Pospapua.com
Agus Bei yang sempat dikira stres oleh lingkungan sekitar rumahnya karena kerap menanam pohon bakau seorang diri di pesisir pantai sekitar Kelurahan Graha Indah. (foto: poskaltim)
Feature

Agus Bei, Hijaukan Pantai Seluas 40 Hektar dengan Mangrove

Oleh: Andrie Aprianto |

Pospapua.com, Balikpapan – Kebaikan yang Anda semai, kebaikan pula yang akan mendatangimu. Sepertinya prinsip inilah yang dipegang Agus Bei, pria kelahiran Banyuwangi. Sempat dianggap stres karena kerap ke pesisir pantai sendirian dan menanam pohon bakau atau mangrove. Itu terjadi puluhan tahun lalu.

Namun siapa sangka, kebaikan yang ia tanam mendatangkan kebaikan pula. Tak hanya bagi diri sendiri dan keluarga, tapi juga bagi nama baik kampung perantauannya, Balikpapan, Kalimantan Timur. Lahir dan besar bukan dari kalangan keluarga petani, peternak atau sektor pertanian. Namun dia justru menjadi pelopor hutan mangrove terus terbaik dunia.

Agus Bei, pria kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur tahun 1968. Dia adalah perintis hutan wisata bakau di kawasan Kelurahan Graha Indah, Balikpapan Utara, yang kini telah dikenal oleh dunia. Kini kawasan wisata mangrove yang dikelolanya merupakan salah satu yang terbesar dan terbaik di Kalimantan.

Kepada Poskaltim.com (INI Network), Agus Bei menceritakan awal mulanya ia berada di Kota Balikpapan saat tahun 1989. Saat itu dirinya masih berprofesi sebagai seorang kontraktor di bidang infrastruktur dan kelistrikan. Dengan profesinya tersebut, mengharuskan Agus untuk sering meninggalkan keluarganya di rumah.

Agus Bei dikira stres oleh lingkungan sekitar rumahnya karena kerap menanam pohon bakau seorang diri di pesisir pantai sekitar Kelurahan Graha Indah. Pada tahun 1997 lalu, sebuah bencana alam angin puting beliung menimpa kampung rumahnya yang terletak di RT 85 Kelurahan Graha Indah, Balikpapan Utara. Musibah ini sempat menghancurkan beberapa rumah yang terdapat di RT 85 tersebut.

Agus khawatir karena kerap meninggalkan keluarganya untuk sebuah proyek di luar kota. Tak jarang proyek yang ia kerjakan memakan waktu berbulan-bulan di luar daerah.

Dari sinilah awalnya ia berpikir, bagaimana melestarikan kawasan bakau untuk menolak bala angin puting beliung.

“Awalnya, cuma browsing dari internet aja, bagaimana cara mengatasi puting beliung di daerah pesisir. Salah satunya tanaman bakau atau mangrove. Nah saya cari tau lagi apa itu mangrove, bagaimana cara tanam dan peliharanya sampai dia bener-bener bisa menghasilkan manfaat ini,” ujarnya.

Akhirnya Agus mencoba menanam beberapa bibit pohon mangrove yang ia peroleh dari salah seorang relasinya. Ditanamnya pun hanya di depan rumahnya saja, yang merupakan bekas tambaknya.

“Saya dapat dari rekan kerja. Ada kurang lebih 50 batang bibit siap tanam. Saya coba tanam disitu dulu (bekas tambaknya). Cuma nanamnya nunggu air surut, gak berani orang sini kalo pas air tinggi, soalnya masih ada buaya,” terang Agus.

Agus Bei mendapatkan sebuah penghargaan Kalpataru dari Presiden RI Joko Widodo di Istana Negara, pada Agustus 2017 lalu. (foto: poskaltim)

Setelah hampir tiga bulan, tanaman mangrove yang ia tanam gagal. Beberapa bibit mati akibat air pasang dan surut. “Gagal pertama itu, memang bukan bakat sepertinya. Tapi saya cari terus di internet. Dapat lagi nih ilmu baru, rupanya harus pakai turus (kayu yang ditancapkan disamping bibit dan diikat) agar tidak larut saat terjadi pasang surut air,” tegasnya.

Beberapa bulan saja tanaman bakau ini sudah nampak membesar dan bercabang akarnya. Hasil tersebut, lantas membuat semangat seorang Agus bertambah yakin untuk bisa memperbanyak tanaman mangrove di depan rumahnya yang merupakan pesisir pantai. Sedikit demi sedikit bibit tanaman bakau mulai membuahkan hasil.

“Alhamdulillah, setelah bibit kedua berhasil, tingginya sampai satu meter dan akarnya mulai keluar, saya minta lagi bibitnya ke teman itu. Datang saya tanam lagi sepanjang pesisir depan rumah sampai kurang lebih 10 meter,” jelasnya.

