Pospapua.com
SDN-Inpres-Jayapura
Suasana di lingkungan SDN Inpres APO Jayapura yang terletak di kawasan pemukiman padat penduduk, Senin (21/10). (foto : Achmad Syaiful/Pospapua.com)
Pendidikan

Punya 871 Siswa, SDN Inpres APO Jayapura Diduga Berdiri di Atas Tanah Sengketa

Oleh: Achmad Syaiful |

Pospapua.com, Jayapura – Keberadaan Sekolah Dasar Negeri Intruksi Presiden (SDN Inpres) cukup berkembang di Kota Jayapura sejak berdiri pada era tahun 70an oleh Presiden Soeharto. SDN Inpres APO misalnya yang terletak di pusat ibu kota Papua.

Bangunan yang mulanya kecil dan sederhana kini bertingkat, meskipun fasilitas sekolah masih biasa saja. Bahkan, sekolah yang dulu bernama SDN Inpres APO kini berkembang menjadi SDN Inpres 1 dan 2.

Tak hanya itu, sekolah yang dulu memiliki satu kepala sekolah, kini memiliki dua kepala sekolah dalam satu atap gedung. SDN Inpres 1 APO menempati ruangan lantai satu, sedangkan lantai dua dikhususkan untuk SDN Inpres 2 APO.

Sayang, sekolah yang cukup diminati warga di ibu kota Papua ini, konon berdiri di atas tanah sengketa.  Baru-baru ini saja, SDN Inpres APO dipalang sekelompok masyarakat yang mengklaim sebagai pemilik tanah yang digunakan sekolah tersebut.

Meskipun pemalangan telah diselesaikan oleh Pemerintah Daerah, namun aksi masyarakat itu sempat membuat khawatir para guru. Apalagi sekolah ini berada di kawasan padat pemukiman penduduk APO.

“Tanah yang digunakan oleh sekolah ini sepertinya masih bermasalah, beberapa bulan lalu sekolah dipalang oleh masyarakat,” kata Sebastianus Fanulene, pegawai Tata Usaha SDN Inpres 1 APO kepada Pospapua.com, Senin (21/10) siang.

SDN-Inpres-Jayapura
Aktivitas belajar mengajar di SDN Inpres 2 APO Jayapura, Senin (21/10). (foto : Achmad Syaiful/Pospapua.com)

Dia merinci, SDN Inpres 1 memiliki sembilan ruang belajar dengan jumlah 18 rombongan belajar (rombel). Pihak sekolah pun terpaksa menerapkan sekolah pagi dan siang untuk memenuhi kegiatan belajar siswa.

“Kelas 1 sampai 4 masing-masing miliki tiga rombongan belajar (rombel), kelas 1 sampai 4 ada tiga rombel, sedangkan kelas 5 dan 6 hanya dua rombongan belajar, yakni kelas 5a,5b, kemudian 6a dan 6b,” urainya.

SDN Inpres 1 sendiri memiliki 20 guru tetap (PNS) dan 13 guru honor, sedangkan pegawai Tata Usaha berjumlah tiga orang. “Ada sekitar 36 pegawai, itu pun masih dinilai kurang dengan jumlah siswa yang mencapai 556 orang,” katanya.

Menurut Sebastianus, masalah utama di sekolah ini adalah keamanan lingkungan sekolah pada malam hari. Letak sekolah yang berada di tengah-tengah pemukiman masyarakat menyebabkan lingkungam sekolah kurang aman.

Bahkan, lanjutnya, masih ada masyarakat yang mengkonsumsi minuman keras (miras) di lingkungan sekolah pada malam hari. Parahnya, karung bekas telah berkibar ditiang bendera sekolah. “Biasa kalau malam masyarakat mabuk di lingkungan sekolah, belum lagi ada karung bekas yang diikat pada tiang bendera,” tuturnya.

Masalah prestasi, SDN Inpres 1 APO bisa dibilang cukup hebat.  Deretan piala hasil prestasi para siswa berdiri rapi di dalam maupun atas lemari di depan ruang kepala sekolah. “Banyak piala dan piagam yang diperoleh siswa,” cetusnya sambil menunjukan salah satu piala cerdas cermat tingkat SD.

