Pospapua.com
Budi Watimena meracik kopi asal Pegunungan Bintang di festival crossborder Skouw. (foto: faisal narwawan)
Ekonomi Kreatif

Menikmati Kopi Pegunungan Bintang di Festival Crossborder Skouw

Oleh : Faisal Narwawan |

Pospapua.com, Jayapura – Pengujung Festival Crossborder Skouw 2019  dimanjakan dengan berbagai jajanan dan makanan olahan khas Papua. Ada sekitar 30 stand memamerkan kuliner maupun kerajinan khas Papua tersebut.

Salah satunya pada stand dengan nomor 13 yang menawarkan kopi dengan banner Blessed Coffeshop  yang merupakan original Papua Coffe disajikan secara manual, “atau bahasa kerennya manual brewonly,” ujar Owner Blessed Coffeshop, Budi Watimena kepada Pospapua.com, Jumat (21/6).

Budi Watimena memamerkan dua jenis kopi kepada pengunjung yang ingin mencicipi kopi khas Papua tersebut.  “Yang saya bawa ini kopi Abmisibil dari Pegunungan Bintang dan  robusta” katanya lagi.

Pengunjung dapat mencicipi kopi tersebut  dengan harga Rp 20 ribu untuk satu gelasnnya.

“Kita ingin promosikan langsung kopi Papua di acara-acara seperti ini dan memang untuk saat ini kita punya link langsung ke kebunnya di daerah sana,” tambah Budi.

Hal unik lainnya yang dipamerkan dari Blessed Coffeshop ini adalah penyajiannya yang kata Budi masih manual brewonly.

“Semua yang kita seduh di sini, baik kopi susu, kopi hitam, es kopi dan lainnya itu kita sajikan secara manual, juga alat-alatnya paling hanya mesin giling saja. Prosesnya ya ada beberapa tahapan alasannya agar rasa lebih keluar, jadi kita ajarkan orang bahwa kopi tidak semuanya pahit, contohnya robusta itu lebih ke rasa asam, arabika pahit,” tambahnya.

Ia mengaku baru dua kali memamerkan kopi ini di Festival Crossborder. Pertama ia ikuti saat Festival Crosborder pertama 2019 dan ke dua pada crossborder kali ini.

“Porsi semua ada, kopinya kita timbang kalau mau pake susu juga kita timbang,  jadi kita sajikan kopi hitam, kopi susu dan kopi tubruk. Kopi hitam itu yang arabika tadi dan robusta,” kata Budi.

Budi bersyukur karena pengunjung crossborder yang datang sangat antusias. Bahkan produk yang dibawa pada Crossborder pertama di tahun ini habis terjual. “Ini juga sudah mulai ramai, mudah-mudahan sampai hari terakhir tetap antusias yang datang,” harap Budi. (nds)

 

Baca Juga:

Puluhan Putra Dearah Papua Dibentuk Jadi Pebisnis Muda

Syaiful

Akankah Revolusi E-Commerce 4.0 Mematikan Toko Offline? (1)

hamim

DuitHape Pembayaran Berbasis Android Sasar Masyarakat Ekonomi Menengah ke Bawah

Nethy Dharma Somba

Leave a Comment