Pospapua.com
Plt Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sripeni Inten Cahyani. (Foto: Antara)
Ekonomi

Soal Blackout, BPKN : PLN Harus Pulihkan Kerugiaan Konsumen

Oleh: Suandri Ansah |

Pospapua.com, Jakarta –  Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) memandang, kelalaian kinerja PT PLN tersebut telah menyebabkan bencana terhadap perekonomian nasional. Tak hanya itu, kerugian juga menyasar konsumen dalam skala besar dan luas.

Pemadaman ini juga berimbas buruk pada sektor pelayanan publik strategis seperti Transportasi Publik, Telekomunikasi, Sistim Pembayaran dan Jasa Keuangan. PLN tentu menyadari adanya risiko beban jaringan sistem Jawa Bali.

Pembangkit listrik terbesar berada di Jawa bagian Tengah dan Timur, sementara beban pemakaian terbesar berada di Jawa bagian Barat. Beban jaringan transmisi sangat berat dan berisiko terjadi trip cukup besar.

Ketua BPKN, Ardiansyah Parman mengatakan, beban daya yang ditransfer dari Timur ke Barat terlalu besar, apalagi kalau ada pembangkit di Barat yang trip seperti kemarin. Mengutip penjelasan PLN, blackout atau pemadaman massal kemarin terjadi karena kegagalan transmisi dan juga turbin.

“Namun apabila jaringan transmisinya handal, tidak perlu pemadaman. Sebetulnya di Pulau Jawa sekarang over supply. Hanya saja sebagian besar pembangkit ada di Timur, sedangkan beban ada di Barat,” ujar Ardiansyah dalam keterangan medianya, kepada Indonesiainside.id, Rabu (7/8).

Menurutnya, PLN harus mengevaluasi dan memperbaiki kembali manajemen risiko dan sistem kedaruratannya. Selain itu harus memulihkan kerugian yang menimpa puluhan juta konsumen, termasuk pelaku usaha.

Pemerintah dinilai harus mengevaluasi kembali Sistem Kelistrikan Nasional yang dianggap sangat manopolistis. Salah satunya dengan memberikan Insentif kepada Sistem Jaringan Listrik Independen untuk mengurangi beban negara dan mendorong Investasi infrastruktur kelistrikan Swasta.

Terutama untuk Sistem kelistrikan Kawasan dan Sistem Kelistrikan dengan Sumber Daya Terbarukan. Saat ini barrier to entry bagi IPP (Independent Power Producer) sangat tinggi. Investor menjadi kesulitan, peranan swasta bisa mengurangi beban Pemerintah.

“Demikian juga banyaknya keluhan sulitnya producer masuk ke Sistem Jaringan PLN walau dari sumber energi terbarukan seperti sampah (PLTS),” tutur Ardiansyah. (*/Dry/asi)

Baca Juga:

Tarif LRT Bekasi-Jakarta Dipastikan Flat Rp 12 Ribu

hamim

Menpar Sesalkan Tiket Pesawat Mahal, Pariwisata Terguncang

hamim

Said Didu: Pembelian Mayoritas Saham Freeport Membuat Indonesia Buntung

Anjar Asmoro Heryanto

Leave a Comment