Untuk masalah kesejahtaraan, Sebastianus menilai cukup bagi ukuran guru tetap berstatus PNS. Namun, untuk ukuran guru honor dinilai sangat kecil karena pihak sekolah hanya mampu membayar Rp 700 ribu untuk setiap bulan. “Honor guru kecil,” bebernya.

SDN-Inpres-Jayapura
Perpustakan di SDN Inpres 2 APO Jayapura memanfaatkan dinding kelas, Senin (21/10). (foto; Achmad Syaiful/Pospapua.com)

Dia berharap adanya perhatian pemerintah bagi SDN Inpres sehingga dapat terus berkembang dan tidak kalah dengan sekolah swasta lainnya yang ada di Kota Jayapura. “Harapan kami pemerintah memberi perhatian lebih,” tuturnya.

Perkembangan SDN Inpres 2  ternyata tidak sepesat SDN Inpres 1, meskipun sekolah berada dalam satu atap gedung. Bahkan sekolah itu sempat mengalami kekosongan jabatan kepala sekolah selama 2 tahun.

“Sekolah ini kurang lebih 2 tahun tidak ada kepala sekolah tetap. Selama kurun waktu itu diisi oleh pejabat sementara yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Kota,” tutur Erensina Aibini yang baru empat bulan menjabat sebagai Kepala Sekolah SDN Inpres 2 APO ini.

Bagi Erensina, keberadaannya  merupakan tantangan besar untuk memajukan sekolah tersebut. “Ini tantangan buat saya, apalagi saya baru menjabat kepala sekolah. Namun saya salut dengan para guru yang tetap fokus melaksanakan tugas mendidik siswa meskipun tanpa kepala sekolah selama 2 tahun,” ujarnya.

SDN Inpres 2 APO, papar Erensina, memiliki 315 siswa dengan 6 ruang kelas dan 11 rombongan belajar (rombel). Sementara jumlah tenaga pengajar mencapai 17 orang, yang terdiri dari 11 guru tetap berstatus PNS dan 6 guru honor. “Totalnya 14 untuk PNS, tiga orang adalah pegawai Tata Usaha, Kebersihan dan Operator,” urainya.

Menurut Erensina, masalah lingkungan sekolah menjadi masalah utama bagi perkembangan SDN Inpres 2 maupun 1. Ini dikarenakan sekolah berdiri di tengah pemukiman padat penduduk. “Sekolah di kawasan padat penduduk, jadi yah seperti ini,” tuturnya.

Soal bangunan sekolah yang diduga berdiri di atas tanah sengketa, Erensina enggan mengomentarinya. Namun dia membenarkan adanya permasalahan dengan warga sebelumnya yang diduga terkait tanah.

“Kalau itu saya tidak bisa mengomentari, tetapi sebelumnya memang ada sedikit masalah dengan masyarakat dan sudah diselesaikan oleh dinas,” katanya.

Selain masalah lingkungan sekolah, terbatasnya ruangan kelas juga menjadi hambatan berkembangnya sekolah Inpres. Perpustakan saja harus memanfaatkan dinding luar kelas sebagai tempat rak buku bacaan siswa.

“Banyak orang tua siswa yang ingin menyekolahkan anaknya di SDN Inpres, namun karena terbatasnya ruang kelas, terpaksa kami batasi,” kata wanita yang telah makan garam puluhan tahun sebagai guru di Abepantai ini.

Erensina berharap adanya peningkatan mutu yang lebih baik di SDN Inpres di Jayapura, sehingga para siswa jebolan sekolah Inpres dapat bersaing dengan siswa jebolan sekolah swasta. (Asi)

Baca Juga:

Guru Pulangkan Ratusan Siswa Akibat Pemalangan Sekolah, Ini Reaksi Wali Kota

Syaiful

Mahasiswa Asal Papua, Raih Magna Cumlaude di Universitas Corban Oregon Amerika

Nethy Dharma Somba

Giri Wijayantoro: Kemajuan Pendidikan di Kabupaten Jayapura Luar Biasa

Nethy Dharma Somba

Leave a Comment