Pospapua.com
Ilustrasi: Gojek. Foto: Chromplex
Ekonomi

INDEF: Modal Asing Menjadi Pilihan Rasional Startup Unicorn

Oleh: Ahmad Z.R |

Investor dari dalam negeri dinilai belum terlalu banyak berminat pada awal proses pendanaan bisnis aplikasi ini.

Pospapua.com, Jakarta — Pemberian akses modal oleh perusahaan asing terhadap startup unicorn cukup dominan dalam memengaruhi beberapa kebijakan dalam startup unicorn tersebut, termasuk soal data.

Pengamat INDEF (Instute for Developmen of Economis and Finace) Nailul Huda mengatakan, suntikan modal kepada unicorn ini sudah lama dibahas di Indonesia, terlebih pasca Gojek mendapatkan suntikan modal dari perusahaan asing seperti JD.com, Tencent, ataupun Google.

“Pendanaan ini juga bukan hal yang baru bagi Gojek ataupun unicorn lainnya seperti Traveloka, Tokopedia, dan Bukalapak,” kata Huda kepada Indonesia Inside, saat dihubungi, Rabu (20/2).

Ia tak menampik startup unicorn ini memang perlu suntikan modal besar yang nantinya bisa untuk mengembangkan usaha dan anak usahanya. Menurut Huda, investor dari dalam negeri dinilai belum terlalu banyak berminat pada awal proses pendanaan bisnis aplikasi ini.

“Baru pada 2018 banyak dari perusahaan dari dalam negeri masuk dalam proses pendanaan unicorn ini. Contohnya Gojek yang mendapatkan suntikan dari salah satu anak usaha Djarum. Jadi, unicorn ini butuh modal untuk berkembang,” ujarnya.

“Ketika asal suntikan dalam negeri belum banyak peminatnya, maka modal dari perusahaan asing menjadi pilihan rasional,” imbuhnya.

Sehingga, penanaman modal yang dilakukan oleh unicorn-unicorn Indonesia ini berbentuk private equity round. Startup unicorn yang menanamkan modal ditawarkan secara kolektif, dengan salah satu perusahaan investor yang menjadi leadnya. Perjanjian ini biasanya berjangka waktu beberapa tahun.

“Jadi sifatnya hanya sementara dan pemiliknya tetap walaupun datang investor terus menerus,” kata Huda.

Berbicara kedaulatan data, jelas Huda, ketika masyarakat sudah mendaftar di suatu platform internet, maka secara otomatis ia sudah mensetujui informasi yang diberikan kepada platform internet (termasuk usaha ekonomi digital) dapat dilihat dan dimanfaatkan oleh pemilik platform internet.

“Pengguna juga gratis untuk masuk ke aplikasi kan? Seperti applikasi WhatsApp, data kita terekam di server sana. Jadi memang dari awal kita mendaftar kita sudah setuju penggunaan WA ini,” pungkasnya. (*/Dry/INI-Network)

Baca Juga:

Garuda Berencana Tukar Pesanan 49 Boeing 737 Max

hamim

Menkeu: Rp 1.786 Triliun Target Pajak yang Berat

hamim

Bayar Utang, Cadangan Devisa Indonesia Sisa US$ 120,3 Miliar

Nethy Dharma Somba

Leave a Comment