Pospapua.com
Jembatan Youtefa
Jembatan Youtefa yang menjadi ikon warga Papua menjelang peresmian oleh Presiden Jokowi, Senin (28/10). (foto: Achmad Syaiful/Pospapua.com)
Nusantara

Jembatan Kebanggaan Warga Jayapura Bernama Youtefa, Ini Manfaatnya!

Oleh: Achmad Syaiful |
Pospapua.com, Jayapura – Nama resmi Jembatan Holtekamp yang membentang sepanjang 732 meter penghubung wilayah Distrik Jayapura Selatan dan Muara Tami, akhirnya terkuak.

Jembatan yang bakal menjadi urat nadi masyarakat Jayapura ternyata bernama Youtefa. Nama ini diambil dari nama Teluk Youtefa yang ada di wilayah Jayapura.

Awalnya nama jembatan yang menghabiskan dana Rp1,8 triliun ini masih dirahasiakan dari khalayak umum karena adanya perdebatan antara Pemerintah Kota Jayapura dan Pemerintah Papua.

Meskipun pamflet tanda peresmian ramai berjejer di sepanjang jalan kawasan wisata Pantai Hamadi. Sementara di area peresmian telah terpasang baliho bertuliskan nama Jembatan Youtefa yang akan diresmikan oleh Presiden Jokowi.

Dalam baliho itu, Presiden Jokowi didampingi Ibu Negara Iriana Jokowi akan mencanangkan pembangunan Papua youth creative hub atau bangunan tempat orang-orang kreatif muda Papua bisa berkumpul dan berkarya.

Jembatan Youtefa yang mulai dibangun pada Mei 2015 akan memberikan empat manfaat untuk warga dan perkembangan ibu kota. Manfaat pertama, sebagai solusi permasalahan kepadatan pendudukan di Kota Jayapura.

Manfaat kedua, mempersingkat waktu tempuh sekitar 90 menit dari Kota Jayapura menuju Distrik Muara Tami dan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw.

Manfaat ketiga, sarana pendikung Pekan Olahraga Nasional (PON) di Papua. Manfaat keempat, menjadikannya sebagai ikon baru Papua.

Joni misalnya, pedagang bakso keliling asal Ponorogo. Dia merasa sangat terbantu dengan keberadaan Jembatan Youtefa yang mempermudah akses menuju Distrik Muara Tami.

“Saya jual bakso keliling dari Abepura hingga Koya, Distrik Muara Tami dan Arso, Kabupaten Keerom. Selama ini kami menggunakan akses Jalan Trans Arso-Jayapura, namun kalau melintasi jembatan waktu akan mempersingkat,” katanya.

Selama ini, Joni mengaku khawatir ketika pulang berdagang bakso keliling dari arah Koya. Hal ini dikarenakan jalan berliku dan jauh dari perumahan penduduk, serta belum ada penerangan warga.

” Kalau pulang kami beriringan hingga 10 gerobak motor karena takut pulang malam. Biasanya kami pulang hingga pukul 10.00 WIT,” kata dia. (Asi)

Baca Juga:

Dibubarkan Paksa, Pendemo Anarkis

Nethy Dharma Somba

Gubernur : Kehadiran Kapolri dan Panglima TNI Bantu Pemerintah Papua

Syaiful

Ratusan Korban Kebakaran Asmat Mengungsi ke Rumah Ibadah

Syaiful

Leave a Comment