Pospapua.com
Sejumlah tokoh agama berkumpul untuk berdiskusi masalah hoaks di Papua, Selasa (1/10). (foto : Humas Polda)
Nusantara

Kapolda Ajak Seluruh Elemen Masyarakat Perangi Hoaks di Papua

Oleh : Achmad Syaiful |

Pospapua.com, Jayapura – Kapolda Papua Inspektur Jenderal Polisi Paulus Waterpauw mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memerangi hoaks yang dianggap sebagai pemicu kerusuhan di Provisi Papua.

Pertemuan yang dikemas dalam diskusi ini digelar di Grand Allison Sentani, Selasa (1/10). Langkah ini  merupakan bagian dalam mengawali tugas baru yang diamanahkan Kapolri Jenderal Muhammad Tito Karnavian kepada Jenderal bintang dua asal Papua ini.

“FGD (Focus Group Discussion) penting untuk mengumpulkan para tokoh, baik pemuda, perempuan, adat, agama termasuk stake holder dan TNI-Polri untuk bagaimana berdiskusi permasalahan hoaks dan dampak-dampaknya,” ujar Paulus Waterpauw kepada wartawan.

Menurut Waterpauw, pemanfaatan teknologi telah menjadi era saat ini. Namun, masyarakat harus bijak dalam memahami sebuah berita sebelum diteruskan kepada yang lain. “Kalau membaca tidak tuntas dan berita itu diteruskan, dan ternyata berita itu mengandung ketidakbenaran hingga berbuah kerawanan seperti yang saat ini terjadi,” kata Waterpauw.

Dia mencontohkan, peristiwa kecelakaan yang telah lama terjadi dan menelan korban. Foto peristiwa itu kemudian diangkat dengan menyebut bagian dari pembunuhan yang terjadi dalam kurun waktu dua atau tiga hari lalu.

Parahnya, kata Waterpauw, berita itu diteruskan ke sejumlah pihak tanpa klarifikasi. “Situasi di Papua sangat luar biasa, dampak dari dugaan rasis di Surabaya dan Malang serta penyebaran Hoaks memicu eksodus mahasiswa Papua di kota studi,” ujarnya.

Waterpauw mengaku prihatin dengan sikap kaum muda di Papua yang tidak menghormati orang tua. Misalnya, penolakan kehadiran Gubernur Papua Lukas Enembe di Asrama Surabaya. “Mahasiswa menolak gubernur, padahal beliau sebagai orang tua. Kemudian undangan di Gedung Negara juga ditolak,” tuturnya.

Dia berharap seluruh pihak dapat menyingkapi persoalan yang kini tengah terjadi pada kaum muda di Papua. (Asi)

Baca Juga:

Pengungsi Membutuhkan Baju Seragam dan Perlengkapan Sekolah

Nethy Dharma Somba

Damai Jayapura, Kapolda dan Pangdam Temui Paguyuban

Syaiful

Tertimpa Troli, Nyawa Seftinus Manggaprouw tidak Tertolong

Nethy Dharma Somba

1 comment

fahmi 2 October 2019 | 15:25 at 15:25

Janganlah terlalu mudah untuk terprovokasi
Sebagai orang Surabaya ungkapan atau mengumpat adalah hal yang biasa. kata kata juancuk… atau Juancuk Rai mu koyok Bedes ..mulih yoo cuk…( mengumpat khas Surabaya.. mukamu seperti monyet pulang sana..cuk ), itu hal yang biasa karena masyarakat Surabaya sudah terbiasa berkata kasar… mereka rata rata membalas dengan sindiran pula..,tidak sampai sakit hati dendam dan melakukan tidakkan anarkis… kecuali masyarakat Surabaya dibalas dengan kekerasan baru kita juga membalasnya dengan kekerasan. Itulah kenapa Surabaya termasuk kota Aman…, karena masyarakat nya tidak mudah tersinggung …, saling menyadari toh itu cuma luapan emosi sesaat saja

Reply

Leave a Comment