Pospapua.com
Nick Messet (dua dari kiri) mendampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla saat menghadiri sidang umum PBB di New York. (foto : istimewa)
Nasional

Perjuangan Benny Wenda Angkat Isu Papua ke Sidang Umum PBB Kandas

Oleh : Achmad Syaiful|

Pospapua.com, Jayapura – Perjuangan Benny Wenda, tokoh perjuangan Papua Merdeka kandas, setelah tidak ijinkan masuk ke ruang sidang umum PPB yang berlangsung di New York, Amerika Serikat.

Benny Wenda gagal masuk ke ruang sidang umum karena peraturan baru PPB yang cukup keras. Padahal pria yang selama ini bermukim di Oxford Inggris mencoba masuk dalam ruang persidangan delegasi Vanuatu.

“Benny Wenda cs mau masuk ruang sidang PBB dengan ikut delegasi Vanuatu, tapi tidak diijinkan karena peraturan PBB kali ini cukup keras,” kata Nick Messet, delegasi RI  melalui pesan Whatsapp, Jumat (27/9) malam.

Menurut Nick Messet, sidang umum PBB hanya bisa diikuti oleh warga negara resmi dari negara peserta. Putra asli Papua ini pun memandang aturan PBB cukup bagus.

“Aturan baru PBB, hanya warga negara resmi dari negara peserta yang bisa masuk hadir dalam SU (Sidang Umum) PBB, Jadi intinya, Benny Wenda tidak lagi bisa ikut delegasi Vanuatu seperti sebelum-sebelumnya,” bebernya.

Nick Messet pun mengaku dirinya yang menjadi Konsulat Kehormatan Negara Nauru di Jakarta, tidak diperbolehkan masuk. “Saya sendiri juga tidak diperbolehkan masuk ikut delegasi Nauru, meskipun saya Konsulat kehormatan mereka di Indonesia. Saya bisa masuk melalui delegasi Indonesia kalau diperlukan,”tutur Messet.

Mantan Menlu Organisasi Papua Merdeka ini mengaku dapat masuk ke ruang sidang umum PBB karena mendamping Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. Sidang itu pun menjadi sejarah karena tiga orang asli Papua mendampingi Wapres dalam sidang PBB.

“Tadi Pak Roy Sumirat menghubungi kami dan menyampaikan pesan dari bu Menteri Luar Negeri RI agar Pak Nick, Pak John dan Pak Manufandu dapat mendampingi Wapres RI masuk duduk resmi dalam SU PBB dan ikut dengar pidato Wapres R. Ini baru pertama kali dalam sejarah RI bahwa ada tiga orang Papua yang mendampingi Wapres RI di sidang PBB,”ujarnya.

Menurtu Nick Messet, isu Papua termasuk apa yang terjadi belakangan ini, tidak banyak negara yang menanggapi dalam sidang umum PBB.  Negara-negara peserta Sidang Umum PBB mengikuti perkembangan situasi dan kondisi Papua melalui media.

Nick menyebut, hanya negara-negara kecil yang selalu ingin mengangkat permasalahan Papua di sidang umum PBB.  Negara-negara dimaksud meliputi, Vanuatu, Palau dan Marshall Island.

“Hanya negara-negara kecil di Pacific yang selalu mau angkat soal Papua di SU PBB tahun ganti tahun. Tetapi tidak pernah ada perubahan, jalan ditempat terus,”kata Nick, mantan tokoh Organisasi Papua Merdeka yang lama bermukim di Eropa ini.

Nick Meset, meyakini, negara-negara itu bakal bosan membawa isu Papua dalam sidang umum PBB .  “Soalnya topik yang mereka bawakan sudah kadaluarsa untuk negara-negara anggota PBB. Bosan untuk mendengar, The same old story again and again, Self determination and freedom for West Papua (Kisah lama yang sama berulang kali, Penentuan nasib sendiri dan kebebasan untuk Papua Barat),” ujar Nick yang telah kembali ke pangkuan NKRI.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian telah memantau pergerakan tokoh separatis Benny Wenda dalam kerusuhan Papua. Mantan Kapolda Papua ini menyebut Benny Wenda telah mendekati satu hingga dua negara untuk mengangkat isu Papua di Sidang Umum PBB.

“Ada 1-2 negara yang sudah didekati supaya mengangkat isu itu, supaya nendang bikin rusuh di sini, tapi kasihan mengorbankan masyarakat,” ujar Tito Karnavian kepada wartawan di Rumah Sakit Bhayangkara, Kota Jayapura, Papua, 5 September lalu..

Tito menyebut kerusuhan di Papua merupakan bagian dari rencana Benny Wenda. “Semua kita ngerti lah, Benny Wenda main, mereka mau kejar dalam rangka tanggal 9 September 2019, itu ada rapat di Komisi HAM Jenewa. Jadi mereka sengaja bikin rusuh biar di sana ada suaranya Papua rusuh,” paparnya.

Jenderal asal Palembang ini menyatakan akan mengejar Benny Wenda dan kelompok pendukungnya, baik United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) maupun Komite Nasional Papua Barat (KNPB).

“Apa yang terjadi di Papua itu didesain oleh kelompok yang ada di sini dan itu akan saya kejar. Kita sudah tahu nama-namanya kami akan tegakan hukum kepada mereka,” tegasnya.(Asi)

Baca Juga:

BPKN Minta Pemerintah Segera Selesaikan Tunggakan BPJS

Firman

Jelang Harganas 29 Juni, Mbak Tutut Ingatkan Jangan Melupakan Sejarah

Nethy Dharma Somba

Fadli: Prabowo Corong Aspirasi Rakyat

Firman

Leave a Comment