POSPAPUA

Ikuti perkembangan terkini Indonesia di lapangan dengan berita berbasis fakta PosPapusa, cuplikan video eksklusif, foto, dan peta terbaru.

Varian COVID-19 BA.5 masih lazim meskipun munculnya XBB: govt

Jakarta (Antara) – Varian BA.5 dari COVID-19 Omicron tetap dominan di Indonesia meskipun infeksi sekunder XBB telah dilaporkan di negara tersebut, menurut seorang pejabat dari Kementerian Kesehatan.

Direktur Pemantauan dan Karantina Kementerian Kesehatan, Ahmed Farshani Tri Adrianto, mengatakan dalam acara virtual bertajuk “Menghadapi variabel baru: Penguatan protokol kesehatan: vaksinasi lengkap” pada Kamis.

Menurut Adryanto, hingga Kamis (27/10), angka positif Covid-19 di Indonesia meningkat menjadi 10,23 persen.

Berdasarkan data Cov-Spectrum per 19 Oktober 2022, enam dari 24 negara terinfeksi XBB mengalami peningkatan kasus tertinggi karena varian XBB, seperti Bangladesh, dengan peningkatan 100 persen; Singapura 73,30 persen; India 16,70 persen; Kamboja 7,10 persen; Australia 3,30 persen; dan Austria 2,50 persen.

Sementara itu, Singapura, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Kanada, Selandia Baru, Brunei, dan Indonesia menjadi delapan negara yang menunjukkan tren peningkatan jumlah kasus positif COVID-19.

Adryanto mencatat empat kasus XBB di Indonesia terdiri dari tiga kasus ditemukan di Jakarta dan satu kasus di Jawa Timur.

Dia mencatat bahwa tiga pasien memiliki gejala ringan, sementara yang lain memiliki gejala.

Dia lebih lanjut mencatat bahwa dua dari empat pasien memiliki riwayat perjalanan ke Singapura.

Adryanto optimistis masyarakat tidak meremehkan nilai variabel XBB karena laju penularan yang terlalu cepat, sehingga Indonesia tidak perlu menghadapi gelombang COVID-19 lagi di tahun baru.

“Secara global atau di Indonesia kasusnya cenderung meningkat. Oleh karena itu, kami sampaikan kepada masyarakat agar lebih waspada,” ujarnya.

Berita Terkait: Tekanan Kementerian untuk mengintensifkan liputan dukungan sebelum Natal
Berita Terkait: Pemerintah memperketat pemantauan pelancong dari negara-negara ketika COVID-19 meningkat