Pospapua.com
Kendaraan padat merayap di jalantol. Foto: Sindo
OPINI

Terperosok Moda Angkutan Darat

Oleh: Daniel Mohammad Rosyid |

Setiap bulan, Surabaya kehilangan lahan seluas satu lapangan sepak bola untuk menampung banjir otomotif  

Pospapua.com, Jakarta — Banyak masyarakat awam dan pembuat kebijakan tidak menyadari atau menyadari tapi tidak berdaya untuk mengubah kondisi bahwa sejak 15 tahun terakhir ini Indonesia makin terperosok ke dalam jebakan moda angkutan  darat pribadi yang oleh mantan Menristek Kusmayanto Kadiman disebut single-mode trap.

Hingga saat ini, di seluruh kota di Indonesia, kondisi angkutan umum boleh dikatakan hidup segan matipun tak mau. Puncaknya adalah membanggakan pembangunan jalan tol yang mayoritas penggunanyapun mobil pribadi.

Awal Orde Baru diawali oleh investasi asing besar-besaran, termasuk industri mobil Jepang. Hampir semua moda transportasi diganti oleh moda jalan. Angkutan kereta api terpuruk, juga angkutan sungai. Mobil menjadi simbol kelas menengah yang paling kuat. Kota-kota dirancang untuk car mobility, bukan people mobility.

Makin besar cc mobil makin merajai jalanan. Pejalan kaki dan sepeda adalah pecundang-pecundang urban. Sementara itu, angkutan laut terbengkalai.

Pembuat kebijakan Orde Baru hingga saat ini masih melihat bahwa yang disebut infrastruktur transportasi itu hanya jalan dan jembatan, serta pelabuhan. Kapal disamakan denga bis atau truk, bukan infrastruktur. Padahal untuk negeri kepulauan ini, armada kapal harus dilihat sebagai jalan sekaligus truk. Kapal adalah infrastruktur bagi negara kepulauan seluas Eropa ini. Persatuan Indonesia tidak mungkin diwujudkan tanpa kemaritiman.

Dengan target produksi mobil sebesar sekitar 1 juta unit pertahun dan motor sebesar sekitar 9 juta unit pertahun, untuk Surabaya dan sekitarnya saja, ada 100 mobil baru dan 1200 motor baru perhari yang membanjiri jalan-jalannya.

Setiap bulan, Surabaya kehilangan lahan seluas satu lapangan sepak bola untuk menampung banjir otomotif ini. Pada saat jalan lingkar kota Surabaya belum sepenuhnya rampung, kemacetan sudah makin menandai jalan-jalan kota ini.

Mobil adalah jenis angkutan pribadi yang paling buruk. Ketergatungannya pada BBM membuatnya polutif dan unsustainable (tak berkelanjutan). Mobil juga tidak efisien. Angkutan paling efisien di perkotaan adalah sepeda dan berjalan kaki. Penduduk kota makin merasa ketidakefisienan ini. Tapi tekanan gaya hidup kelas menengah membuat merek terpaksa bermobil, bukan untuk kebutuhan transportasi, tapi untuk memenuhi keinginan eksis sebagai kelas menengah.

Ironisnya, mobil dan motor adalah pembunuh yang amat efektif. Korban mati di jalan telah mencapai sekitar 10 nyawa perhari di Jawa Timur saja. Belum kematian yang diakibatkan oleh gaya hidup yang makin pasif dan kurang aktif secara fisik. Padahal physical inactivity (fisik tak aktif) adalah pemicu berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes, jantung, stroke dan gagal ginjal yang banyak diderita generasi muda perkotaan.

Keterperosokan ini makin parah jika kita mau melihat konsekuensi energinya. Setiap mobil dan motor baru di pulau Jawa akan menuntut bahan bakar minyak agar tidak menjadi rongsokan canggih. Ini makin memperlebar ketimpangan distribusi energ. Konsumsi energi perkapita nasional saat ini mencapai sekitar 700 liter setara minyak. Tapi distribusinya sangat timpang. Untuk penduduk Jakarta, konsumsi merekabisa mencapai 5000 liter setara minyak, hampir menyamai konsumsi energi perkapita orang Jepang.

Bandingkan dengan konsumsi energi perkapita di Papua atau NTT yang masih sekitar 500 liter setara minyak pertahun. Hanya sepersepuluh konsumsi energi penduduk Jakarta. Ketertinggalan Kawasan Timur Indonesia bukan karena mereka bodoh apalagi malas, tapi karena ketimpangan konsumsi energi ini.

Tadi malam anak saya mengajak saya ke Semarang hari Jumat minggu ini, katanya mau mencoba mobil bekas yang baru saja dibelinya. Sekaligus mencoba jalan tol Surabaya-Semarang. Sulit menolak ajakan ini. Beli rumah bagi anak saya dan istrinya bukan prioritas. Saya bertanya-tanya apakah pendidikan dan kesehatan jadi prioritasnya?

Kita makin terperosok ke dalam jebakan moda jalan pribadi. Setiap jengkal jalan baru adalah perayaan bagi industri mobil asing. Jadi jangan heran mengapa ada tokoh nasional yang dua tahun terakhir ini suka masuk ke gorong-gorong pinggir jalan.  Kini saya tahu apa maksudnya.  

(*) Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan pemerhati sosial

Baca Juga:

Mendudukkan “Kafir Nusantara”

hamim

Seputar Polemik Kafir

hamim

RUU P-KS: Antara Kekerasan atau Kejahatan Seksual?

hamim

Leave a Comment