Pospapua.com
Jembatan - Holtekamp
Kemegahan Jembatan Holtekamp di Kota Jayapura. (foto : Achmad Syaiful/Pospapua.com)
Ekonomi

Nama Jembatan Youtefa Tak Boleh Ditawar

Oleh : Achmad Syaiful |

Pospapua.com, Jayapura – Kabar Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi (DPRP) Papua akan mengganti nama Jembatan Youtefa yang dikenal dengan sebutan Jembatan Merah atau Holtekamp  membuat geram Wali Kota Jayapura Benhur Tomi Mano.

Wali Kota dua periode ini sontak menyatakan perlawanan wacana penggantian nama jembatan yang menjadi ikon Kota Jayapura. Pergantian nama jembatan akan menginjak harkat dan martabat masyarakat Port Numbay.

“Kami siap melawannya, karena anda telah menginjak ondoafi pemilik tanah di negeri ini,” tegas Tomi Mano dalam pembukaan Festival Teluk Humboldt ke 11 di area Jalan ring road Jayapura, kawasan Pantai Hamadi, Distrik Jayapura Selatan, Senin (5/8).

Nama Jembatan Youtefa merupakan pemberian pimpinan Lembaga Masyarakat Adat (LMA) serta ondoafi (pemimpin masyarakat adat) pemilik tanah dan air di negeri ini. “Jembatan ini bisa berdiri megah karena mereka. Jembatan bisa terbangun tepat waktu karena mereka, hargailah hak-hak adat kami, jangan diinjak-injak,” tegasnya lagi.

Menurutnya, Jembatan ini dibangun oleh uang rakyat dari pajak negara dan pajak daerah, bukan uang pribadi. Demikian juga stadion megah yang telah dipersiapkan untuk pelaksanaan PON 2020. “7 Kota di Indonesia yang memberikan penyetoran pajak terbaik, meliputi Kota Batam, Tengerang Selatan, Makassa, Yogjakarta, Bitung, Denpasar dan Kota Jayapura,” paparnya.

Jembatan Holtekamp dibangun bukan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), melainkan memperpendek rentan kendali pelayanan masyarakat di wilayah Distrik Muara Tami yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini.

“Muara Tami adalah kawasan pertanian, perkebunan dan perikanan terbesar yang disuplai ke Kota Jayapura. Itu tujuan pembangunan Jembatan Hamadi – Holtekamp,” tandasnya

Kota Jayapura terus bertumbuh maju dengan jumlah penduduk yang sangat pesat. Kota ini dihuni oleh masyarakat adat di 14 kampung dengana keberadannya yang kian tersingkir. “Mereka sekarang tersingkir seperti yang disampaikan orang tua kita. Kita harus memperhatikan mereka,” pesannya.

Pemerintah Kota berencana akan membuat afirmative khusus bagi masyarakat 14 kampung tersebut agar perekonomian mereka terus terangkat. “Yang berjualan di Pantai Base G hanya orang kayu batu, begitu juga kawasan Pantai Hamadi dikhususkan bagi masyarakat Tobati dan Enggros,” katanya.

Jembatan Merah merupakan salah satu ikon Kota Jayapura dalam upaya pengembangan konsep Metropolitan. Jembatan ini menghubungkan wilayah Distrik Jayapura Selatan dan Distrik Muara Tami serta akses menuju Perbatasan Indonesia – Papua Nugini.(asi)

Baca Juga:

Pacu Investasi, Jokowi Diminta Belajar dari Film The Lord of The Rings

Nethy Dharma Somba

Prabowo-Sandi Akan Perbaiki Aspek Kesehatan Dari Hulu Hingga Hilir

hamim

Gila! Kerugian Pajak Ponsel Ilegal Tembus Rp 2,8 T Setahun

Syaiful

Leave a Comment