Pospapua.com
Ilustrasi. Foto: Joglosemar News
Ekonomi

Pengamat Otomotif: Jalan Tol Permukaan Kasar Berdampak Buruk Bagi Kendaraan

Oleh: Ahmad Z.R |

Banyak faktor kecelakaan di jalan tol akibat kondisi jalan yang tidak baik dan pengemudi yang mengantuk serta pecah ban.

Pospapua.com, Jakarta — Di pemerintahan Jokowi, infrastruktur yang sering dibangun adalah jalan tol. Padahal, banyak jalan di pelosok nusantara yang belum beraspal. Pengamat otomotif Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus, mengatakan jalan beton menjadi pilihan BPJT karena murah dan tahan lama, hingga batas unur konstruksi beton sekitar 30 tahun maintenance free jika pondasinya benar.

Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) adalah sebuah lembaga yang mengatur jalan tol di Indonesia. Lembaga ini dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 295/PRT/M/2005 tanggal 28 Juni 2005, untuk mendorong terwujudnya percepatan penyelenggaraan jalan tol dengan melibatkan partisipasi aktif Pemerintah Daerah dan Badan Usaha.

Tugas utama BPJT adalah melaksanakan perbaikan manajemen pengusahaan jaln tol sekaligus melakukan percepatan pembangunan jalan tol yang telah dicanangkan oleh Pemerintah.

“Namun, finishing up permukaan jalan beton yang tidak halus berakibat pada dihasilkannya permukaan tekstur jalan yang memiliki tingkat kerataan permukaan kurang rata dan tekstur yang kasar,” ujar Yannes kepada Indonesia Inside, saat dihubungi, Selasa (19/2).

Yannes menjelaskan, jalan tol yang kasar dan tekstur yang kasar akan berdampak buruk bagi kendaraan. Pertama, pada suspensi. Menurut dia, semakin tingginya frekuensi getaran yang diserap suspensi, akan berdampak pada semakin cepat rusaknya suspensi disamping getaran yang kasar.

“Hal ini jelas membuat tidak nyaman bagi pengguna mobil di jalan tersebut,” katanya.

Kedua, semakin besarnya gesekan antara tekstur kasar permukaan jalan dengan kompon ban, maka akan seperti hampelas kasar dengan karet penghapus. Ban akan cepat habis dan panas.

“Jika kualitas ban pengguna jalan tol sudah melebihi batas umur kelenturannya yang direkomendasi pabrik (sekitar dua atau tiga tahun, tergantung pabrik serta seri ban dan tipe komponnya), maka ban yang semakin getas tersebut akan semakin berisiko pecah karena impact dari frekuensi dan gesekan yang tinggi,” ujarnya.

Senada, pengamat transportasi Djoko Setiwarno mengatakan, sebelum jalan tol dioperasikan, maka harus melawati uji laik jalan yang dilakukan Ditjenhubdat (Direktorat Jenderal Perhubungan Darat) juga harus melalui kajian Andalalin (Analisis Dampak Lalu Lintas).

“Seperti jika ada jembatan atau terowongan, prosedurnya adalah harus diuji laik jalan oleh Komisi Jembatan dan Terowongan Kementerian PUPR,” kata Djoko.

Selain itu, faktor pengemudi yang kurang mahir atau lelah, menurut Djoko, juga bisa berakibat kecelakaan. Pengendara dapat melihat Permen Nomor 111 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penetapan Batas Kecepatan.

“Pengemudi juga harus memerhatikan batas kecepatan melaju di tol dan periksa kondisi ban sebelum masuk tol. Memang sering kecelakaan pecah ban di tol akibat kurang perhatian terhadap kondisi ban,” tandasnya. (*/Dry/INI-Network)

Baca Juga:

Prabowo Akan Buat Bulog Berjaya Lagi

hamim

Backlog Perumahan Rakyat Diestimasi 20 Juta Rumah pada 2020

hamim

Sejumlah Minimarket di Jakarta Tutup Lebih Awal

Syaiful

Leave a Comment