POSPAPUA

Ikuti perkembangan terkini Indonesia di lapangan dengan berita berbasis fakta PosPapusa, cuplikan video eksklusif, foto, dan peta terbaru.

Transformasi perekonomian Indonesia berbasis pengetahuan

Transformasi perekonomian Indonesia berbasis pengetahuan

Hal ini menjadi salah satu elemen kunci dalam cetak biru teknokratis Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025-2045 yang disusun oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Babinas.

Upaya untuk mencapai tujuan tersebut memerlukan transformasi ekonomi. Sebuah transformasi yang mampu mengubah struktur perekonomian Indonesia dari ekonomi berbasis sumber daya menjadi ekonomi berbasis pengetahuan. Dengan kata lain mengandalkan sektor industri yang mempunyai nilai tambah tinggi yang didukung oleh ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi sehingga perekonomian menjadi lebih produktif, efisien dan berdaya saing tinggi.

Indeks nilai ekspor teknologi menengah dan tinggi (Ekspor teknologi menengah ke tinggi) sering digunakan untuk mengetahui dampak penyebaran pengetahuan, teknologi, dan inovasi terhadap sistem produksi suatu negara.

Berdasarkan statistik perdagangan luar negeri Indonesia dengan kode International Standard Industrial Classification (ISIC) tahun 2021-2022 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), dan berdasarkan Laporan Indikator Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Riset dan Inovasi yang dikeluarkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional. Badan Inovasi (BRIN) pada tahun 2023, Ekspor barang manufaktur industri berteknologi rendah pada tahun 2022 menjadi US$93,5 miliar. Sedangkan impor sebesar US$33,7 miliar sehingga menghasilkan surplus sekitar US$59,8 miliar.

Nilai ekspor produk teknologi mencapai US$112,6 miliar pada tahun yang sama, sedangkan impor sebesar US$170,2 miliar sehingga menimbulkan defisit sekitar US$57,6 miliar. Statistik tersebut menunjukkan bahwa dampak pengetahuan, teknologi dan inovasi terhadap sektor industri di Indonesia masih terbatas pada produk industri berteknologi rendah.

Angka statistik tersebut menunjukkan bahwa dampak pengetahuan, teknologi dan inovasi terhadap sektor industri di Indonesia masih terbatas pada produk industri berteknologi rendah.

Rendahnya kinerja ekonomi berbasis pengetahuan Indonesia juga konsisten dengan peringkat inovasi, sitasi karya ilmiah, dan kepemilikan paten AS, serta indeks kompleksitas ekonomi Indonesia yang menempati peringkat terakhir di ASEAN-6 (Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam , dan Indonesia).

READ  Indonesia menjanjikan keuntungan yang tinggi bagi investor pariwisata di AIM Abu Dhabi

Kegagalan pasar

Mark Zachary Taylor dalam bukunya Kebijakan inovasiIa mengemukakan, tingkat inovasi suatu negara antara lain ditentukan oleh faktor kegagalan pasar. Kegagalan pasar terjadi ketika pasar tidak mengalokasikan sumber daya atau tidak mendorong kegiatan penelitian, pengembangan, dan inovasi.

Hal ini dibuktikan dengan lebih rendahnya belanja penelitian dan pengembangan pada tahun 2022, yang hanya mencapai 0,1% PDB (lebih rendah dibandingkan Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam). Dari 0,1% PDB, pengeluaran penelitian dan pengembangan pemerintah dan universitas berjumlah 0,08% PDB. Hal ini menyebabkan publikasi dengan sitasi dan paten yang rendah seringkali tidak menghasilkan inovasi. Sementara belanja litbang di sektor industri hanya sebesar 0,02% PDB.

Menurunnya pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan (R&D) di sektor industri telah menyebabkan kurangnya kesempatan kerja di bidang STEM.Sains, teknologi, teknik dan matematika) lulusan. Hal ini pada gilirannya menyebabkan menurunnya minat mempelajari bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Hal ini terlihat dari data Institute of International Education (IIE) bahwa jumlah pelajar Indonesia per juta penduduk yang mempelajari STEM di Amerika Serikat merupakan yang terendah di antara enam negara ASEAN.

