Pospapua.com
Bupati Deiyai Ateng Edowai. (foto : istimewa)
Nusantara

Roda Perekonomian Deiyai Pulih, Bupati Apresiasi Polri

Oleh : Achmad Syaiful |

Pospapua.com, Deiyai – Roda perekonomian di wilayah Kabupaten Deiyai telah berangsur pulih, pascakersuhuan demonstrasi anti rasisme yang berujung anarkis di halaman Kantor Bupati setempat, pada 28 Agustus lalu.

Bupati Deiyai Ateng Edowai dalam siaran persnya, Sabtu (14/9) menyatakan, situasi keamanan di Deitai telah kondusif pascakerusuhan. Aktifitas masyarakat pun berjalan normal. “Situasi keamanan sudah kondusif, aktifitas masyarakat berjalan normal, dan roda perekonomian telah pulih,” kata Ateng.

Dia pun mengapesiasi kinerja Polri yang dinilai profesional dalam menangani permasalahan di wilayah Deiyai. Misalnya, dengan mengedepankan pendekatan persuasive serta humanis terhadap masyarakat yang berunjuk rasa.

“Saya apresiasi dan memberikan penghargaan setinggi-tingginya Kapolres Paniai AKBP Abdullah W. P. Utomo dan jajarannya yang telah melaksanakan tugas dalam pengamanan sebelum maupun pasca demonstrasi karena menjunjung aspek profesionalisme,” katanya.

Ateng pun bercerita, gejolak di Deiyai akibat demonstrasi diawali aksi pada 26 Agustus hingga berlanjut pada 28 Agustus. Aksi terakhir, menurutnya, telah ditunggani oknum tidak bertanggung jawab hingga mengarah tindakan anarkis.

Insiden ini menimbulkan korban berjatuhan. “Ada satu anggota TNI meningal dunia dan 7 anggota TNI- Polri lainnya mengalami luka panah. Demikian juga dari masyarakat, ada yang meninggal,” terangnya.

Dia berharap koordinasi antara Pemerintah Kabupaten Deiyai dan kepolisian tetap terjalin baik guna menjaga situasi keamanan dan mendukung proses pembangunan di wilayah itu.

Sebelumnya, situasi di Kabupaten Deiyai memanas akibat bentrok antara massa pengunjuk rasa dengan aparat TNI-Polri, Rabu (28/8). Enam aparat TNI-Polri terluka terkena panah, satu diantaranya Seda Rikson, Anggota Kodam II Sriwijaya gugur.

Bentrok di Deiyai juga menyebabkan dua warga sipil meninggal. Salah satu meninggal akibat terkena tembakan pada bagian kaki, sedangkan satu sisanya meninggal akibat terkena panah pada bagian perut.

Tak hanya itu, 10 pucuk senjata milik aparat sempat dirampas oleh massa anarkis yang ikut dalam unjuk rasa tersebut. Diketahui aksi unjuk rasa ini merupakan susulan dari aksi sebelumnya untuk memprotes tindak rasisme mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur. (Asi)

Baca Juga:

Tidak Kondusif, Pertamina Hentikan Penyaluran BBM ke Nduga

Nethy Dharma Somba

Tak Bayar THR, Perusahaan di Jayapura Bisa Kena Sanksi

Nethy Dharma Somba

Kota Balikpapan Dilanda Banjir dan Longsor

Nethy Dharma Somba

Leave a Comment