Pospapua.com
Ilustrasi terorisme. Foto: Ashtree International
Narasi

Bom Sibolga, Dialog Ibnu Abbas dengan Khawarij

Oleh: Herry M. Joesoef |

Bom Sibolga, Suamtera Utara, menewaskan istri dan anak terduga teroris. Beberapa orang mengalami luka-luka. Kita bisa meminimalisir aksi-aksi teror dengan mengacu pada Ibnu Abbas Radhiyallalhu ‘anhuma ketika mengajak berdialog dengan kaum Khawarij.

Pospapua.com, Jakarta — Dua kali terjadi ledakan di sebuah rumah di Jalan KH Ahmad Dahlan, Gang Sekuntum, Kelurahan Pancuran Bambu, Kecamatan Sibolga Sambas, Siboga, Sumatera Utara. Istri dan anak terduga teroris, Abu Hamzah, tewas. Polisi sudah merilis bahwa mereka adalah kelompok Jamaah Ansharu Daulah (JAD) yang punya afiliasi dengan gerakan Islamic State in Iraq and Suriah (ISIS). Sejak Juni 2014, ketika Abu Bakar Al-Baghdadi menjadi khalifah, ISIS berubah nama menjadi Islamic State/Daulah Islamiyah. Dari sini, muncullah gerakan JAD Nusantara yang melakukan aksi-aksi teror untuk menunjukkan eksistensinya.

IS yang di Irak dan Suriah saat ini terus terjepit, dan kekuatannya semakin melemah. Tapi, di Indonesia, nampaknya, mereka hendak menunjukkan eksistensinya, dengan caranya sendiri: aksi teror. Aksi-aksi teror yang dilakukan oleh sekelompok kecil orang yang mendasarkan pada agama Islam, mesti disikapi secara arif, agar penanganannya juga tepat guna.

IS yang sekarang ini, menurut kesepakatan ulama, adalah Khawarij modern. Kaum Khawarij awalnya memusuhi Khalifah Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, karena dianggap tidak tegas dalam mensikapi pembunuhan atas Khalifah Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu. Adalah Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ketika melakukan dialog dengan Khawarij, perlu dijadikan pelajaran bersama.

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, putra dari paman Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam, adalah generasi Rabbani yang paling faham terhadap kitabullah, dan yang paling mengetahui takwil serta tafsirnya. Ia lahir pada 3 tahun sebelum Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah. Walaupun demikian, karena sejak usia 3 tahun ia sudah hidup bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam, tidaklah heran jika ia menghafal 1660 hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dalam kitab shahihnya.
Ketika kaum Khawarij memisahkan diri dari barisan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, maka Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma meminta izin kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu untuk menemui dan berdialog dengan mereka.

Sebagaimana diungkapkan oleh Dr. Abdurrahman Ra’fat al-Basya, dalam “Shuwar min Hayati ash-Shahabah”, Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma mendatangi mereka. Melihat kedatangan Ibnu Abbas, sebagian melarang untuk menemui, sebagian lainnya menerimanya. Lalu terjadilah dialog antara Ibnu Abbas dengan kaum Khawarij.

Apa kesan pertama yang dilihat oleh Ibnu Abbas tentang kaum Khawarij? “Saya tidak pernah menjumpai satu kaum yang paling bersungguh-sungguh dalam beribadah melebihi ibadah mereka.”

Lalu, dialog pun terjadi. Ibnu Abbas radiyallahu anhu mengatakan, “Sampaikan kepadaku apa kesalahan Kahlifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu sampai kalian memisahkan diri dari sepupu Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Shallam, menantu beliau, sekaligus pemuda yang pertamakali beriman?”

Kaum Khawarij menjawawab, “Pertama, Ali memutuskan perkara agama Allah dengan mengambil pendapat orang-orang; kedua, Ali memerangi Aisyah dan Mu’awiyah namun ia tidak mengambil rampasan perangnya, dan tidak menjadikannya sebagai tawanan perang; dan ketiga, Ali telah menghapuskan sebutan Amirul Mukminin untuk dirinya padahal kaum muslimin telah membaiat dan menjadikannya sebagai amir.”

Giliran Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma menjawab, satu per satu.

Pertama, pernyataan Ali Radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau menetapkan hukum dalam agama Allah dengan pendapat orang-orang, sungguh Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 95, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa diantara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya adalah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan bianatang yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai hakimnya.”
Apakah hukum yang diputuskan orang-orang demi menjaga tertumpahnya darah mereka, keselamatan diri mereka, dan kemaslahatan antar mereka itu lebih tepat dan lebih berhak untuk didahulukan atau keputusan mereka dalam hal kelinci yang harganya seperempat dirham?

Kedua, tentang Ali Radhiyallahu ‘anhu tidak menjadikan wanita-wanita yang kalah dalam peperangan sebagai tawanan sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam? Apakah kalian akan menjadikan Ibu kalian, Aisyah, sebagai tawanan dan kalian menghalalkannya sebagaimana dihalalkan pada perempuan-perempuan tawanan? Jika kalian menjawab “Ya”, maka sungguh kalian telah keluar dari Islam.

Ketiga, Ali bin Abi Thalib melepaskan dirinya dari julukan Amirul Mukminin, sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam telah melakukan hal yang sama ketika kaum musyrikin meminta menghapus sebutan Rasululah dalam “Perjanjian Hudaibiyah” yang telah disepakati bersama “Hadza ma qadha ‘alaihi Muhammad Rasululullah (Ini yang telah diputuskan dan ditetapkan oleh Rasulullah)”. Kaum Musyrikin menjawab, “Jika kami mengimani engkau adalah urtusan Allah niscaya kami tidak menghalangimu untuk menziarahi Baitullah, dan kami tidak akan memerangimu juga, karenanya, tulislah “Muhammad ibnu Abdillah (Muhammad putra Abdillah). Maka beliau, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersedia memenuhi permintaan mereka seraya bersabda, “Demi Allah, aku adalah utusan Allah meskipun kalian mendustakan diriku.”

Jawaban-jawaban Ibnu Abbas atas tiga persoalan yang dituduhkan kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib tersebut rupanya berhasil meyakinkan kaum Khawartij. Seusai dialog, sebanyak 20 ribu kaum Khawarij kembali ke barisan Ali bin Abi Thalib, dan 4 ribu orang lainnya tetap bertahan pada pendiriannya.

Inilah tantangan kita saat ini, termasuk para ulama dan ustadz, untuk terus menerus melakukan dialog dengan para ISISer, agar mereka bisa tercerahkan dan tidak semakin jauh keluar dari koridor Islam. Syarat untuk dialog adalah mau mendengar, dan mau menerima kebenaran jika itu datangnya dari Allah dan junjungannya, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.

Untuk menghadapi para Khawarij moderen, kita memerlukan Ibnu Abbas-Ibnu Abbas yang punya kedalaman ilmu, santun, dan bijak dalam mengurai sebuah persoalan. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh para ulama yang tulus (ulama ukhrowi), bukan ulama fulus (ulama duniawi)! (HMJ/INI-Network)

Baca Juga:

Qomar, Ijazah dan Tahta

Nethy Dharma Somba

Hendropriyono dan Keturunan Arab

Anjar Asmoro Heryanto

Pak Jokowi, Jangan Ajari Kami Menyebarkan Hoax

hamim

Leave a Comment