lingkungan. Koperasi dapat mendorong pengutamaan kesejahteraan masyarakat dan lingkungan dibandingkan keuntungan finansial langsung dengan menekankan pentingnya tanggung jawab masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan setempat.

Hal ini juga dapat mengarah pada penerapan metode produksi dan konsumsi yang lebih berkelanjutan, seperti pertanian organik, energi terbarukan, dan produksi lokal. Koperasi menyediakan kerangka kerja untuk mengeksplorasi dan menguji model ekonomi baru, yang memungkinkan anggotanya mengeksplorasi ide dan teknologi baru. Hal ini dapat mengarah pada pengembangan kerangka ekonomi yang lebih tahan lama yang dapat direplikasi dan diperluas oleh masyarakat lain.

READ  Indonesia mengatakan Piagam Ekonomi Digital ASEAN akan membawa perubahan

Mengapa Muhammad Hatta masih penting?

Mohammed Hatta adalah seorang pemikir progresif, dan ide-idenya mengenai ekonomi koperasi merupakan gambaran awal dari gerakan penurunan pertumbuhan saat ini.

Ide-ide ekonominya menawarkan alternatif yang layak dan adil terhadap model kapitalis yang mendorong kesenjangan sosial dan degradasi lingkungan. Mereka mempunyai pengaruh yang besar terhadap gerakan koperasi di Indonesia dan luar negeri. Mereka masih dapat menjadi inspirasi bagi para ilmuwan, aktivis, dan anggota parlemen yang berupaya membangun dunia yang lebih adil dan ramah lingkungan.

Mengingat kesulitan yang kita hadapi saat ini, seperti perubahan iklim, kesenjangan sosial, dan ketidakstabilan ekonomi, penting bagi kita untuk mempertimbangkan secara cermat model ekonomi alternatif yang mengedepankan keberlanjutan dan keadilan.

Menganut konsep ekonomi kolaboratif dan desentralisasi yang diusung Hatta dapat membantu menciptakan masa depan di mana kemajuan ekonomi tidak mengorbankan kesejahteraan sosial dan lingkungan, namun lebih selaras dengan keduanya.