Pospapua.com
Anak-anak peserta audisi beasiswa badminton Djarum Foundation. Foto: Dok. Yayasan Lentera Anak
Nasional News

Pegiat Laporkan Dugaan Eksploitasi Anak untuk Iklan Rokok

Oleh: Suandri Ansah l

Industri rokok patut diduga melakukan eksploitasi di tingkat hilir karena menggunakan anak-anak sebagai iklan berjalan

Pospapua.com, Jakarta — Pegiat perlindungan anak yang diwakili Yayasan Lentera Anak mengadukan adanya dugaan eksploitasi anak dalam penyebaran iklan rokok kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Dugaan yang dimaksud adalah penyelenggaraan Audisi Beasiswa Bulutangkis oleh Djarum Foundation dimana peserta audisi menggunakan kaos bertuliskan “Djarum” yang dianggap identik dengan merek dagang PT. Djarum.

“Kami meyakini bahwa ini adalah eksploitasi anak. Kalau dilihat dari definisi itu kan, memanfaatkan dan anak tidak tahu dia dimanfaatkan,” ujar Ketua Yayasan Lentera Anak, Lisda Sundari di Kantor KPAI, Jakarta Pusat, Kamis (14/2).

Lisda mengaku, Yayasannya sudah mengkaji masalah ini selama 3 tahun dan mendapati ada ribuan anak yang diduga dimanfaatkan untuk membangun image branding PT. Djarum sebagai perusahaan rokok.

Dalam 10 tahun terakhir, kata Lisda, jumlah peserta audisi naik hingga lebih 13 kali lipat, yaitu 445 orang pada tahun 2008 menjadi 5.957 orang pada tahun 2018.

Total selama 10 tahun 23.683 anak terlibat, namun jumlah penerima beasiswa hanya 245 orang saja, yaitu 0,01 persen dari jumlah peserta yang mengikuti audisi.

“Ini alih-alih perekrutan bibit-bibit olahragawan masa depan, yang tampak adalah perekrutan tenaga pemasaran cilik dan pencitraan sebagai perusahaan yang seolah-olah peduli olah raga bulutangkis,” kata Lisda.

Komisioner KPAI Bidang Kesehatan dan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA) Sitti Hikmawatty mengatakan, industri rokok berpotensi tinggi melakukan eksploitasi anak.

“Eksploitasi tersebut dapat ditemukan dari hulu sampai hilir.” ujar Sitti. Eksploitasi di tingkat hulu seperti situasi anak-anak yang dipekerjakan di pertanian tembakau.

Sedangkan di tingkat hilir adalah anak-anak sebagai target pemasaran bahkan dimanfaatkan sebagai media pemasaran dan sebagai konsumen perokok pemula.

“Dalam hal ini, industri rokok patut diduga melakukan eksploitasi di tingkat hilir karena menggunakan anak-anak sebagai iklan berjalan,” kata Sitti. (Kbb/INI-Network)

Baca Juga:

6,5 Jam Disandera, Briptu Heidar Ditemukan Tak Bernyawa

Syaiful

Merasa Aman, Ratusan Pengungsi Kembali ke Wamena

Syaiful

Jenguk Korban Penyerangan di Yahukimo, Wamen PUPR: Kondisi Membaik

Syaiful

Leave a Comment