Dalam obrolan ini, Agus Bei sempat menceritakan, jika dirinya kala itu dianggap mulai stres oleh beberapa teman kerja dan warga di lingkungannya. Pasalnya ia sibuk hanya mengurusi tanaman mangrove yang masih asing bagi warga sekitar Graha Indah ini.

“Saya sempat dikira stres sama tetangga sini. Kok orang ini ngerjain tanaman itu terus. Sudah hampir enam bulan saya lupa sama proyek saya ini,” ujarnya sambil tertawa.

Kawanan monyet hidung panjang atau Bekanan yang kerap muncul di pepohonan bakau. Hari demi hari terus dilalui, Agus Bei tanpa peduli omongan tetangganya, bahkan profesinya sebagai kontraktor yang melekat padanya kini mulai luntur. Hal tersebut untuk membuktikan jika kelak rimbun, pohon mangrove ini bisa memiliki banyak manfaat, dapat menahan hembusan angin kencang, bisa memberikan kehidupan bagi biota laut, tempat kepiting dan ikan berkembang biak.

Namun yang paling penting adalah hutan mangrove dapat menyaring udara kotor dan warga sekitar bisa menikmati udara yang segar setiap hari.

Bapak dua anak ini hingga kini terus melakukan penanaman bakau, hingga akhirnya membuahkan hasil. Bentang pohon manggrove yang ada di depan rumahnya mulai terlihat tumbuh dengan cepat, dalam kurun waktu tujuh tahun. Pemandangan pohon bakau sudah terlihat jelas dan berwarna hijau sejuk dipandang mata.

“Cukup lama untuk merasakan hasilnya, yah sekitar tujuh tahun,” ujarnya.

Hingga pada tahun 2015, pohon bakau yang berhasil ditanamnya sudah mencapai ribuan pohon mangrove dengan luas 40 hektare.

“Kita harus merawatnya, jangan sampai habis ditanam tidak di perhatikan, sehingga jika ada yang mati segera bisa diganti untuk ditanam kembali,” lanjutnya.

Dengan hadirnya hutan mangrove dikawasan Graha Indah ini, manfaatnya dirasa tidak hanya bagi warga dan lingkungan sekitar, selain tidak pernah terjadi angin kencang dan puting beliung, kawasan hutan mangrove ini telah menjadi rumah habitat kawanan monyet berhidung panjang atau Bekantan.

Agus Bei menjelaskan, hampir setiap pagi pemandangan unik dapat dilihat pada kawasan hutan bakau, dimana terdapat puluhan Bekantan sedang memakan pucuk atau buah bakau. Kawanan Bekantan ini datang, setelah kawasan bakau rimbun. Binatang yang hidupnya berkelompok ini, lantas menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk datang ke hutan mangrove Graha Indah.

“Sekarang hasilnya baru terasa, banyak wisatawan datang untuk menyusuri sungai di tengah hutan mangrove. Selain itu, untuk melihat kawanan Bekantan atau monyet belanda ini, ada yang ambil gambarnya karena memiliki hidung panjang dan warna terang kecoklatan,” terang Agus.

Sejak itu mulai dikenal oleh masyarakat luas, Agus Bei bersama warga sekitar membentuk kelompok sadar wisata atau Pokdarwis dengan menyiapkan sejumlah perahu untuk disewa oleh wisatawan yang berniat menyusuri area mangrove.

“Saat ini ada tiga perahu, dua perahu biasa satu perahu besar, semuanya merupakan sumbangan dari perusahaan,” jelasnya.

Usaha Agus Bei mendapat penghargaan. Dia menyabet Kalpataru dari Presiden RI Joko Widodo di Istana Negara, pada Agustus 2017 lalu.

“Gak nyangka saja saat tim Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan menyampaikan surat penghargaan sebagai penerima Kalpataru. Sudah itu akan diberikan oleh presiden pula, siapa yang tdak sangat senang,” jelasnya sumringah.

Lokasi mangrove center Graha Indah, Balikpapan Utara kini menjadi salah satu lokasi wisata andalan Kota Balikpapan. Tidak hanya wisatawan nasional yang sering datang kesini, namun wisatawan mancanegara juga sering datang untuk melihat si monyet belanda ini.

“Hampir setiap hari ada saja wisatawan yang datang, bukan hanya masyarakat Balikpapan, namun ada juga wisatawan luar daerah bahkan luar negri yang datang, untuk menikmati hijaunya hutan mangrove serta Bekantan,” jelas Agus Bei. (Aza/Yan/INI Network)

Baca Juga:

Ada Bukit Jokowi di Jayapura

Nethy Dharma Somba

Khansa Syahlaa, Gadis Cilik Penakluk Gunung Kilimanjaro dan Carstenz

Nethy Dharma Somba

Belajar Dari Muslimah, Mendidik 3 Putranya Tuna Netra

Firman

Leave a Comment