Ada banyak faktor yang menyebabkan kegagalan pasar. Faktor pertama adalah hambatan masuk/keluar. Pasar inovasi menghadapi hambatan masuk yang tinggi karena tingginya biaya penelitian dan pengembangan, lemahnya perlindungan kekayaan intelektual, dan lemahnya pemodal ventura. Selain itu, tenaga kerja terampil tidak tersedia atau langka, terutama di bidang STEM.

Sementara itu, perusahaan yang tidak produktif enggan keluar (KELUAR) menyebabkan inefisiensi ekonomi. Hambatan masuk ini terlihat dari tingkat kepadatan usaha baru di Indonesia, atau khususnya jumlah usaha baru yang terdaftar per 1.000 penduduk usia kerja, yang merupakan angka terendah di Grup 6 Asia Tenggara. Kehadiran wirausaha baru mempunyai peranan penting dalam penerapan inovasi terobosan karena perusahaan yang sudah ada hanya tertarik untuk menerapkan inovasi secara bertahap.

READ  Penangkapan ikan berlebihan muncul saat Indonesia berjuang untuk memenuhi target perikanannya: sebuah studi berbasis masyarakat

Faktor kedua adalah monopoli/oligopoli dan perburuan rente. Perusahaan besar dengan kekuatan monopoli/oligopoli mempunyai lebih sedikit insentif untuk berinovasi. Sebab, mereka bisa mempertahankan keuntungan tanpa harus berinovasi. Hal ini terlihat dari menurunnya belanja perusahaan untuk penelitian dan pengembangan.

Akibatnya, pasar mengalami stagnasi dan inovasi secara keseluruhan dalam industri, yang didominasi oleh beberapa pemain kuat, berkurang. Selain itu, praktik-praktik penyewa, seperti perlindungan tarif, kuota impor, dan subsidi, menyebabkan distorsi pasar. Investasi pada sektor-sektor produktif juga terhambat, sementara industri-industri yang tidak produktif terus berlanjut.

Menurunnya pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan (R&D) di sektor industri telah menyebabkan kurangnya kesempatan kerja di bidang STEM.Sains, teknologi, teknik dan matematika) lulusan.

Faktor ketiga adalah kuatnya daya tarik sektor ekstraktif, yang menyebabkan tidak efisiennya alokasi sumber daya (manusia, keuangan, dan infrastruktur). Hal ini disebabkan oleh penggunaan sumber daya yang tidak proporsional pada sektor ini dan merugikan sektor lain, termasuk industri manufaktur.

Faktor keempat adalah korupsi. Korupsi menghambat inovasi dan kewirausahaan. Alasannya adalah terbentuknya lingkungan di mana kesuksesan bisnis dicapai melalui komunikasi dan praktik yang korup, bukan melalui inovasi dan daya saing bisnis.

Perlu dan harus

Pergeseran menuju perekonomian berbasis pengetahuan akan terjadi jika kegagalan pasar dapat diatasi. Hal ini dimulai dengan upaya membangun ekosistem industri atau bisnis yang kompetitif. Hal ini dilakukan dengan mengurangi peluang rent-seeking dan korupsi, serta menciptakan kesetaraan bagi seluruh pelaku usaha dengan mencegah praktik persaingan usaha tidak sehat (monopoli/oligopoli).

Selain itu, upaya harus dilakukan untuk memfasilitasi masuknya (pintu masuk) untuk perusahaan produktif baru dan mendorong mereka KELUAR Pekerjaan yang tidak produktif. Sejalan dengan itu, diversifikasi industri didorong serta pengembangan ekonomi ekstraktif.

READ  Hubungan ekonomi bilateral Indonesia dan Malaysia terus mengalami kemajuan

Tanpa ekosistem industri/bisnis yang kompetitif, ekosistem inovasi tidak dapat dibangun. Situasi ini akan menyebabkan misalokasi sumber daya yang pada akhirnya menyebabkan perekonomian Indonesia tetap bergantung pada industri ekstraktif.

Jika hal itu terjadi, maka upaya mencapai Visi Emas Indonesia 2045 hanya tinggal impian. Generasi masa depan Indonesia akan tetap terjebak dalam jebakan negara berpendapatan menengah.

Baca juga: Transformasi Ekonomi Pasca Pandemi

Cheryl AbediniSekretaris Jenderal Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI)