Pospapua.com
Nasional

Mbak Tutut : Mbah Moen Tokoh Islam yang Sangat Dihormati

Oleh : Ahmad ZR |

Pospapua.com, Jakarta – Masyarakat Indonesia kehilangan tokoh besar dan ulama kharismatik KH Maimoen Zubair yang dikenal dengan sapaan Mbah Moen. Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Rembang itu wafat di Kota Suci Makkah dan akan dimakamkan di kota kelahiran Nabi SAW tersebut.

Putri sulung mantan presiden Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana yang akrab disapa Mbak Tutut menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Mbah Moen. Mbak Tutut menuturkan, Mbah Moen merupakan sosok yang mampu menjalankan Islam rahmatan lil alamiin dalam konteks keindonesiaan.

“Kami sangat berduka cita atas wafatnya Mbah Moen selaku tokoh umat Islam yang sangat dihormati oleh semua orang,” kata Mbak Tutut kepada Indonesia Inside, Selasa (6/8).

Meninggalnya Mbah Moen di Makkah saat menjalankan ibadah Umrah meyakinkan semua pihak, termasuk Mbak Tutut bahwa cita-cita almarhum meninggal di tanah suci dikabulkan oleh Allah SWT. Mbah Moen meninggal ketika hendak tahajud, setelah tak sadarkan diri, Mbah Maimoen dibawa ke Rumah Sakit Annur, Mekkah, Arab Saudi.

“Beliau bukan orang biasa, beliau adalah orang pilihan karena di usia yang panjang diambil oleh Gusti Allah di Makkah dan itu merupakan cita-cita beliau,” tutur Mbak Tutut.

Kesan-kesan bersama Mbah Moen

Di awal Maret lalu, Keluarga Besar Pak Harto bersilaturahmi dengan KH Maimoen Zubair, di kediamannya, Pondok Pesantren Al Anwar, Karangmangu, Sarang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Silaturahmi yang berlangsung sekitar 2,5 jam itu berlangsung cair dan diselingi obrolan ringan tentang kebangsaan.

Putri-putri Pak Harto, Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut), Siti Hediati Hariyadi (Mbak Titiek), Siti Hutami Endang Adiningsih (Mbak Mamiek) dan cucu Soeharto, Eno Sigit diterima oleh Pengasuh Ponpes al-Anwar Rembang KH Maimoen Zubair (Mbah Moen). Bersama Mbah Moen, mereka duduk di sofa.

Selama bersilaturahmi, putri dan cucu Soeharto banyak mendengarkan petuah-petuah Mbah Moen. Tak hanya soal ilmu agama, Mbah Moen juga memiliki wawasan kebangsaan yang tinggi. Sehingga petuah yang disampaikan sangat bermanfaat. Terlebih lagi bagi generasi muda, bisa menjadi pondasi pemahaman tentang kebangsaan.

Sembari mendengarkan petuah, putri dan cucu Soeharto juga disuguhi minuman dengan cangkir-cangkir yang di letakkan di meja bertaplak hijau.

Begitu silaturahmi usai, mereka bersama rombongan berpamitan pada Mbah Moen. Saat keluar, mereka juga berpamitan kepada para santri yang menyalaminya.

“Beliau sangat bersahaja. Kami sekeluarga sangat kehilangan karena kami sempat ketemu beliau, berkunjung ke pondok kediaman beliau dan diterima cukup lama,” ujarnya.

Bahkan, mantan Menteri Sosial di kabinet pembangunan VII ini mengaku kagum dengan daya pikir Mbah Moen yang sangat tajam di usia senjanya. Mbah Moen masih cemerlang dalam berbicara tentang kemerdekaan, kebangsaan, NKRI, dan sumpah pemuda.

“Di usianya yang sudah sepuh 90 lebih, pemikiran beliau masih tajam. Masih memikirkan bangsa, negara dan umat. Oleh karena itu, tidak heran kalau beliau di tokohkan dan rakyat Indonesia merasa kehilangan,” tuturnya.(EP/asi)

Baca Juga:

Mantan Menkes Nilai Pemerintah Tak Serius Kendalikan Tembakau

hamim

Akhirnya Wali Kota Risma Tinggalkan Rumah Sakit

Nethy Dharma Somba

Irjen Pol Sormin Martuani Pergi, Brigjen Pol Rudolf A Rodja Datang

Nethy Dharma Somba

Leave a Comment