Pospapua.com
BI layani penukaran uang lusuh, (ilustrasi: istimewa)
Ekonomi

135 Lembar Uang Palsu Beredar di Sulut, Pelaku Bidik Pedagang

Oleh: Ronald Ginting |

Pospapua.com, Manado – Sebanyak 135 lembar uang palsu beredar di Sulawesi Utara, sejak Januari hingga Agustus 2019.  Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) menyebut uang palsu itu didominasi berasal dari Kota Manado.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Arbonas Hutabarat mengungkapkan, dari 135 lembar uang palsu yang beredar di wilayah Sulut, sebanyak 118 lembar berasal dari Kota Manado.

Biasanya pengedar uang palsu menyasar kalangan masyarakat menengah ke bawah. Para pelaku membidik pasar orang dengan berpendidikan rendah dan menjalankan usaha yang membutuhkan transaksi cepat.

Dia merincikan, 73 persen atau sebanyak 99 lembar temuan uang palsu hingga Agustus 2019 berasal dari verifikasi perbankan. Selanjutnya, 9 persen atau 12 lembar berasal dari laporan masyarakat yang datang langsung ke Bank Indonesia (BI).

Dari sisi pecahan, BI Sulut melaporkan bahwa 58 persen atau 78 lembar uang palsu tersebut berbentuk pecahan nominal Rp100.000. Sisanya, 41 persen atau 56 lembar berbentuk pecahan nominal Rp50.000 dan hanya 1 lembar yang berbentuk pecahan nominal Rp20.000.

“Ini tidak boleh tidak diwaspadai karena faktanya sudah ada barangnya,” jelasnya di sela-sela Sosialisasi Bank Indonesia Counterfeit Analysis Center dan Ciri-Ciri Keaslian Uang Rupiah di Manado, Sabtu (21/9).

Lewat kegiatan sosialisasi tersebut, Arbonas menegaskan ingin melakukan penyegaran kembali pemahaman mengenai keaslian mata uang rupiah. Forum tersebut juga menjadi wadah bagi para peserta yang berasal dari kalangan perbankan untuk mendiskusikan temuan terbaru serta berbagi pengalaman.

“Dengan adanya sosialisasi ini, perbankan akan terbantu untuk menyegarkan kembali apa yang perlu mereka lakukan untuk membantu BI mengurangi atau memberantas pemalsuan uang,” jelasnya.

Arbonas mengungkapkan sudah melakukan 24 kali kegiatan sosialisasi ciri keaslian mata uang rupiah. Adapun, sebanyak 10 kali dilakukan di Kota Manado dan 14 kali tersebar di beberapa kabupaten.

“Peredaran uang palsu sangat merugikan dari sisi ekonomi. Peredaran uang palsu 10 persen dari total uang asli misalnya, akan menambah jumlah uang beredar yang statistiknya tidak dimiliki oleh bank sentral sehingga berpotensi menimbulkan inflasi di masyarakat,” katanya. (Aza/Ttg/Asi/INI Network)

Baca Juga:

Menkeu: Rp 1.786 Triliun Target Pajak yang Berat

hamim

Tol Bisa Gratis, Ini Syarat dari BPJT

hamim

Kisruh RS dan BPJS Kesehatan Makin Meluas

Firman

Leave a Comment