Pospapua.com
Nurul Qomar. (foto: istimewa)
Narasi

Qomar, Ijazah dan Tahta

Oleh: Herry M Joesoef |

Pospapua.com, Jakarta – Jagat intelektual Indonesia kembali digegerkan dengan ditangkapnya pelawak yang juga mantan anggota DPR, Nurul Qomar, Senin (23/6) petang. Qomar ditangkap polisi Brebes di rumahnya di Cirebon, Jawa Tengah.

Qomar ditangkap karena telah memalsukan surat keterangan lulus S-2 dan S-3 dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Surat itu dipakai Qomar untuk melengkapi persyaratan menjadi rektor Universitas Muhadi Setiabudhi (Umus), Brebes. Pada 1 Februari 2017, Qomar diangkat menjadi Rektor Umus.

Karena tak kunjung memberikan salinan ijazah asli S-2 dan S-3, pada November 2017, pihak Umus mulai curiga. Lalu ada yang mengecek ke UNJ, menanyakan perihal status Qomar. Dari UNJ dapat informasi, bahwa Qomar terdaftar sebagai mahasiswa non-aktif dan dan belum menyelesaikan program Studi Magister dan Doktor. Inilah yang membawa Qomar dijemput paksa oleh polisi Brebes karena yang bersangkutan selalu mangkir bila dipanggil untuk diperiksa. Qomar pun mengakui perbuatannya bahwa ia memalsukan surat keterangan lulus S-2 dan S-3 dari UNJ.

Kasus Qomar telah menambah daftar noda dunia akademis di Indonesia. Sebelumnya, pernah ada karya ilmiah yang plagiat, mengklaim karya orang lain sebagai karya sendiri, kuliah 1,5 tahun dapat ijazah S-1, dan seterusnya.

Sebagai seorang selebriti, Qomar sudah cukup dikenal. Ia seorang pelawak, mantan anggota DPR-RI, pendakwah, lalu merambah ke dunia akademik, jadi rektor di sebuah PTS di Brebes. Jika persyaratan jadi rektor ia tempuh secara jujur, tidak ada masalah.

Persoalan muncul ketika ambisi menjadi rektor ditempuh dengan memalsukan surat keterangan lulus dari sebuah perguruan tinggi ternama di Jakarta. Rupanya, ambisi menjadi rektor telah membutakan mata-hati Qomar yang jamak menjadi seorang pendakwah, dengan mengutip ayat-ayat suci dan hadits Nabi.

Padahal, sebagai pendakwah, Qomar juga diposisikan sebagai orang yang mesti ditauladani. Ketika Qomar hanya bisa berbicara yang baik-baik dan ternyata dirinya sendiri tidak bisa melaksanakan apa yang dia bicarakan kepada publik, di situlah Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi murka.

Dalam surah as-Shaf ayat 3, Allah Ta’ala berfirman, “Kaburo maktan indallahi antaquluu maalaa taf‘aluun (Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan).”

Mengajari orang-orang tentang suatu hal, sementara dia sendiri tidak melakukannya, adalah dosa besar. Boleh jadi, kasus Qomar terungkap karena Allah Ta’ala marah padanya, marah karena ia hanya bisa bicara dan tidak diikuti dengan amal perbuatan sebagaimana yang dia utarakan.

Di sisi lain, ada hikmah di balik kasusnya Qomar. Janganlah mengejar dunia dengan menghalalkan berbagai cara, apalagi dengan cara-cara yang haram dan mengelabuhi banyak pihak.

Sebagai pelawak dan pendakwah, Qomar sudah punya nama. Tetapi, karena ambisinya menjadi rektor sebuah perguruan tinggi telah membuatnya tersesat. Ia menjadi buta-tuli, dan akhirnya masuk bui. (HMJ)

Baca Juga:

Antara Hamka dan UAS tentang Pelaporan Ceramah Agama

Syaiful

Lone Wolf ala Rofik Asharudin

Anjar Asmoro Heryanto

Buper Waena Jayapura Peninggalan Pak Harto Dulu dan Sekarang

Nethy Dharma Somba

Leave a Comment