Pospapua.com
Mantan Menko Maritim Rizal Ramli (kiri). Foto: Ahmad Z.R.
Pilpres 2019

Rizal Ramli: Indonesia Butuh Pemimpin Jujur Berintegritas

Oleh: Ahmad Z.R. |

Seorang pemimpin memiliki pertanggungjawaban kepada manusia dan juga kepada Allah SWT atas amanah yang diembannya.

pospapua.com, Jakarta — Dua calon presiden, yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto akan berlaga pada debat kedua yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan tema pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup. Debat akan dilangsungkan di Hotel Sultan, Jakarta, Ahad (17/2).

Jelang debat itu, capres petahana Joko Widodo mendapat kritik tajam dari mantan Menko Maritim Rizal Ramli. Rizal mengkritisi kebijakan dan janji kampanye Jokowi yang tidak terealisasi. Bahkan, Rizal menyebut hal itu sama saja dengan kebohongan.

“Kebohongan pribadi korbannya adalah orang per orang. Kalau kebohongan publik korbannya rakyat, masyarakat,” ujar Rizal di kediamannya di Jalan Bangka, Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (16/7).

Ia mencontohkan, salah satu janji yang disampaikan Jokowi pada 2014 silam yakni akan menghentikan impor pangan, kenyataannya pemerintah justru melakukan impor jor-joran saat panen.

“Akibatnya rakyat-petani dirugikan. Berjanji akan bangun industri mobil nasional Esemka, ternyata tidak jadi. Akibatnya harapan dan kebanggaan publik hancur,” kata Rizal.

Hal lain yang disoroti ekonom senior ini adalah terkait utang yang dilakukan pemerintah. Meski utang cenderung stabil, namun bunga utang terlalu besar jika dibebankan pada anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN)

“Berjanji dalam visi-misinya akan menolak utang baru, kurangi utang luar negeri. Ternyata malah sebaliknya. Utang luar negeri tahun 2014 Rp3.560 triliun, saat ini bertambah menjadi Rp5.275 triliun. Dan kebohongan-kebohongan lainnya yang dapat diperiksa sendiri di jejak digital,” kata Rizal.

Ia mengatakan, jika pemimpin memiliki sejarah dan warna kebohongan, maka yang bersangkutan tidak lagi memiliki kredibilitas untuk membuat janji-janji baru.

“Janji-janji baru untuk kedaulatan pangan dan kedaulatan keuangan tidak akan kredibel, karena pemimpin yang sudah sangat sering berbohong tidak layak untuk membuat janji baru,” ungkapnya.

Karena itu, Rizal menyarankan agar masyarakat lebih cerdas dalam memilih pada 17 April mendatang dengan melihat jejak rekam masing-masing pasangan calon. Sebab, jika terjatuh dua kali pada lubang yang sama, Indonesia akan sama kondisinya seperti sekarang. Bahkan lebih parah.

“Indonesia adalah negara yang besar, memerlukan pemimpin yang jujur dan berintegritas. Kata-kata adalah ungkapan karakter, doa, dan harapan. Sulit bagi pemimpin yang tidak jujur untuk dapat dihormati di dalam maupun luar negeri,” tandasnya. (TA)

Baca Juga:

Usai Mengawal Logistik Pemilu 2019, Bripka Leny Wayandiana Sakit lalu Meninggal Dunia

Nethy Dharma Somba

Wali Kota Jayapura ajak Masyarakat Jaga Kamtibmas Tolak People Power

Nethy Dharma Somba

BPN: Prinsip Debat Prabowo Tidak Menyerang

Anjar Asmoro Heryanto

Leave a Comment