POSPAPUA

Ikuti perkembangan terkini Indonesia di lapangan dengan berita berbasis fakta PosPapusa, cuplikan video eksklusif, foto, dan peta terbaru.

Saluran Kecil di Leher Bisa Berperan dalam Menentukan Penuaan Otak

Saluran Kecil di Leher Bisa Berperan dalam Menentukan Penuaan Otak

Seiring bertambahnya usia, perubahan pada otak ternyata mungkin tidak hanya dipengaruhi oleh proses yang terjadi di dalam jaringan saraf. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sistem limfatik yang membantu mengalirkan cairan dan membuang limbah dari sistem saraf pusat juga mengalami penurunan fungsi, dengan kelenjar getah bening di leher menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian ilmuwan.

Kelenjar Getah Bening Leher Menyusut Seiring Usia

Analisis sistematis terhadap 96 penelitian yang telah melalui penelaahan sejawat menemukan bahwa penyusutan kelenjar getah bening di leher merupakan karakteristik yang konsisten dalam proses penuaan.

Dampaknya terhadap otak masih belum sepenuhnya diketahui. Namun, pada bagian tubuh lain, penuaan sistem limfatik telah dikaitkan dengan penyembuhan luka yang lebih lambat dan menurunnya kemampuan pertahanan sistem imun.

Temuan tersebut memunculkan pertanyaan apakah perlambatan drainase limfatik dari kepala dapat menyebabkan penumpukan cairan, produk limbah, atau patogen di dalam maupun di sekitar otak.

“Apa yang paling mengejutkan saya adalah betapa konsistennya bukti yang mengarah ke luar otak itu sendiri,” kata ahli saraf Onder Albayram dari Medical University of South Carolina.

Menurut Albayram, gangguan pembersihan mungkin bukan sekadar masalah lokal di dalam otak, tetapi dapat mencerminkan penurunan komunikasi antara otak dan sistem drainase di luar sistem saraf pusat.

Leher Menjadi Bagian Penting Sistem Pembuangan Otak

Kelenjar getah bening servikal dalam merupakan organ imun di kepala dan leher yang menerima serta membersihkan cairan limfatik. Struktur tersebut membantu menangkap patogen serta sel tua atau abnormal.

Tubuh manusia memiliki sekitar 800 kelenjar getah bening, dan sekitar 300 di antaranya berada di wilayah servikal. Jumlah yang besar ini menunjukkan pentingnya kawasan leher dalam sistem limfatik tubuh.

Pemahaman ilmuwan mengenai fungsi tersebut berubah setelah ditemukannya sistem limfatik pada meninges, yakni membran yang menyelimuti otak. Penelitian berikutnya menemukan bukti adanya jaringan serupa pada manusia.

Cairan Serebrospinal dan Sistem Glimfatik

Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa pembuluh limfatik pada meninges dapat mengalir menuju kelenjar getah bening di leher. Jalur ini juga membawa sebagian cairan serebrospinal yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang.

Cairan tersebut berinteraksi dengan bagian dalam otak dan membantu pertukaran produk limbah serta sinyal imun dengan cairan di antara neuron. Mekanisme pembersihan ini berkaitan dengan sistem glimfatik.

“Selama bertahun-tahun, para peneliti berfokus pada bagaimana limbah bergerak melalui otak, tetapi kurang memperhatikan apa yang terjadi setelah material tersebut mencapai batas otak,” ujar Albayram.

Ia menilai sistem glimfatik, pembuluh limfatik meninges, dan kelenjar getah bening servikal sebaiknya dipandang sebagai bagian dari satu jalur pembersihan yang saling terhubung.

Potensi Hubungan dengan Alzheimer dan Parkinson

Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa drainase limfatik dari meninges dapat memiliki peran penting dalam penyakit neurologis, termasuk Alzheimer dan Parkinson.

Protein yang berkaitan dengan sistem saraf pusat, termasuk amyloid-beta dan tau terfosforilasi, diketahui dapat ditemukan dan dalam beberapa kasus terkonsentrasi di kelenjar getah bening servikal.

Dalam penelitian terhadap 25 peserta dengan penyakit neurologis autoimun, para ilmuwan mengambil sampel kelenjar getah bening di leher.

“Kami menemukan kadar tinggi protein yang biasanya menjadi ciri penyakit Alzheimer dalam sampel kelenjar getah bening dari orang yang lebih muda,” kata ilmuwan klinis Adam Al-Diwani dari University of Oxford.

Menurutnya, hasil tersebut mendukung hipotesis bahwa kelenjar getah bening berfungsi sebagai area drainase bagi otak. Namun, fungsi tersebut terlihat menurun pada orang yang lebih tua, sehingga para peneliti menggambarkannya sebagai semacam “tempat pembuangan bagi otak”.

Albayram menekankan bahwa pengukuran kelenjar getah bening servikal belum dapat digunakan sebagai biomarker klinis. Penelitian jangka panjang pada manusia masih diperlukan untuk menentukan apakah perubahan pada kelenjar tersebut berkontribusi terhadap penyakit, merupakan respons terhadap penyakit, atau hanya menyertai proses penuaan.

Perubahan Sistem Drainase Terlihat pada Usia Lanjut

Sebagian besar penelitian mengenai sistem limfatik otak sejauh ini menggunakan model hewan dan teknologi pencitraan beresolusi tinggi pada manusia.

Studi MRI menunjukkan bahwa orang berusia di atas 50 tahun cenderung memiliki kelenjar getah bening servikal yang relatif lebih kecil serta penebalan saluran limfatik dibandingkan kelompok usia lebih muda. Drainase melalui sistem glimfatik juga tampaknya melambat seiring bertambahnya usia.

Belum diketahui secara pasti apakah kedua temuan tersebut saling berkaitan.

Dalam penelitian praklinis pada tikus, perlambatan pembuluh limfatik meninges menyebabkan lebih banyak produk sampingan beracun yang berkaitan dengan penyakit mengendap di otak. Sebaliknya, peningkatan fungsi drainase limfatik menunjukkan potensi membantu pemulihan setelah stroke dan meningkatkan kemampuan memori pada hewan tua.

Sejumlah peneliti juga sedang mengembangkan perangkat noninvasif yang ditujukan untuk membantu pembuluh limfatik di leher memompa cairan secara lebih efektif. Tim lain meneliti penggunaan karbon dioksida untuk merangsang sistem drainase otak dalam upaya memahami pendekatan baru terhadap penyakit seperti Parkinson.

Penelitian Klinis Masih Menjadi Kunci

Para ilmuwan mengingatkan bahwa temuan pada hewan belum tentu memberikan hasil yang sama pada manusia. Interpretasi teknologi pencitraan juga harus dilakukan dengan hati-hati karena sejumlah sinyal pada MRI berpotensi keliru dianggap sebagai jaringan limfatik.

Albayram berharap penelitian berikutnya dapat beralih dari sekadar mengamati struktur limfatik individual menuju pengukuran keseluruhan jalur pembersihan dari otak hingga leher pada manusia hidup.

Pertanyaan terpenting kini adalah apakah gangguan sistem limfatik hanya merupakan konsekuensi dari penuaan otak atau justru menjadi salah satu proses yang menentukan kecepatannya. Jika peran tersebut dapat dibuktikan, jaringan drainase yang dapat diakses melalui leher berpotensi membuka cara baru untuk mempelajari, memantau, dan pada akhirnya menangani perubahan otak yang berkaitan dengan usia.