Pospapua.com
Penyerang - Wiranto
Syahrial Alamsyah (kanan) penyerang Wiranto saat diamankan di Kantor Kepolisian Pandeglang, Banten, Kamis (10/10).(foto : istimewa)
Headline Nasional

Catatan Kelam Penyerang Wiranto, Mulai Narkoba hingga Kisah Asmara yang Rumit

Oleh: Daniel P |

Pospapua.com, Medan – Sosok penyerang Menko Polhukam, Wiranto ternyata memiliki lika-liku kisah asmara yang bisa membuat geleng-geleng kepala. Syahrial Alamsyah, begitu nama lengkapnya, menyimpan catatan kelam jauh sebelum penusukan di Pandeglang, Banten, Kamis (10/10).

Kelamnya perjalanan hidup Syahrial terungkap saat jurnalis INI-Network mendatangi kawasan tempat kelahiran Syahrial di Jalan Alfaka 6, Kelurahan Tanjung Mulia Hilir, Kecamatan Medan Deli, Kota Medan, Sumatera Utara.

Warga sekitar mengenal Syahrial sebagai sosok yang tertutup, tapi ramah. Syahrial pun terkenal taat agama dan rajin beribadah. Dua fakta ini membuat warga heran, Syahrial bisa nekat melakukan aksinya terhadap Wiranto.

Syahrial sendiri tinggal di rumah orang tuanya. Dia tinggal bersama dua anaknya dari pernikahan keduanya. Sempat membuka usaha di rumah itu, Syahrial kemudian pindah karena rumahnya digusur proyek Jalan Tol Helvetia-Tanjung Mulia.

Fatimah, tetangga samping rumah Syahrial menuturkan, para tetangga sempat mengenal istri pertama dan kedua Syahrial. Namun, warga sekitar sama sekali tak mengenal istri ketiga Syahrial yang ikut berada di lokasi penyerangan Wiranto.

Syahrial diketahui telah memiliki dua anak dari istri kedua. Istri ketiganya juga dikabarkan telah memiliki dua anak sebelum menikah dengannya. Tetangga juga mengenal Syahrial sebagai sosok yang pintar.

Dia pernah bersekolah di SMA Negeri 3 Medan dan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Usai tamat kuliah, kira-kira pada 1994-1995 dia pernah bekerja di bengkel, tak jauh dari rumahnya. Selanjutnya, dia bekerja sebagai supir angkot. Angkot itu diketahui miliknya sendiri.

Bosan menarik angkot, Syahrial beralih profesi. Sambil menerima pesanan laminating berkas, dia juga membuka rental PS di rumahnya. Namun, karena barang-barang di rental sering kemalingan, usahanya tutup.

Dia kemudian membuka depot isi ulang air minum, tak berapa lama setelah menikahi istri ketiganya dan pindah rumah ke kawasan Martubung.

Teman masa kecil Syahrial, Dian Susanto menuturkan, Syahrial pernah mengalami masalah rumah tangga dengan istri pertamanya, Kanti Netta. “Malam pertama pernikahan, dia ditinggal kabur oleh istri pertamanya,” katanya.

Tak genap setahun menikah dengan istri pertamanya, mereka memutuskan bercerai. Akibat kejadian ini, dia sempat kehilangan arah dan mengkonsumsi narkoba. Dia kemudian menikah untuk kedua kalinya.

Pernikahan dengan istri keduanya, Yuni Ramadhani sempat ditentang pihak keluarga perempuan. Mereka menuduh Syahrial membawa kabur anak perempuan orang. Syahrial sempat masuk sel tahanan selama tiga bulan akibat kasus ini.

Begitupun, pernikahan mereka tetap berlangsung dan dikaruniai dua anak perempuan. Pernikahan keduanya juga kandas. Para tetangga, termasuk teman pelaku tak tahu sebabnya apa.

Setelah pernikahannya kandas untuk kedua kalinya, Syahrial makin tertutup. Dia sempat tak bekerja selama beberapa lama. Anak-anaknya bahkan sampai kekurangan makanan, namun Syahrial enggan meminta pertolongan dari para tetangga.

“Kami hanya melihat dia menuntun anaknya ke mushola untuk salat. Tegur sapa seadanya. Tapi dia makin rajin ibadah,” katanya.

Tak berapa lama setelah itu, tiba-tiba Syahrial sudah membawa satu perempuan lagi. Tetangga maupun kawan dekat tak mengetahui wanita yang diakuinya sebagai istri ketiganya itu.

Sebulan tinggal di rumah itu, Syahrial kemudian memutuskan pindah. Mereka pindah ke Martubung. Informasi mengenai Syahrial langsung putus, setelah itu. Para tetangga pun tak tahu keberadaanya, hingga mendengar bahwa dia berkasus di Pandeglang, Banten, Kamis pagi.

Syahrial ditangkap polisi karena menyerang dan berupaya menikam Menko Polhukam, Wiranto dengan pisau saat hendak menghadiri satu acara di Alun-alun Menes, Desa Purwaraja, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten. Dia ditangkap bersama istrinya. (Far/Asi/INI Network)

Baca Juga:

Presiden Ketiga Indonesia, BJ Habibie Wafat

Syaiful

Perludem: Usut Tuntas Surat Suara yang Tercoblos di Malaysia

Nethy Dharma Somba

Ibu Kota Negara Pindah ke Kalimantan? Ini Penjelasannya

Syaiful

Leave a Comment