Pospapua.com
Mahasiswa Unair olah limbah rumput laut jadi bata ringan. (foto: istimewa)
Ekonomi Kreatif

Inovasi Mahasiswa Unair Limbah Rumput Laut jadi Bata Ringan

Oleh: Tom Lazuardi |

Pospapua.com, Surabaya – Bangunan kokoh dan tahan gempa menjadi impian banyak orang. Namun, hal itu tidak mudah diwujudkan Salah satunya karena letak geografis suatu daerah.

Atas dasar itu, tiga mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) melahirkan inovasi manfaatkan limbah rumput laut sebagai bahan bata ringan. Mereka adalah Andhika Alfa Musthofa (Fakultas Perikanan dan Kelautan 2015), Muhammad Zulfikar Alfian Bahtiar (Fakultas Perikanan dan Kelautan 2015), dan Farid Maulana Ibrahim (Fakultas Sains dan Teknologi 2015).

Jika ada daerah yang kesulitan mendapatkan pasir untuk membuat bata ringan, maka material ini nantinya disubstitusikan oleh limbah rumput laut Kappaphycus alvarezii.

Inovasi yang sedang dalam proses pengerjaan itu diusulkan dalam bentuk Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) dengan judul “Pemanfaatan by product Kappaphycus Alvarezii sebagai Bata Ringan Material Tahan Gempa”.

Proposalnya di bawah bimbingan dosen Annur Ahadi Abdillah SPi, MSi. Inovasinya sudah mendapatkan respon dari Kemenristekdikti dan lolos pendanaan.

Andhika, selaku ketua tim, menjelaskan saat ini penelitian sudah pada tahap pengeringan bata ringan. Hasilnya siap diujikan pada 24 Juni.

“Gagasan ini muncul dari besarnya limbah olahan karaginan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang sampai 65-70%. Apa lagi sekarang industri pengolahan rumput makin banyak. Padahal, menurut Kementerian Perindustrian, pada 2013 produksi karaginan mencapai 12,5 juta ton dan terus meningkat tiap tahunnya. Artinya, tiap tahun ada sekitar 25 juta ton limbah hasil pengolahan karaginan. Sampai saat ini, belum ada pemanfaatan limbah ini secara massal,” ujarnya.

Beberapa literatur menyebutkan, terdapat kandungan selulosa pada limbah pengolahan rumput laut. Selulosa ini dapat membuat ikatan jika dimanfaatkan sebagai material. Bukti penelitian menunjukkan selulosa ini bisa dimanfaatkan sebagai Medium Density Fibreboard (jenis kayu olahan terbuat dari serpihan kayu yang dipadatkan).

“Bata ringan yang kami tawarkan diharapkan lebih kuat jika dibandingkan dengan bata ringan biasa. Adanya kombinasi limbah karaginan ini, menurut hipotesis kami, bisa menambah kuat tekanan maupun kuat lentur dari bata ringan. Limbah rumput laut memiliki karakter mirip dengan pasir dan cocok untuk material tahan gempa. Selain itu, limbah karaginan dapat menambah kekuatan dari ikatan yang ditimbulkan dari semen karena adanya selulosa,” tambahnya.

Pemanfaatan limbah rumput laut menjadi bata ringan ini dipilih dengan alasan wilayah Indonesia sangat rawan gempa. Bangunan-bangunannya mudah roboh. Hal itu disebabkan konstruksinya tidak kuat atau materialnya rapuh. Material yang rapuh dan kaku seperti batu bata dapat menyebabkan retakan pada dinding hingga bangunan mudah roboh. (Lin/nds)

Baca Juga:

Fesyen Jadi Barang Favorit di Platform Jual-Beli Online

hamim

DuitHape Pembayaran Berbasis Android Sasar Masyarakat Ekonomi Menengah ke Bawah

Nethy Dharma Somba

Menikmati Kopi Pegunungan Bintang di Festival Crossborder Skouw

Nethy Dharma Somba

1 comment

Rifky Ramadan 20 August 2019 | 11:16 at 11:16

konten yang bagus, di website kampus saya juga memberikan berita tentang Pemanfaatan Limbah rumput laut, saya punya tautan untuk referensi Anda atau kunjungi di bawah
http://news.unair.ac.id/2017/07/17/limbah-rumput-laut-diinovasi-jadi-penunjang-pertumbuhan-plankton-di-tambak/

Reply

Leave a Comment