Pospapua.com
Kwik Kian Gie. Foto: Inilah.com
Ekonomi

Kwik Kian Gie: Kebijakan Energi Saat Ini “Berbahaya”

Oleh: Andryanto S |

Kebijakan energi yang diterapkan pemerintah saat ini dinilai berbahaya karena masih mengandalkan energi fosil yang suatu saat akan habis, sementara tingkat konsumsi terus meningkat.

Pospapua.com, Jakarta — Kwik Kian Gie, Meko Ekuin Periode 1999-2000, menilai kebijakan energy pemerintah saat ini sangat-sangat berbahaya, karena mengandalkan energi fosil dan tidak mengedepankan energi terbarukan.

“Sejak awal diketahui energi fosil itu akan habis, sementara konsumsi terus meningkat. Posisi hari ini konsumsi BBM 1,6 juta barel per hari, lifting 800 ribu barel per hari, tapi karena ada macem-macem cost recovery dan lainnya, bangsa Indonesia hanya mendapat 50% atau 400 ribu barel per hari. Berarti kalau urusan minyak saja, itu sudah defisit 1,2 juta barel per hari. Sehingga ini sangat berbahaya,” ujar Kwik dalam diskusi di salah satu saluran televisi swasta di Jakarta, kemarin malam.

Namun, lanjut dia, pihaknya tidak melihat tanda-tanda yang konkret akan adanya solusi energi terbarukan untuk menggantikan energi fosil. “Padahl, potensinya justru luar biasa. Ada angin, matahari, air, skala besar skala kecil. Ini bukan bicara teoritis, tengoklah negara-negara lain, Norwegia sudah lama tidak bergantung 100% pada fosil energi, Swedia hari ini sudah 75% energinya dari sampah, yakni biomass. Nah kita belum apa-apa,” paparnya.

Kwik juga mempertanyakan mengapa surplus pemasukan negara dari minyak mentah tidak dipakai untuk energi alternatif, untuk mempertahankan kedaulatan energi? “Kok dipakai untuk infrastruktur, ini pertanyaan mendasar. Ini pertanyaaan mendasar yang akan berlaku untuk siapa pun yang terpilih dalam pilpres nanti,” tanyanya.

Merespons hal itu, Ego Syahrial, Sekjen Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menyatakan kebijakan energi mix saat ini memang masih didominasi energi fosil. Sekitar 60% berasal dari batubara. “Namun pemerintah sudah berhasil mengurangi jumlah itu dari 80% menjadi 60% batubara, dan 20% diambil dari gas. Kenapa kita tidak pindah ke energi terbarukan? Sudah, 13% energi kita dari energi terbarukan, atau sekitar 7.800 MW pembangkit kita dari energi terbarukan yakni angin, air, dan geothermal. Kita targetkan tahun 2025 mengurangi energi fosil sekecil-kecilnya, dan membesarkan energi terbarukan,” ucapnya.

Menurut Ego, kebijakan energi saat ini sudah on the track. “Memang kami mengakui listrik jika dibangkitkan dengan energi minyak itu harganya 4 kali lipat dibanding batubara atau energi terbarukan. Nah sekarang ini, kita bakar minyak diesel, itu dari sekitar 15%, sekarang sudah diturunkan menjadi hanya 5%,” paparnya.

Mengenai produksi minyak mentah Indonesia, lanjut dia, suka tidak suka, dalam 10-20 tahun negeri ini belum berhasil menemukan sumber minyak baru. “Ini terkait kebijakan masa lampau yang kurang eksplorasi. Karena itu, kami ubah skemanya ke gross split, ini memacu eksplorasi baru,” jelasnya. (*/Dry/INI-Network)

Baca Juga:

Jelang Lebaran Harga Cabai di Jayapura Merangkak Naik

Bagas

Mayoritas ASN Belum Tahu Program Jaminan Kecelakaan Kerja

hamim

Pengamat: Jangan Korbankan IKM demi Relaksasi DNI

Firman

Leave a Comment