Pospapua.com
Aksi terorisme dilakukan Brenton Tarrant karena motivasi ideologis. Foto: Istimewa
Nasional News

Meneropong Sisi Psikologis Seorang Teroris (1)

Oleh: Anisa Tri Kusuma |

Terror penembakan yang terjadi di sebuah masjid di New Zealand membuat kita bertanya, “sudah matikah sisi kemanusiaannya?”

Pospapua.com, Jakarta — Brenton Tarrant, pelaku penembakan di dua masjid New Zealand mengakui dirinya sebagai seorang yang terinspirasi dari Anders Behring Breivik, seorang pembunuh massal asal Norwegia.

Pada hari jumat lalu (15/3) Tarrant yang menyiarkan secara langsung serangannya melui Facebook Live ini mengakui melakukan pembunuhan itu sebagai  balas dendam atas kematian Ebba Akerlund, seorang anak berusia 11 tahun yang terbunuh dalam serangan teror di Stockholm yang dilakukan Rakhmat Akilov pada 2017 lalu.

Dalam manifesto yang sempat ditulisnya, Tarrant  menuliskan “Saya telah membaca tulisan-tulisan Dylann Roof dan banyak lainnya, tetapi hanya benar-benar mengambil inspirasi sejati dari Knight Justiciar Breivik.”

mereka cenderung melakukan aksinya untuk menjadi ‘pahlawan’ bagi kelompoknya. Foto: ndtv.com Foto: ndtv.com

Breivik adalah pelaku pembuhunan terhadap 77 orang di Norwegia pada tahun 2011 lalu. Dia dihukum 21 tahun penjara oleh Pengadilan Norwegia, dan merupakan hukuman maksimal yang diberlakukan di negara tersebut.

Apakah Teroris Sama Dengan Psikopat?
Menurut Dokter Psikologi, Oriza Satvia, cara menilai teroris dan psikopat adalah dengan melihat tujuannya. Teroris cenderung menakuti dan bertujuan untuk menghabisi (membunuh) korbannya. Sementara seorang psikopat, memiliki kecenderungan untuk menakut-nakuti dan menyiksa korbannya secara perlahan. Psikopat sengaja melakukan hal tersebut agar korbannya merasa takut, panik, menangis, kesakitan, berteriak sebelum akhirnya pasrah. Meski demikian, kematian korban bukanlah menjadi sesuatu yang diharapkan dalam diri seorang psikopat.

“Dalam kondisi tertentu, jika seorang korban psikopat meninggal dunia, maka hal tersebut bukanlah tujuan utama dari sang pelaku. Para Psikopat menikmati sensasi dari teriakan, tangisan dan rintihan minta ampun dari korbannya. Mereka sebenarnya tidak menghendaki si korban untuk mati, tapi lebih menyukai sensasi ketika sang korban merasakan penderitaan,” kata Dr. Oriza.

Di balik sifatnya yang strategis dan instrumental, terorisme tidak bisa dikategorikan ke dalam psikopat klasik. Teroris memiliki beberapa koneksi terhadap prinsip atau ideologi. Ia juga memiliki hubungan dengan manusia lain, termasuk teroris lainnya. Di lain hal, psikopat tidak memiliki koneksi ini, sehingga tidak akan mau mengorbankan dirinya untuk suatu hal. John Horgan, profesor di Universitas Leicester, berkata bahwa belum ada penelitian yang berhasil membuat profil teroris secara akurat, karena sifat-sifat manusia tidak bisa dijadikan acuan untuk memprediksi perilaku. Jadi, terorisme yang menunjukkan bentuk jelas dari kekerasan ini masih dikaji secara mendetail.

Teroris Memiliki Sifat Militan
Sifat militan yang dimiliki teroris dipicu dari kerentanan. Rasa rentan ini muncul dari ketidakadilan atau penghinaan, kebutuhan akan identitas, dan rasa memiliki. Kerentanan ini dilihat sebagai faktor yang kuat untuk menimbulkan rasa keterikatan atau keterlibatan akan sesuatu. Hal ini akan berujung pada lahirnya teroris yang menemukan suatu arti, rasa memiliki, terhubung, dan afiliasi pada kelompok ekstrimis radikal.

Selain itu, seorang teroris juga memiliki rasa pengorbanan. Rasa pengorbanan muncul dari individu yang mengalami pelajaran dan aktivitas religius. Hal ini memfasilitasi indoktrinasi dan konstruksi identitas. Proses konstruksi identitas ini sering melibatkan aturan-aturan ideologi yang mengikat ketertarikan individu pada gerakan aktivis dengan risiko tinggi. (Kbb)

Baca Juga:

Jusuf Kalla Sebut Bom Bunuh Diri Haram

Syaiful

Ketua Hakim MK: Kami Pertanggungjawabkan Putusan Ini Pada Allah SWT

Nethy Dharma Somba

Ribuan Masyarakat Banten Menyambut Rombongan Mbak Tutut

hamim

Leave a Comment