Para ilmuwan menemukan petunjuk baru tentang asal-usul cara berjalan menyamping pada kepiting—perilaku unik yang selama ini menjadi ciri khas hewan tersebut. Studi terbaru yang dirilis sebagai Reviewed Preprint di jurnal eLife menggabungkan dataset terbesar sejauh ini terkait pola pergerakan kepiting, dan menelusuri asal-usulnya hingga sekitar 200 juta tahun lalu.
Penelitian ini dinilai memberikan kontribusi penting bagi pemahaman ilmiah mengenai evolusi perilaku gerak hewan, sebuah bidang yang juga relevan dalam studi keanekaragaman hayati, termasuk di negara kepulauan seperti Indonesia yang kaya akan spesies krustasea.
Pentingnya Gerakan Menyamping
Berjalan menyamping merupakan karakteristik utama “kepiting sejati” (Brachyura), kelompok terbesar dalam ordo krustasea berkaki sepuluh (decapoda). Cara bergerak ini diduga memberikan keuntungan adaptif, salah satunya dalam menghindari predator karena arah geraknya sulit diprediksi.
Menurut Yuuki Kawabata, profesor di Nagasaki University, Jepang, “gerakan menyamping kemungkinan besar berkontribusi besar terhadap keberhasilan ekologis kepiting sejati.” Saat ini, terdapat sekitar 7.904 spesies kepiting sejati, jauh lebih banyak dibandingkan kelompok kerabat dekatnya seperti Anomura dan Astacidea.
Kepiting sejati juga diketahui mampu beradaptasi di berbagai habitat, mulai dari daratan, air tawar, hingga laut dalam—mirip dengan kondisi Indonesia yang memiliki ekosistem pesisir, mangrove, hingga laut dalam yang luas. Bentuk tubuh menyerupai kepiting bahkan telah berevolusi berulang kali dalam fenomena yang disebut carcinization.
Namun, meski data tentang morfologi kepiting cukup melimpah, informasi tentang perilaku geraknya masih terbatas. Tidak semua kepiting berjalan menyamping—beberapa spesies justru bergerak maju—yang memunculkan pertanyaan tentang asal-usul variasi ini.
Melacak Pola Gerak Antarspesies
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Kawabata dan tim meneliti pola gerak dari 50 spesies kepiting sejati. Setiap spesies direkam selama 10 menit menggunakan kamera standar dalam arena berbentuk lingkaran yang menyerupai habitat aslinya.
Karena keterbatasan teknis, hanya satu individu dari tiap spesies yang diamati. Meski demikian, data ini kemudian dikombinasikan dengan peta filogenetik (hubungan evolusi) yang mencakup 344 spesies berdasarkan analisis 10 gen utama.
Untuk menyederhanakan analisis, peneliti mengelompokkan data menjadi 44 genus, lima famili, dan satu superfamili, sehingga tetap mencerminkan hubungan evolusi meski tidak semua spesies diamati langsung.
Satu Perubahan Evolusi yang Menentukan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 50 spesies yang diamati, 35 spesies berjalan menyamping, sementara 15 lainnya berjalan maju. Ketika data ini dipetakan ke dalam pohon evolusi, muncul pola yang jelas: gerakan menyamping tampaknya hanya berevolusi satu kali.
Perubahan ini berasal dari nenek moyang yang berjalan maju, tepatnya di awal kelompok Eubrachyura—kelompok kepiting yang lebih “maju” secara evolusi. Setelah itu, perilaku tersebut relatif tetap dan tidak banyak berubah.
Kawabata menekankan bahwa temuan ini berbeda dengan fenomena carcinization yang terjadi berulang kali. “Bentuk tubuh bisa berevolusi berkali-kali, tetapi perubahan perilaku seperti cara berjalan ternyata jauh lebih jarang terjadi,” ujarnya.
Inovasi Kunci untuk Bertahan Hidup
Peralihan tunggal ke gerakan menyamping ini diduga menjadi faktor penting dalam keberhasilan kepiting sejati. Gerakan lateral memungkinkan kepiting bergerak cepat ke dua arah tanpa harus memutar tubuh, sehingga meningkatkan peluang menghindari predator.
Namun, cara bergerak ini juga jarang ditemukan pada hewan lain karena dapat mengganggu aktivitas penting seperti menggali, kawin, atau mencari makan.
Peneliti mencatat bahwa gerakan menyamping mungkin merupakan inovasi evolusi yang unik, hanya ditemukan pada kelompok tertentu seperti kepiting sejati, laba-laba kepiting, dan nimfa serangga tertentu.
Peran Lingkungan dalam Evolusi
Selain faktor biologis, penelitian ini juga menyoroti pentingnya perubahan lingkungan dalam mendorong evolusi. Para ilmuwan memperkirakan bahwa gerakan menyamping muncul sekitar 200 juta tahun lalu, pada awal periode Jurassic.
Saat itu, bumi mengalami perubahan besar, termasuk pecahnya superbenua Pangaea, meluasnya laut dangkal, serta revolusi ekologi laut Mesozoikum. Kondisi ini membuka banyak peluang baru bagi spesies untuk berkembang dan beradaptasi.
Dalam konteks modern, hal ini mengingatkan bahwa perubahan lingkungan—termasuk yang dipicu aktivitas manusia—dapat memengaruhi evolusi dan kelangsungan hidup spesies.
Memperluas Pemahaman tentang Pergerakan Hewan
Studi ini memberikan gambaran bahwa inovasi perilaku, meskipun jarang, dapat memberikan dampak besar terhadap keberhasilan suatu kelompok hewan. Namun, inovasi tersebut tetap dipengaruhi oleh sejarah evolusi dan kondisi lingkungan.
Dengan menggabungkan observasi langsung dan analisis filogenetik, penelitian ini memperluas pemahaman ilmuwan tentang bagaimana pola pergerakan hewan berkembang dan bertahan לאורך waktu evolusi.
Kesimpulan
Gerakan menyamping pada kepiting bukan sekadar ciri unik, melainkan hasil dari satu perubahan evolusi penting sekitar 200 juta tahun lalu. Inovasi ini membantu kepiting bertahan dan berkembang di berbagai habitat. Temuan ini menegaskan bahwa kombinasi antara adaptasi biologis dan perubahan lingkungan memainkan peran kunci dalam perjalanan evolusi makhluk hidup.

“Incredibly charming gamer. Web guru. TV scholar. Food addict. Avid social media ninja. Pioneer of hardcore music.”

More Stories
Teleskop James Webb Temukan “Angin Pembunuh Galaksi” di Awal Alam Semesta, Bisa Jadi Gambaran Masa Depan Bima Sakti
Badan Antariksa Amerika Serikat Umumkan Awak Misi Kembali ke Bulan
Kesempatan Terakhir Menyaksikan Komet Pan-STARRS pada Puncak Kecerlangan