POSPAPUA

Ikuti perkembangan terkini Indonesia di lapangan dengan berita berbasis fakta PosPapusa, cuplikan video eksklusif, foto, dan peta terbaru.

Penangkapan Ikan dengan Bom Mengancam Terumbu Karang Indonesia

Penangkapan Ikan dengan Bom Mengancam Terumbu Karang Indonesia

Perairan Indonesia yang menjadi bagian dari Segitiga Terumbu Karang merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia. Namun, praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak terus mengancam ekosistem tersebut, termasuk terumbu karang di Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan.

Ribuan Ledakan Terdeteksi di Perairan Spermonde

Peneliti dari Zoological Society of London mencatat lebih dari 3.500 ledakan selama sekitar 3.600 jam pemantauan menggunakan perekam suara bawah laut di Kepulauan Spermonde.

Ledakan tersebut dikaitkan dengan praktik penangkapan ikan menggunakan bom. Metode yang dilarang secara global ini biasanya memanfaatkan botol plastik berisi bahan peledak untuk melumpuhkan dan membunuh ikan dalam radius sekitar 27 meter.

Praktik serupa telah ditemukan sedikitnya di 34 negara. Selain membunuh ikan secara tidak selektif, ledakan dapat menghancurkan struktur terumbu karang yang menjadi tempat berlindung, mencari makan, dan berkembang biak bagi berbagai organisme laut.

“Penangkapan ikan dengan bom kemungkinan besar merupakan penyebab utama hilangnya terumbu karang di wilayah ini,” kata Ben Williams, penulis utama penelitian tersebut. Menurutnya, satu ledakan dapat menghancurkan sekitar 18,6 meter persegi terumbu.

“Terumbu yang indah ini berubah menjadi lanskap yang terlihat seperti permukaan bulan. Hanya puing-puing dan karang mati dengan sangat sedikit tanda kehidupan.”

Teknologi AI Membantu Mendeteksi Ledakan

Ratusan alat perekam dipasang di dasar laut

Peneliti dari Inggris dan Indonesia memasang 150 alat perekam suara pada tiang pendek di dasar laut. Rekaman selama 16 bulan kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi suara yang diduga berasal dari ledakan.

Setiap suara yang ditandai oleh sistem tetap diperiksa secara manual. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan apakah suara benar-benar berasal dari bom atau sumber lain, seperti gangguan mesin kapal.

Karena suara merambat lebih dari empat kali lebih cepat di dalam air dibandingkan di udara, para ilmuwan dapat mendeteksi ledakan dari jarak lebih dari 16 kilometer.

“Ketika bom berada dekat, suaranya sangat keras hingga terasa mengguncang tubuh,” kata Williams. “Namun, jika Anda mengangkat kepala ke permukaan, Anda mungkin bahkan tidak dapat melihat kapal yang melakukannya.”

Dengan memperhitungkan gangguan akibat musim badai dan alat perekam yang dirusak, tim memperkirakan lebih dari 8.500 ledakan kemungkinan terjadi setiap tahun di wilayah seluas sekitar 906 kilometer persegi.

Frekuensinya diperkirakan mencapai satu ledakan setiap 62 menit. Menurut Williams, luas terumbu yang dihancurkan setiap tahun setara dengan sekitar tiga lapangan sepak bola.

Kerusakan Terumbu Karang Sulit Dipulihkan

Sekitar 75 persen karang di Kepulauan Spermonde diperkirakan telah hilang sejak 1990 akibat kombinasi aktivitas manusia, pemutihan karang, dan meningkatnya suhu laut.

Melissa Hampton-Smith, peneliti pascadoktoral di James Cook University, Australia, mengatakan ledakan berulang menciptakan hamparan puing karang yang terus bergeser.

“Ledakan berulang menciptakan bidang puing yang bergeser dan mencegah anakan karang keras menempel dan tumbuh, sehingga regenerasi alami dan pemulihan terumbu menjadi sulit atau bahkan mustahil,” katanya.

Data penelitian juga menunjukkan bahwa penangkapan ikan dengan bom berlangsung sepanjang tahun. Aktivitas tersebut mencapai puncaknya pada pagi hari dan menurun secara signifikan pada Jumat, yang merupakan hari penting untuk kegiatan ibadah masyarakat Muslim setempat.

Penegakan Hukum Masih Menjadi Tantangan

Penggunaan bom ikan sering dikaitkan semata-mata dengan kemiskinan dan tekanan ekonomi. Namun, para ahli menilai faktor pendorongnya lebih kompleks. Biaya untuk memperoleh kapal, bahan peledak, dan detonator menunjukkan praktik tersebut lebih mungkin dilakukan oleh nelayan berpenghasilan menengah.

“Kombinasi berbagai faktor mendorong penangkapan ikan dengan bom, termasuk lemahnya penegakan hukum dan pengelolaan,” kata Hampton-Smith.

Ledakan juga bersifat tidak selektif karena membunuh berbagai spesies tanpa mempertimbangkan usia maupun ukuran.

“Pengelolaan seluruh praktik penangkapan ikan ilegal, termasuk penangkapan dengan bom, sangat kompleks dan berbeda dari satu tempat ke tempat lain, tetapi secara umum penegakan hukum yang adil, konsisten, dan memiliki legitimasi merupakan kunci,” ujarnya.

Pengawasan menjadi tantangan besar bagi Indonesia yang memiliki lebih dari 28 juta hektare kawasan konservasi perairan. Luas wilayah tersebut membuat aparat kesulitan menemukan dan menghentikan pelaku ketika pengeboman berlangsung.

Sensor Suara Berpotensi Memperkuat Pengawasan

Jamaluddin Jompa, profesor riset Universitas Hasanuddin dan salah satu penulis penelitian, mengatakan kecepatan kerusakan akibat pengeboman membuat program restorasi terumbu karang sulit mengimbanginya.

“Upaya restorasi kesulitan mengimbangi tingkat kerusakan yang begitu cepat akibat pengeboman,” kata Jompa. “Tindakan segera untuk mengatasi penangkapan ikan dengan bom diperlukan.”

Williams berharap penelitian tersebut dapat menjadi dasar pembangunan jaringan sensor suara yang disinkronkan dengan GPS. Teknologi itu berpotensi membantu otoritas kelautan mendeteksi sekaligus menentukan lokasi ledakan secara waktu nyata.

Berbeda dengan pemutihan karang dan pemanasan laut yang membutuhkan penanganan dalam skala luas, penghentian penangkapan ikan dengan bom dapat memberikan dampak langsung di tingkat lokal.

“Karena penangkapan ikan dengan bom merupakan tekanan akut, kerusakannya dapat diatasi melalui restorasi,” kata Williams. “Jika penangkapan ikan dengan bom dihentikan dan terumbu dipulihkan, terumbu tersebut seharusnya dapat kembali sehat dan berkembang untuk waktu yang cukup lama.”