POSPAPUA

Ikuti perkembangan terkini Indonesia di lapangan dengan berita berbasis fakta PosPapusa, cuplikan video eksklusif, foto, dan peta terbaru.

Indonesia berupaya melakukan diversifikasi sumber pangan

Indonesia berupaya melakukan diversifikasi sumber pangan

Para ahli menyerukan masyarakat Indonesia untuk melakukan diversifikasi pola makan dengan mengganti nasi dengan bahan pati lain karena pasokan beras dalam negeri tidak dapat memenuhi permintaan.

Petani mengeringkan batang padi saat panen di desa Jatiluwih, Tabanan, Bali, Indonesia. (Foto: Antara)

Jakarta (VNA) – Para ahli menyerukan masyarakat Indonesia untuk melakukan diversifikasi pola makan dengan mengganti nasi dengan bahan pati lain karena pasokan beras dalam negeri tidak dapat memenuhi permintaan.

Karena produksi beras nasional tidak mampu memenuhi permintaan, banyak pihak yang mengusulkan diversifikasi pangan lokal, namun konsumsi beras sudah mengakar kuat dalam budaya Indonesia, dan beralih ke pangan alternatif saja tidak akan menyelesaikan permasalahan struktural dalam pertanian dalam negeri.

Namun, data Badan Pusat Statistik (PPS) menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia saat ini mengonsumsi lebih sedikit nasi dibandingkan beberapa tahun lalu. Konsumsi per kapita menurun dari 1,7 kg per minggu pada tahun 2007 menjadi 1,5 kg pada tahun 2023.

Menurut Kutori, pakar pertanian di Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), meskipun konsumsi per kapita menurun, total konsumsi terus tumbuh seiring dengan pertumbuhan penduduk, sehingga bergantung pada impor untuk memenuhi permintaan nasional.

Ia mengatakan, ketidaktersediaan lahan merupakan salah satu masalah terbesar yang mempengaruhi produksi padi di tengah pengalihan lahan yang luas untuk penggunaan lain.

Ia menekankan bahwa beralih dari ketergantungan pada beras sebagai karbohidrat alternatif bukanlah solusi nyata, seperti halnya roti, misalnya, kurangnya produksi gandum dalam negeri akan membuat Indonesia bergantung pada impor.

Arief Prasetyo Adi, Kepala Badan Pangan Nasional (Babanas), mengatakan pemerintah tidak memiliki rencana khusus untuk mendiversifikasi konsumsi, namun Arief menyarankan untuk mempopulerkan produk pangan yang memiliki akar lokal dalam sejarah daerah untuk mendorong alternatif. , seperti Papeda di Papua.

READ  Swiss Ikrar untuk Mendukung Dana Pandemi Global

Papanas memperkirakan pemerintah harus mengimpor 5 juta ton beras tahun ini, suatu jumlah yang merupakan rekor tertinggi. Namun, sejauh ini alokasi yang telah dicairkan hanya sebesar 3,6 juta ton./.