Pospapua.com
Jamaah Salat Ied di halaman Kantor Gubernur Papua, Jayapura (foto : Achmad Syaiful)
Khazanah

Ada Tiga Pesan Dipetik dari Kisah Rasul Soal Ibadah Kurban, Ini Penjelasan Rektor IAIN Papua

Oleh : Achmad Syaiful |

Pospapua.com, Jayapura – Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Fattahul Muluk Papua  Habib Idrus Al-Hamid menilai ibadah kurban tahunan yang umat islam laksanakan adalah bentuk i’tibar atau pengambilan pelajaran dari kisah tersebut.

“Setidaknya ada tiga pesan yang bisa dipetik dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail serta ritual penyembelihan tentang kurban secara umum,” kata  Habib Idrus Al-Hamid saat khutbah salat Idul Adha di halaman Kantor Gubernur Papua, Jayapura, Minggu (11/8).

Pelajaran pertama, tentang totalitas kepatuhan kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim mendapat julukan “khalilullah” (kekasih Allah) mendapat ujian berat pada saat rasa bahagianya meluap-luap dengan kehadiran sang buah hati dalam rumah tangganya.

Lewat perintah menyembelih Ismail, Allah SWT seolah hendak mengingatkan Nabi Ibrahim bahwa anak hanyalah titipan. Anak betapun mahalnya tidak boleh melengahkan bahwa hanya Allah SWT tujuan akhir dari rasa cinta dan ketaatan.

“Nabi Ibrahim lolos dari ujian ini dan membuktikan bahwa dirinya sanggup mengalahkan egonya untuk tujuan mempertahankan nilai-nilai ilahi. Dengan penuh ketulusan, Nabi Ibrahim menapaki jalan pendekatan diri kepada Allah SWT sebagaimana makna kurban, yakni pendekatan diri,” terang khatib Idrus.

Sementara Nabi Ismail, meski usianya masih belia mampu membuktikan diri sebagai anak berbakti dan patuh kepada perintah Allah SWT. Menariknya, Nabi Ibrahim memohon pendapat dari Nabi Ismail dengan tutur kata halus dan tanpa unsur paksaan.

“Atas dasar kesalehan dan kesabaran yang dia miliki, akhirnya memenuhi panggilan Allah SWT,”  urainya.

Jamaah usai melaksanakan Salat Ied di halaman Kantor Gubernur Papua. (foto : Achmad Syaiful)

Pelajar kedua adalah tentang kemuliaan manusia.  Pergantian Nabi Ismail dengan domba besar adalah pesan nyata bahwa pengorbanan dalam bentukn tubuh manusia sebagaimana yang berlangsung dalam tradisi sejumlah kelompok pada zaman dahulu adalah hal yang diharamkan.

“Dalam kisah itu dari satu sisi, kita diingatkan untuk tidak menganggap mahal sesuatu bisa untuk mempertahankan nilai-nilai ketuhanan, namun dari sisi lain kita juga diimbau tidak meremehkan nyawa dan darah manusia,” jelasnya.

Manusia dengan manusia lain, sesungguhnya adalah saudara. Mereka dilahirkan dari satu bapak, yakni Nabi Adam Alaihissalam (AS). Larangan mengorbankan manusia  sebetulnya penegasan kembali tentang luhurnya kemanusiaan di mata islam dan karenanya mesti dijamin hak-haknya.

“Seluruh manusia ibarat satu tubuh yang diciptakan Allah SWT dalam kemuliaan, karena itu membunuh atau menyakiti satu manusia ibarat membunuh atau menyakiti manusia secara keseluruhan,” katanya.

Pelajaran ketiga yang bisa dipetik adalah tentang hakikat pengorbanan. Sedekah daging hewan kurban hanyalah simbol dari makna  korban yang sejatinya sangat luas, meliputi pengorbanan wujud harta, benda, tenaga, pikiran, waktu dan lain sebagainya.

“Pengorbanan merupakan manifestasi dari kesadaran manusia sebagai makhluk sosial. Bayangkan, bila masing-masing manusia sekadar memenuhi ego dan kebutuhan sendiri tanpa peduli dengan kebutuhan orang lain, alangkah kacaunya kehidupan ini,” ujar  Habib Idrus.

Setiap manusia mesti mengorbankan sedikit waktunya, misalnya untuk mengantre dalam sebuah loket penjualan tiket, bersedia menghentikan sejenak kendaraannya saat lampu lalu lintas menyala  merah.

“Keserakahan hanya layak milik para binatang. Di sinilah perlunya kita menyembelih ego kebinatangan kita untuk menggapai kedekatan (qurb) kepada Allah SWT, karena esensi kurban adalah solidaritas sesama dan ketulusan murni untuk mengharap keridaan Allah SWT,” tutup Habib Idrus.  (asi)

Baca Juga:

Memberi dan Menikmati

hamim

Taman Buah Mekar Sari, Pusat Pelestarian Buah-Buahan Terbesar Di Dunia

Anjar Asmoro Heryanto

Ini Cara Khatam 30 Juz di Masjid At-Tin

hamim

Leave a Comment