Pospapua.com
Peta sebaran titik panas di wilayah Indonesia. (foto : BKMG)
Nusantara

Titik Api di Papua Meningkat, BMKG Imbau Warga Tidak Bakar Lahan

Oleh : Achmad Syaiful |

Pospapua.com, Jayapura – Titik api atau hotspot di wilayah Papua mengalami peningkatan dua kali lipat. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) wilayah V Jayapura mendeteksi 87 titik api atau hotspot yang tersebar di sejumlah wilayah Papua, pada Rabu (11/9).

Kepala Sub Bidang Pelayanan Jasa Balai BMKG Wilayah V Jayapura Ezri Ronsumbre, Rabu (11/9) mengungkapkan,  87 titik api di wilayah Papua terpantau dengan tingkat kepercayaan diatas 80 persen. “Pantauan kami titik api meningkat pada hari ini. Total 87 titik api terdeteksi,” kata Ezri,

Tiga titik berada di Distrik Kopay, Kabupaten Asmat, 1 titik di Distrik Wesaput, Kabupaten Jayawijaya. 34 titik terpantau di 6 Distrik di Kabupatan Mappi, meliputi Distrik Citamitak, Haju, Minyamur, Nambionan, Obaa, dan Passue. Sementara 49 titik terpantau di 10 Distrik di Kabupaten Merauke.

“Untuk Merauke paling banyak terdeteksi titik api. Titik api terhilat di Distrik Animha, Ilwayab, Kimaam, Kurik, Merauke, Naukenjerai, Sota, Tabonji, Tanah Miring, Tubang dan Waan,” beber Ezri.

Dia menyebut beberapa hal yang menjadi faktor meningkatnya titik panas (hotspot) di Kabupaten Merauke. Kondisi topografi  yang merupakan daerah rawa dengan ilalang sehingga saat musim kemarau daerah tersebut menjadi kering dan mudah terbakar.

Aktifitas pembakaran lahan secara sengara oleh warga menambah jumlah titik hotspot di daerah tersebut. “Kondisi suhu udara pada siang hari yang panas antara suhu udara maksimum 33-34 derajat celcius, juga angin kencang yang terjadi dapat menyebabkan titik api cepat meluas,” ujar Ezri.

Faktor lainnya, lanjut Ezri, bulan September dan Oktober diperkirakan merupakan puncak musim kemarau di wilayah Merauke, dengan curah hujan lebih rendah dari bulan lainnya. Bahkan ada wilayah kategori ekstrem atau tidak terjadi hujan lebih dari 60 hari.

“Tidak adanya hujan dalam waktu panjang akan menyebabkan potensi kekeringan, ketersedian air tanah yang semkin sedikit,” katanya.

Ezri mengimbau warga setempat lebih berhati-hati dalam melakukan aktifitas pembakaran, baik sampah ataupun lahan untuk mencegah titik api semakin meluas dan kabut asap menebal yang dapat mengurangi jarak pandang dan mencemari udara. (Asi)

Baca Juga:

Investor Harus Bangun Kemitraan dengan Masyarakat Adat

Nethy Dharma Somba

Pemilu Kabupaten Nduga Dipusatkan di Kenyam

Nethy Dharma Somba

Arus Mudik dan Arus Balik, Bandara Sentani tetap Aman

Nethy Dharma Somba

Leave a Comment